Limfedema

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Limfedema

Limfedema atau penyakit obstruksi limfatik merupakan suatu kondisi ketika terdapat sumbatan pada sistem limfatik tubuh. Sistem limfatik tubuh terdiri dari kelenjar getah bening dan pembuluh yang mengalirkan cairan limfatik dari jaringan tubuh. Kelenjar getah bening tersebar di seluruh tubuh, mulai dari leher, ketiak, hingga lipatan paha. Fungsi kelenjar ini adalah untuk menghasilkan sel darah yang berguna untuk membantu melawan infeksi. Jika terdapat sumbatan pada kelenjar getah bening, maka hal ini dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan jaringan tubuh, seperti pada tangan dan kaki. Kondisi ini yang disebut sebagai limfedema.

 

Gejala Limfedema

Gejala limfedema pada tahap awal sering tidak disadari oleh pengidap. Seiring dengan perkembangan penyakit, terdapat beberapa gejala yang umumnya dialami oleh pengidap limfedema, antara lain:

  • Pembengkakan pada lengan atau tungkai, termasuk pergelangan dan jari.
  • Nyeri pada bagian yang bengkak atau terluka.
  • Kesulitan bergerak.
  • Merasa berat atau kaku.
  • Mudah merasa lelah.
  • Mengalami infeksi berulang kali.
  • Demam disertai meriang.
  • Memar pada bagian yang terinfeksi.
  • Pengerasan dan penebalan kulit (fibrosis).
  • Infeksi pada kulit (selulitis).
  • Peradangan pada kelenjar limfe.
  • Terbentuk luka borok (ulserasi) dan retakan-retakan (fissuring) pada kulit.

 

Penyebab Limfedema

Limfedema dapat terjadi baik secara primer atau sekunder. Penyebabnya, antara lain:

  • Limfedema primer, yaitu suatu kondisi yang lebih jarang ditemukan, yang terjadi jika pengidap lahir dengan kondisi sumbatan pada sistem limfatik. Kondisi ini umumnya dialami orang yang berusia di bawah 20 tahun. Penyebabnya adalah kelainan genetik, seperti penyakit Milroy dan penyakit Meige.
  • Limfedema sekunder, yaitu suatu kondisi yang umumnya merupakan komplikasi dari pengobatan penyakit kanker, seperti mastektomi (pengangkatan payudara) dan radioterapi. Penyebab lain dari limfedema sekunder, antara lain akibat pertumbuhan tumor, penyakit infeksi (Streptococcus, Filariasis), atau cedera yang diakibatkan oleh suatu trauma.

 

Faktor Risiko Limfedema

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami limfedema, antara lain:

  • Orang yang berusia lanjut.
  • Menjalani pengobatan untuk kanker.
  • Mengidap rheumatoid arthritis atau psoriasis.
  • Memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.

 

Diagnosis Limfedema

Dokter akan mendiagnosis limfedema dengan melakukan wawancara medis lengkap, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Selanjutnya, dokter akan meminta untuk dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • CT scan dan MRI, untuk memeriksa hambatan yang terjadi pada sistem limfatik serta kondisi struktur tulang.
  • Ultrasonografi, untuk menilai kelancaran aliran darah dan tekanannya, dengan memanfaatkan gelombang suara.
  • Lymphoscintigraphy, untuk mengetahui adanya hambatan pada kelenjar getah bening, dengan cara menyuntikkan cairan radioaktif dan memantau alirannya melalui mesin pemindaian.

 

Pencegahan Limfedema

Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi untuk mengidap limfedema, antara lain:

  • Menggerakan kaki atau lengan secara ringan, bagi mereka yang baru menjalani operasi pengangkatan kelenjar getah bening selama 4 hingga 6 bulan.
  • Menggunakan air hangat untuk membasuh atau membersihkan kulit.
  • Menggunakan tabir surya saat keluar rumah agar terhindar dari paparan sinar matahari yang berlebihan.
  • Menghindari berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
  • Menghindari mengompres kulit dengan air panas atau es.
  • Menghindari penggunaan pakaian yang ketat, termasuk penggunaan manset tensimeter pada bagian lengan yang terluka.
  • Mengistirahatkan kaki atau lengan saat masa pemulihan, dengan menaikkan kaki atau lengan melebihi posisi jantung menggunakan alas bantal yang lembut.
  • Menjaga kebersihan, agar infeksi dari luar tidak memperparah bagian yang mengalami masalah.
  • Menjaga lengan atau tungkai dari luka atau infeksi, dengan menghindari benda tajam dan menutup bagian yang terinfeksi dengan kain.

 

Pengobatan Limfedema

Pilihan pengobatan limfedema adalah melalui beberapa terapi, pemberian obat-obatan, dan prosedur operasi.

  1. Terapi. Beberapa terapi yang umumnya dianjurkan untuk mengatasi limfedema, antara lain:
  • Melakukan olahraga ringan untuk melenturkan otot yang bermasalah dan membantu drainase cairan limfa yang menumpuk.
  • Menggunakan compression garments, yaitu pakaian khusus atau stoking yang menekan lengan atau kaki yang bermasalah agar cairan limfa dapat keluar.
  • Menggunakan pneumatic compression, yaitu alat khusus yang dililitkan pada lengan dan tungkai, yang dapat memompa dan memberi tekanan secara berkala, untuk membantu mengalirkan kembali cairan limfe yang tertimbun di jari-jari tangan dan kaki.
  • Mengikat lengan atau tungkai dengan ikatan terkuat pada bagian jari dan sedikit longgar saat mencapai lengan atau tungkai, agar cairan limfe mengalir kembali ke batang tubuh.
  • Meninggikan kaki atau lengan yang bermasalah dengan cara meletakkannya di atas alas bantal atau melebihi posisi jantung, untuk meredakan nyeri atau gejala yang dialami. Penekanan berlebihan pada bagian ketiak dan lipat paha harus dihindari, agar tidak memperparah pembengkakan yang telah ada.
  • Complete Decongestive Therapy, yaitu metode yang mengkombinasikan sejumlah terapi dengan perbaikan pola hidup. Terapi ini tidak dianjurkan bagi penderita infeksi akut, hipertensi, pembekuan darah, gagal jantung, kelumpuhan, atau diabetes.
  • Manual lymph drainage, yaitu teknik pijat manual yang dilakukan untuk melancarkan aliran cairan limfe dan mengeluarkan zat beracun dari jaringan yang bermasalah, yang harus dilakukan oleh tenaga medis profesional. Terapi ini tidak dianjurkan bagi pengidap kelainan pembekuan darah atau infeksi kulit.

 

  1. Pemberian obat-obatan. Pemberian obat-obatan pada kasus limfedema harus berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Misalnya, jika terdapat infeksi di kulit atau di jaringan lain yang mengalami gangguan limfedema, obat golongan antibiotik umumnya diberikan untuk menekan potensi bakteri menyebar ke pembuluh darah. Jika limfedema disebabkan oleh penyakit kaki gajah atau filariasis, dokter akan memberikan obat seperti diethyl carbamazine agar infeksi tidak menyebabkan komplikasi lebih lanjut. Pemberian obat-obatan lain untuk mendukung kesembuhan juga dapat dilakukan, seperti benzopyrone, obat senyawa retinoid, hingga obat topikal untuk kulit, untuk meredakan gejala yang dialami pengidap. Upaya pengobatan ini harus didukung dengan diet dan pola hidup yang sehat.
  2. Prosedur operasi. Prosedur operasi dapat dipertimbangkan pada kasus limfedema yang parah. Tindakan ini dilakukan untuk mengeluarkan kelebihan cairan atau mengangkat jaringan. Namun demikian, prosedur operasi hanya dapat mengurangi gejala yang dirasakan pengidap dan tidak dapat memulihkan limfedema secara total.

 

Kapan harus ke Dokter?

Jika sedang menjalani pengobatan kanker, segera berkonsultasi dengan dokter jika merasakan gejala kaki atau lengan membengkak, memerah, merasa panas, dan nyeri, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit sesuai domisilimu di sini.