Mononukleosis

Pengertian Mononukleosis

Mononukleosis adalah penyakit infeksi yang dikenal dengan sebutan “the kissing disease”. Hal tersebut terjadi karena penyebaran virus infeksi yang ditularkan melalui air liur, atau droplet yang keluar saat bersin dan batuk. Virus tersebut dapat ditularkan melalui cairan tubuh lainnya seperti darah dan semen. Namun, jarang seseorang terjangkit mononukleosis akibat transfusi darah atau kontak seksual.

Umumnya, infeksi mononukleosis bukan sebuah infeksi yang serius, namun pada beberapa kasus menimbulkan komplikasi yang menyebabkan fase penyembuhan menjadi lebih panjang.

 

Gejala Mononukleosis

Gejala yang dialami hampir sama dengan gejala flu pada umumnya, yaitu demam, rasa menggigil, nyeri otot dan sendi, lemas, mudah lelah, tidak nafsu makan, nyeri tenggorok, pembesaran kelenjar getah bening yang terasa nyeri, pembesaran amandel (tonsil), dan nyeri kepala. Selain itu, dapat pula disertai dengan ruam berupa bintik merah dan pembesaran hati serta limpa. Jika pembesaran hati dan limpa terjadi, dapat pula muncul jaundice yaitu perubahan kulit menjadi kuning.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Mononukleosis

Penyebab utama terjadinya infeksi mononukleosis adalah virus Epstein-Barr. Tidak semua orang yang terinfeksi virus ini terjangkit penyakit tersebut. Semua itu tergantung kepada daya tahan tubuh masing-masing.

 

Faktor risiko dari penyakit ini adalah para tenaga kesehatan yang seringkali terpapar dengan pasien yang terinfeksi. Selain itu, mereka yang memiliki sistem imun yang rendah juga rentan terinfeksi virus penyebab mononukleosis, seperti pada pasien HIV, pasien yang menjalani kemoterapi, pasien yang mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, dan lain-lain.

 

Diagnosis Mononukleosis

Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda dan gejala seperti pembesaran amandel, ruam pada kulit, pembesaran kelenjar getah bening, serta pembesaran hati atau limpa. Pemeriksaan penunjang yang dapat diperiksakan adalah tes darah lengkap yang meliputi perhitungan jumlah sel darah putih dan hitung jenis, serta pemeriksaan antibodi (tes monospot) yang dapat mendeteksi adanya antibodi terhadap virus Epstein-Barr.

 

Penanganan Mononukleosis

Tidak ada terapi spesifik yang digunakan khusus untuk menyembuhkan mononukleosis. Penggunaan antibiotik tidak memiliki peranan karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus.

Pada beberapa kasus, infeksi mononukleosis dapat disertai infeksi bakteri sekunder sehingga dibutuhkan terapi antibiotik. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan dengan beristirahat cukup, memperbanyak konsumsi cairan, berkumur dengan air hangat dan garam, mengonsumsi makanan bergizi, dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti obat penurun demam serta analgesik.

 

Pencegahan Mononukleosis

Pencegahan terbaik untuk menghindari penyakit mononukleosis adalah tidak berciuman atau menggunakan gelas dan alat makan yang sama dengan pasien yang sedang terinfeksi. Pasien yang terinfeksi sebaiknya menggunakan masker untuk mencegah terjadinya penularan. Berolahraga rutin dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Waspada jika kamu mengalami gejala flu yang dibarengi dengan ruam kemerahan atau kulit berubah menjadi kuning, karena hal tersebut dapat menjadi gejala mononukleosis. Segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.