Mononukleosis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Mononukleosis

Mononukleosis adalah penyakit infeksi yang dikenal dengan sebutan “the kissing disease”. Hal tersebut terjadi karena penyebaran virus infeksi yang ditularkan melalui air liur, atau droplet yang keluar saat bersin dan batuk. Virus tersebut dapat ditularkan melalui cairan tubuh lainnya seperti darah dan semen. Namun, jarang seseorang terjangkit mononukleosis akibat transfusi darah atau kontak seksual.

Umumnya, infeksi mononukleosis bukan sebuah infeksi yang serius. Namun, pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang menyebabkan fase penyembuhan menjadi lebih panjang.

 

Faktor Risiko Mononukleosis

Mereka yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit ini adalah para tenaga kesehatan yang sering kali terpapar dengan pasien yang terinfeksi. Selain itu, mereka yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang lemah juga sangat rentan terinfeksi virus penyebab mononukleosis, seperti pada pasien HIV, pasien yang menjalani kemoterapi, pasien yang mendapat terapi kortikosteroid jangka panjang, dan lain-lain.

Baca juga: Waspada, Mononukleosis pada Bayi Bisa Tertular Karena Ciuman

 

Penyebab dan Mononukleosis

Penyebab utama penyakit ini adalah virus Epstein-Barr (EBV). Penyebaran virus ini bisa terjadi melalui kontak langsung dengan air liur atau cairan tubuh lainnya, seperti darah atau sperma, dari mereka yang terinfeksi. Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko penyebaran virus EBV antara lain:

  • Berciuman

  • Berbagi sikat gigi

  • Berbagi peralatan makan atau minum tanpa mencucinya terlebih dahulu

  • Batuk dan bersin

  • Hubungan seksual.

  • Transplantasi organ.

Saat air liur orang yang terinfeksi virus EBV masuk ke dalam tubuh manusia, virus ini kemudian mulai menginfeksi sel di permukaan dinding tenggorokan. Tubuh secara alami akan mengeluarkan sel darah putih, yaitu limfosit B, untuk melawan infeksi tersebut. Sel limfosit B yang berisi virus EBV ini kemudian akan ditangkap oleh sistem kelenjar getah bening yang tersebar di berbagai bagian tubuh. Alhasil, virus akan tersebar luas di dalam tubuh manusia.

 

Gejala Mononukleosis

Gejala yang dialami hampir sama dengan gejala flu pada umumnya, yaitu demam, rasa menggigil, nyeri otot dan sendi, lemas, mudah lelah, tidak nafsu makan, nyeri tenggorok, pembesaran kelenjar getah bening yang terasa nyeri, pembesaran amandel (tonsil), dan nyeri kepala. Selain itu, dapat pula disertai dengan ruam berupa bintik merah dan pembesaran hati serta limpa. Jika pembesaran hati dan limpa terjadi, dapat pula muncul jaundice yaitu perubahan kulit menjadi kuning.

Baca juga: Gejala Mirip Seperti Flu, Waspada Bahaya dari Mononukleosis

 

Diagnosis Mononukleosis

Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda dan gejala seperti pembesaran amandel, ruam pada kulit, pembesaran kelenjar getah bening, serta pembesaran hati atau limpa. Pemeriksaan penunjang yang dapat diperiksakan adalah tes darah lengkap yang meliputi perhitungan jumlah sel darah putih dan hitung jenis, serta pemeriksaan antibodi (tes monospot) yang dapat mendeteksi adanya antibodi terhadap virus Epstein-Barr.

 

Pengobatan Mononukleosis

Tidak ada terapi spesifik yang digunakan khusus untuk menyembuhkan mononukleosis. Penggunaan antibiotik tidak memiliki peranan karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus.

Pada beberapa kasus, infeksi mononukleosis dapat disertai infeksi bakteri sekunder sehingga dibutuhkan terapi antibiotik. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan beristirahat cukup, memperbanyak konsumsi cairan, berkumur dengan air hangat dan garam, mengonsumsi makanan bergizi, dan pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala seperti obat penurun demam serta obat pereda nyeri.

 

Pencegahan Mononukleosis

Pencegahan terbaik untuk menghindari penyakit mononukleosis adalah tidak berciuman atau menggunakan gelas dan alat makan yang sama dengan pasien yang sedang terinfeksi. Pasien yang terinfeksi sebaiknya menggunakan masker untuk mencegah terjadinya penularan. Berolahraga rutin dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

Baca juga: Penanganan Pertama Saat Terinfeksi Mononukleosis

 

Kapan Harus ke Dokter?

Waspada jika kamu mengalami gejala flu yang dibarengi dengan ruam kemerahan atau kulit berubah menjadi kuning, karena hal tersebut dapat menjadi gejala mononukleosis. Segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. 

 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Infectious Mononucleosis.
Verywell Health. Diakses pada 2019. An Overview of Mononucleosis.
Web MD. Diakses pada 2019. What is Mononucleosis? What Causes It?

Diperbarui pada 22 November 2019