• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Obstructive Sleep Apnea (OSA)
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
obstructive sleep apnea obstructive sleep apnea 

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur. OSA ditandai dengan adanya obstruksi jalan napas yang menyebabkan napas berhenti sesaat, baik secara total maupun parsial. Akibatnya, pengidap akan kekurangan oksigen dan berkali-kali terjaga, bahkan terbangun karena merasa tercekik.

Pernapasan pengidap gangguan ini bisa terhenti beberapa kali selama tidur. Gejala khas dari obstructive sleep apnea adalah mengorok saat tidur. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan pengidapnya tetap merasa mengantuk dan lelah meskipun sudah tidur lama. Kondisi ini bisa sangat berbahaya, sebab kurangnya oksigen dan muncul keluhan sesak napas saat tidur. 

Penyebab Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive sleep apnea terjadi saat otot di belakang tenggorokan terlalu rileks, sehingga jalan napas akan menyempit atau menutup. Saat terjadi pemblokiran udara sebagian atau sepenuhnya, otomatis kadar oksigen dalam darah akan menurun dikarenakan napas berhenti selama kira-kira 10-20 detik. Kurangnya oksigen menyebabkan otak menjadi panik dan membangunkan tubuh untuk bernapas kembali.

Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya OSA, yaitu :

  • Distribusi lemak di perut
  • Jenis kelamin, OSA paling sering dialami oleh laki-laki.
  • Umur, seiring bertambahnya usia, semakin besar juga risiko mengalami OSA.
  • Post menopause.
  • Pecandu alkohol.
  • Pengguna obat-obat penenang.
  • Tidur telentang.
  • Perokok.

Gejala Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Gejala khas dari kondisi ini adalah mengorok saat tidur. Selain itu, ada beberapa gejala OSA yang juga bisa dikenali, antara lain:

  • Mulut terasa kering saat terbangun.
  • Konsentrasi terganggu.
  • Depresi.
  • Hipertensi.
  • Daya ingat menurun.
  • Mengantuk.
  • Kepribadian berubah.
  • Sakit kepala di siang hari.

Diagnosis Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Untuk mendiagnosis pengidap dengan OSA, dokter akan menanyakan keluhan-keluhan yang pengidap sering rasakan saat tidur, pola tidurnya, dan beberapa gejala seperti di atas. Dokter juga akan menanyakan kepada pasangannya tentang dengkuran yang sering dialami pengidap. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan faktor risiko OSA.

Cara mendiagnosis OSA adalah dengan melakukan PSG (polisomnografi). PSG merupakan uji diagnostik untuk memeriksa gangguan tidur yang dilakukan pada malam hari di laboratorium tidur yang dirancang sedemikian rupa. Pemeriksaan PSG meliputi beberapa komponen yang nantinya bertujuan menghitung berapa jumlah total apnea ditambah hypopnea setiap jam selama tidur.

Komplikasi Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, sebab bisa memicu terjadinya komplikasi serius. Ada beberapa komplikasi yang bisa muncul akibat obstructive sleep apnea, antara lain: 

  • Kelelahan di siang hari.
  • Masalah kardiovaskular.
  • Komplikasi dari obat-obatan dan pembedahan.
  • Masalah mata.
  • Pasangan yang kurang tidur.

Pengobatan Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Pilihan pengobatan untuk mengatasi OSA terdiri dari terapi bedah dan non bedah. Terapi non bedah yang paling efektif untuk menurunkan gejala mendengkur adalah dengan menggunakan continuous positive pressure (CPAP). Namun, CPAP memiliki kelemahan yaitu terasa tidak nyaman saat dipakai karena hembusan udara bertekanan maupun akibat masker yang digunakan. Selain itu, terdapat juga efek samping berupa claustrophobia, sakit kepala, rhinitis, iritasi wajah dan hidung serta aerofagia.

Selain CPAP, ada juga terapi Bi-level PAPA yang membantu mengalirkan tekanan saat kamu menarik napas dan saat menghembuskan napas. Bedanya adalah pengidap bernapas dengan spontan. Keuntungan terapi ini adalah dapat mengurangi kerja pernapasan. Namun sayangnya, terapi ini tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai terapi awal pengobatan OSA.

Sedangkan pilihan terapi bedah dapat dipertimbangkan hanya jika terapi non bedah tidak memberikan hasil yang efektif. Pilihan terapi bedah untuk mengobati OSA, antara lain operasi pengangkatan jaringan, stimulasi jalan nafas atas, penanaman generator impuls kecil, operasi rahang, dan implan.

Selain itu, obstructive sleep apnea juga bisa diatasi dengan mengubah gaya hidup yang tidak sehat, antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal.
  • Mengurangi konsumsi alkohol.
  • Tidur dengan posisi miring.
  • Menghindari konsumsi obat penenang, nikotin dan kafein pada malam hari. Perbaiki juga kekuatan otot pernapasan bagian atas dan mekanisme pernapasan sentral.

Lagi-lagi, cara yang paling efektif untuk mencegah OSA adalah dengan memperbaiki gaya hidup seperti :

  • Kurangilah berat badan jika kamu kelebihan berat badan.
  • Berolahragalah dengan teratur.
  • Konsumsi alkohol secukupnya atau tidak sama sekali, dan jangan minum beberapa jam sebelum tidur.
  • Berhentilah merokok.
  • Jangan tidur telentang. Sebaiknya kamu tidur dalam posisi miring (menghadap ke kanan atau ke kiri).

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gangguan pernapasan saat tidur, serta terbangun dengan mulut kering dan mengalami depresi, mungkin itu tanda obstructive sleep apnea (OSA). Untuk memastikannya dan menghindari risiko komplikasi, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Gunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji medis di rumah sakit terdekat. Download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Obstructive sleep apnea – Symptoms and causes.
WebMD. Diakses pada 2022. Obstructive Sleep Apnea Explained.
National Sleep Foundation. Diakses pada 2022. Sleep Disorders. Sleep Apnea.
Diperbarui pada 14 Juni 2022.