Parestesia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Parestesia

Parestesia adalah kondisi timbulnya sensasi pada kulit yang abnormal seperti kesemutan, gatal atau mati rasa, tanpa penyebab yang jelas. Kondisi ini bisa terjadi hanya sementara atau dalam jangka waktu yang lama (kronis).

Parestesia dapat bersifat sementara (temporer) atau bersifat kronis. Hampir setiap orang pernah mengalami parestesia temporer. Sensasi ini muncul ketika saraf tertekan secara tidak sengaja pada posisi tubuh tertentu, seperti duduk bersila terlalu lama atau tidur dengan kepala menindih tangan. Parestesia temporer akan hilang dengan sendirinya ketika tekanan pada saraf dihilangkan. Namun, jika rasa kesemutan tetap ada meskipun tekanan sudah dihilangkan, maka kemungkinan ada penyakit atau gangguan lain dalam tubuh yang menjadi penyebabnya.

Parestesia yang bersifat kronis seringkali merupakan gejala dari suatu penyakit saraf atau disebabkan oleh trauma pada jaringan saraf. Berbagai macam penyakit dapat menyebabkan parestesia kronis termasuk kekurangan vitamin, gangguan pada saraf akibat gerakan yang berulang atau penyakit lain. Parestesia kronis membutuhkan pengobatan dan penanganan untuk sembuh. Namun, terkadang parestesia kronis tidak bisa benar-benar sembuh bahkan setelah menjalani pengobatan sekalipun.

 

Gejala Parestesia

Gejala parestesia yang umumnya dikeluhkan oleh pengidapnya, antara lain:

  • Mati rasa.
  • Lemah.
  • Geli.
  • Terbakar.
  • Dingin.
  • Kesemutan.
  • Nyeri menusuk pada anggota badan terutama pada kaki yang dapat menyebabkan sulit berjalan (hal ini biasanya terjadi dalam kasus parestesia kronis).
  • Anggota badan terasa lemas.

 

Faktor Risiko Parestesia

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena parestesia (kesemutan) adalah:

  • Melakukan gerakan yang menekan urat saraf secara berulang, misalnya mengetik, memainkan alat musik, atau bermain tenis.
  • Mengidap diabetes tipe 1 atau tipe 2.
  • Memiliki penyakit autoimun.
  • Memiliki penyakit saraf, seperti multiple sklerosis.
  • Punya kebiasaan minum alkohol dan pola makan yang tidak seimbang, sehingga menyebabkan kekurangan vitamin. Terutama vitamin B-12 dan asam folat.

 

Penyebab Parestesia

Parestesia sementara biasanya disebabkan oleh penekanan pada saraf atau kurangnya peredaran darah secara sementara.

Penyebab parestesia kronis dapat disebabkan oleh:

  • Radikulopati (akar saraf tertekan atau teriritasi atau meradang) pada:
  • hernia nukleus pulposus atau herniated disk.
  • tumor yang menekan saraf pada tulang belakang.
  • penekanan pada saraf skiatik.
  • Neuropati (kerusakan saraf kronis) pada:
  • kadar gula darah tinggi atau hiperglikemia.
  • trauma.
  • kecelakaan karena gerakan berulang-ulang.
  • Kekurangan atau defisiensi vitamin B1, B6, B12, E atau niasin.
  • Penyakit autoimun (rheumatoid arthritis), saraf (multiple sclerosis), ginjal, hati
  • Stroke.
  • Tumor pada otak.
  • Kelainan sumsum tulang belakang.
  • Hipotiroid.
  • Terlalu banyak vitamin D.
  • Terinfeksi virus seperti HIV.
  • Pengobatan tertentu seperti kemoterapi.
  • Paparan terhadap zat beracun seperti logam berat.

 

Diagnosis Parestesia

Untuk menentukan diagnosis parestesia, dokter perlu mengetahui riwayat medis dan gejala yang dialami pengidap. Riwayat medis penting untuk mencari tahu kemungkinan penyebab dari parestesia. Selain itu, dokter juga perlu tahu tentang riwayat aktivitas atau pekerjaan yang pernah kamu lakukan  untuk mengetahui adanya praktek gerakan berulang.

Pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan saraf juga penting untuk mencari tahu kemungkinan penyebab. Pemeriksaan penunjang seperti tes darah dan laboratorium lainnya (misalnya tes cairan tulang belakang) diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit tertentu.

Pemeriksaan radiologi, seperti sinar X, CT-scan atau MRI juga diperlukan untuk memeriksa leher dan tulang belakang kamu.

 

Pengobatan Parestesia dan Efek Sampingnya

Pengobatan parestesia (kesemutan) tergantung pada penyebabnya. Jika parestesia merupakan gejala dari penyakit tertentu, maka pengobatan dilakukan dengan menangani penyakit yang menjadi penyebab parestesia.

Pada kasus parestesia kronis, gejala parestesia tidak bisa hilang dengan sendirinya. Atau apabila hilang, gejala akan segera muncul kembali. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mencari tahu penyebab utamanya.

Untuk meredakan gejala parestesia kronis yang sudah terjadi selama lebih dari dua bulan, berikut langkah pengobatan yang bisa dilakukan:

  • Injeksi kortikosteroid. Kortikosteroid bermanfaat untuk mengurangi peradangan pada organ dan menghilangkan rasa nyeri secara sementara. Efek samping dari suntik kortikosteroid adalah terjadi infeksi sendi, kerusakan urat saraf, nyeri, dan pemutihan pada kulit di sekitar daerah injeksi.
  • Antidepresan trisiklik. Obat jenis ini dapat menurunkan rasa sakit. Efek samping yang mungkin terjadi adalah mengantuk, mulut kering, dan gangguan aktivitas seksual.
  • Gabapentin, fenitoin, atau pregabalin. Obat jenis anti kejang ini dapat menurunkan gejala parestesia. Efek samping yang mungkin terjadi adalah sembelit, mual, pusing, dan mengantuk.
  • Pembedahan. Pembedahan dilakukan untuk menghilangkan kompresi pada urat saraf yang menyebabkan parestesia menjadi parah dan berlangsung lama. Namun, metode ini jarang dilakukan.

 

Pencegahan Parestesia

Parestesia (kesemutan) tidak selalu bisa dicegah, namun frekuensi kemunculannya dapat dikurangi. Berikut ini sejumlah cara yang bisa dilakukan guna mencegah parestesia:

  • Hindari gerakan berulang yang dapat menekan saraf.
  • Istirahat secara berkala jika sering melakukan gerakan secara berulang.
  • Bangun dan bergerak ke sekeliling secara berkala jika sudah duduk dalam waktu yang cukup lama.

Jika kamu mengidap diabetes atau penyakit kronis lain, pemantauan dan manajemen penyakit dapat menurunkan risiko terjadinya parestesia kronis.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bila kamu masih memiliki pertanyaan seputar parestesia, jangan ragu untuk menanyakannya ke dokter. Penanganan yang cepat dan tepat akan menghindari kamu dari komplikasi berbahaya. Kamu bisa memilih dokter yang sesuai dengan kebutuhan kamu, di rumah sakit pilihan kamu di sini.