Paronikia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Paronikia

Paronikia merupakan infeksi jaringan yang terjadi pada sekitar kuku jari-jari tangan atau kaki. Infeksi ini bisa berbentuk seperti abses akibat infeksi bakteri atau jamur. Kondisi ini terjadi saat adanya gangguan antara lapisan dari lempeng kuku dan dasar kuku bagian proksimal (menjauhi tubuh).

Paranokia sendiri bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu akut dan kronis. Untuk paronikia akut, biasanya hanya melibatkan infeksi pada satu kuku jari. Sementara itu, paronikia kronis bisa terjadi pada lebih dari satu kuku jari. Kondisi ini bisa terjadi pada waktu yang bersamaan atau berulang.

 

Faktor Risiko Paronikia

Terdapat beberapa faktor risiko yang bisa memicu terjadi paronikia, contohnya:

  • Pekerjaan yang berhubungan atau bersentuhan dengan air, seperti nelayan, pencuci baju atau piring, pemerah susu, atau bartender.

  • Kondisi kuku, terjadinya perkembangan kuman akibat kondisi tertentu. Contohnya mengenakan kuku palsu dalam waktu lama.

  • Luka, bisa menyebabkan masuknya kuman ke lapisan kulit. Contoh kebiasaan yang bisa menimbulkan luka, seperti kebiasaan menggigit kuku, atau teknik manikur yang salah.

Baca juga: Hati-Hati, Perawatan Kuku Bisa Sebabkan Paronikia

 

Penyebab Paronikia

Infeksi akut hampir selalu terjadi di sekitar kuku tangan dan berkembang dengan cepat. Biasanya, hasil dari kerusakan kulit di sekitar kuku yang disebabkan oleh kebiasaan menggigit, memetik kuku, manicure, atau trauma fisik lainnya. Staphylococcus dan Enterococcus merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan paronikia akut.

Untuk paronikia kronis, biasanya menyerang jari-jari tangan atau kaki dan datang peralahan. Kondisi ini bisa berlangsung dalam kurun waktu bberapa minggu, dan umumnya terjadi berulang. Paronikia jenis ini umumnya disebabkan oleh satu penyebab, dan seringnya terjadi pada mereka yang bekerja di air.

Alasannya, kulit basah dalam waktu berlebihan dapat mengganggu lapisan alami kutikula. Ini memungkinkan jamur dan bakteri untuk tumbuh di bawah kulit dan menyebabkan infeksi.

Umumnya, paronikia lebih sering menyerang wanita dewasa dan orang-orang yang mengidap diabetes. Di samping itu, mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, seperti orang yang harus minum obat kortikosteroid setelah transplantasi organ atau orang yang terinfeksi HIV juga rentan mengalami paronikia.

 

Gejala Paronikia

Dalam kebanyakan kasus, gejala dari paronikia akut dan kronis sedikit sulit dibedakan, sebab gejalanya sangat mirip. Namun, gejalanya bisa dibedakan berdasarkan onset dan durasi infeksi.

Infeksi kronis yang dialami pengidapnya bisa datang secara perlahan, dan terjadi selama beberapa minggu. Sedangkan infeksi akut berkembang dengan cepat dan tidak berlangsung lama. Kedua infeksi dapat memiliki gejala berikut:

  • Kemerahan pada kulit di sekitar kuku.

  • Kelembutan kulit di sekitar kuku.

  • Lepuhan berisi nanah.

  • Perubahan bentuk kuku, warna, atau tekstur.

  • Lepasnya lempeng kuku dari dasar kuku.

Ketika seseorang terserang paronikia, gejala awal yang muncul umumnya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan di sekitar pangkal atau sisi kuku.

Andaikan yang terjadi paronikia akut, biasanya paronikia jenis ini sering menyebabkan kantung berisi nanah (abses). Abses ini bisa terbentuk di samping atau pangkal kuku atau kuku jari kaki.

Sedangkan paronikia kronis bisa saja menyebabkan pecahnya kutikula (lapisan kulit yang berada tepat di pangkal kuku). Kondisi inilah yang bisa berujung terpisahnya lempeng kuku dari dasar kuku.

Hal yang perlu digarisbawahi, paronikia karena bakteri bisa lebih buruk dengan cepat, dibandingkan dengan paronikia yang disebabkan oleh jamur.

Baca juga: Wanita Lebih Rentan Terkena Paronikia, Benarkah?

 

Diagnosis Paronikia

Untuk mendiagnosis paronikia, umumnya dokter akan melihat ada-tidaknya infeksi yang terjadi. Dokter mungkin mengirim sampel nanah dari infeksi ke lab jika perawatan tidak membantu. Hal ini dilakukan untuk menentukan agen penyebab yang tepat, sehingga memungkinkan dokter untuk memberikan perawatan terbaik.

Beberapa studi laboratorium yang bermanfaat antara lain berikut:

  • Pewarnaan Gram dan atau kultur, untuk membantu mengidentifikasi penyebab bakteri paronikia yang fluktuatif.

  • Kalium hidroksida (KOH) 5 persen digunakan untuk mendiagnosis paronikia akibat infeksi candida.

  • Tes tzanck.

 

Komplikasi Paronikia

Paronikia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa memicu berbagai masalah lainnya. Misalnya perubahan permanen pada bentuk kuku, abses, hingga menyebarnya infeksi pada tendon, tulang, atau aliran darah.

 

Pengobatan Paronikia

Untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak akibat paronikia akut, cobalah kompres bagian yang mengalami infeksi menggunakan air hangat. Untuk hasil yang maksimal, lakukan 3 sampai 4 kali dalam sehari.

Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik jika paronikia disebabkan oleh bakteri. Di samping itu, dokter juga mungkin meresepkan obat anti jamur jika infeksi disebabkan oleh jamur.

Namun, bila paronikia menyebabkan abses, penanganannya lain lagi. Di sini dokter akan melakukan drainase, sebuah metode yang umum untuk mengatasi abses. Dokter akan membius area, memisahkan kulit dari pangkal atau sisi kuku, dan mengeluarkan nanah.

Baca juga: Tips Manicure Aman untuk Cegah Kondisi Paronikia

Ada beberapa hal yang mesti diawasi oleh pengidap paronikia kronis. Sebaiknya jagalah kondisi kuku agar tetap kering, dan lindungi dari bahan kimia yang keras. Pengidap mungkin perlu memakai sarung tangan atau menggunakan krim pengering kulit untuk melindungi kulit dari kelembapan.

Mungkin juga diperlukan pemberian obat antijamur atau antibiotik, tergantung pada apa yang menyebabkan infeksi. Dalam beberapa kasus, pemakaian krim steroid atau larutan yang terbuat dari etanol (alkohol) dan tiol (fungisida) diperlukan untuk menjaga kuku tetap bersih dan kering.

 

Pencegahan Paronikia

Terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah paronikia akut, contohnya:

  • Hindari melukai kuku dan ujung jari.

  • Jangan menggigit atau mencabut kuku.

  • Jaga kuku tetap rapi dan halus.

  • Hindari memotong kuku terlalu pendek dan mengikis atau memotong kutikula, karena ini dapat melukai kulit.

  • Gunakan gunting kuku atau gunting kuku yang bersih.

Sementara itu, jagalah tangan tetap kering dan bebas dari bahan kimia unuk mencegah terjadinya paronikia kronis. Gunakan sarung tangan saat bekerja dengan air atau bahan kimia yang keras. Ganti kaus kaki setidaknya setiap hari, dan jangan memakai sepatu yang sama selama dua hari berturut-turut untuk memungkinkan mereka mengering sepenuhnya.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah temui dokter bila mengalami keluhan atau gejala di atas, untuk mendapatkan saran medis dan penanganan yang tepat.

 

Referensi:
Familydoctor.org. Diakses pada 2019. Paronychia.
Healthline. Diakses pada 2019. Paronychia.
NIH. MedlinePlus. Diakses pada 2019. Paronychia.

Diperbarui pada 17 September 2019