Penyakit Katup Jantung

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Pengertian Penyakit Katup Jantung

Penyakit katup jantung adalah kondisi di mana katup jantung tidak berfungsi secara normal. Berdasarkan data Asosiasi Jantung Amerika, sekitar 5 juta orang Amerika Serikat terdiagnosis dengan penyakit katup jantung setiap tahunnya.

Katup jantung berada di pintu keluar dari masing-masing ruang jantung, atrium kanan dengan ventrikel kanan dipisahkan oleh katup tricuspid dan atrium kiri dengan ventrikel kiri dipisahkan oleh katup mitral. Sementara itu, katup aorta memisahkan ventrikel kiri dengan aorta dan katup pulmonal memisahkan ventrikel kanan dengan arteri pulmonal. Keempat katup ini memastikan agar darah mengalir ke arah yang seharusnya dan tidak ada yang mengalir kembali ke ruang sebelumnya (backflow).

Terdapat dua tipe dari penyakit katup jantung:

  • Stenosis katup

Stenosis katup akan terjadi bila katup jantung tidak terbuka penuh karena lembaran katup yang menjadi kaku dan lengket, sehingga membuat bukaan menjadi sempit dan membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Hal ini dapat menyebabkan gagal jantung.

  • Regurgitasi katup

Regurgitasi katup disebut juga dengan katup bocor, yaitu kondisi ketika katup tidak dapat menutup penuh. Semakin besar lubangnya, maka semakin banyak darah yang bocor, sehingga jantung harus bekerja lebih berat untuk memompa darah yang berlebih. Seiring berat, kondisi ini akan mengakibatkan lebih sedikitnya darah yang dapat dipompa ke seluruh tubuh.

Baca juga: Penyakit Katup Jantung Kongenital dan Akuisita, Apa Bedanya?

 

Faktor Risiko Penyakit Katup Jantung

Risiko seseorang bisa mengidap penyakit katup jantung bisa meningkat ketika berada di usia lebih dari 40 tahun. Hal tersebut dikarenakan semakin tua seseorang, maka katup jantung akan menjadi tebal dan kaku. Selain itu, orang yang memiliki riwayat infeksi edokarditis, demam rematik, gagal jantung, atau serangan jantung.

 

Penyebab Penyakit Katup Jantung

Kelainan katup jantung dapat terjadi sebelum kelahiran (kongenital), tetapi bisa juga didapat pada satu titik kehidupan seseorang (akuisita). Beberapa penyakit katup jantung belum diketahui penyebabnya.

Penyakit Katup Jantung Kongenital

Penyakit katup jantung dengan bentuk kongenital biasanya menyerang katup aorta atau pulmonal. Katup dapat berukuran tidak normal, mengalami malformasi, atau lembar katup yang tidak menempel secara tepat.

Penyakit katup akuisita

Ini termasuk masalah yang berkembang dengan katup yang dulunya normal. Hal tersebut mungkin terkait dengan adanya perubahan struktur atau katup jantung karena beragam penyakit atau infeksi. Contohnya, endokarditis atau demam rematik.

 

Gejala Penyakit Katup Jantung

Gejala penyakit katup jantung meliputi:

  • Sesak napas dan/atau kesulitan menarik napas.

  • Kelemahan atau pusing dan pingsan.

  • Ketidaknyamanan di dada. Mungkin merasakan tekanan atau berat di dada dengan aktivitas atau ketika keluar dengan udara dingin.

  • Palpitasi yang mungkin terasa, seperti irama jantung yang cepat, detak jantung yang tidak teratur, denyutan yang dilewati, atau perasaan tidak nyaman di dada.

  • Pembengkakan pada pergelangan kaki, atau perut.

  • Penambahan berat badan cepat.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit katup jantung tidak selalu berkaitan dengan keseriusan kondisi tubuh. Bahkan, bisa saja gejala sama sekali tidak muncul dan memiliki penyakit katup yang parah dan membutuhkan perawatan yang cepat. Bisa juga seperti prolaps katup mitral yang memungkinkan pengidap memiliki gejala yang nyata, tetapi tes mungkin menunjukkan kebocoran katup tidak signifikan.

 

Diagnosis Penyakit Katup Jantung

Diagnosis penyakit katup jantung dapat dilakukan oleh dokter melalui wawancara dan pemeriksaan fisik serta beberapa pemeriksaan penunjang lainnya.

Tes mungkin termasuk:

  • Echocardiography. Dalam tes ini, gelombang suara yang diarahkan ke jantung dari alat yang mirip tongkat (transduser) yang dipegang di dada menghasilkan gambar-gambar video dari jantung yang sedang bergerak. Tes ini bertujuan untuk menilai struktur jantung, katup jantung dan aliran darah melalui jantung. Dengan echocardiogram, katup jantung dapat dilihat dari dekat, dan dokter bisa mengukur seberapa baik mereka bekerja. Dokter juga dapat menggunakan echocardiogram 3-D.

  • Dokter dapat melakukan jenis echocardiogram lain yang disebut ekokardiogram transesofageal. Dalam tes ini, transduser kecil yang melekat pada ujung tabung dimasukkan ke dalam tabung yang mengarah dari mulut ke perut (esofagus). Tes ini memungkinkan dokter untuk melihat lebih dekat pada katup jantung daripada yang mungkin dengan ekokardiogram reguler.

  • Elektrokardiogram (EKG). Pmeriksaan elektrokardiogram dilakukan dengan kabel (elektroda) yang menempel pada bantalan pada kulit mengukur impuls listrik dari hati. ECG dapat mendeteksi bilik jantung yang diperbesar, penyakit jantung, dan irama jantung yang tidak normal.

  • X-ray dada. Rontgen dada bertujuan untuk membantu dokter menentukan apakah ukuran jantung membesar, yang dapat menunjukkan jenis penyakit katup jantung tertentu. Rontgen dada juga dapat membantu dokter menentukan kondisi paru-paru.

  • Cardiac MRI. MRI jantung menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambar rinci dari hati. Tes ini dapat dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan kondisi dan menilai ukuran dan fungsi dari bilik jantung bawah Anda (ventrikel).

  • Tes latihan atau tes stres. Tes latihan yang berbeda membantu mengukur toleransi aktivitas dan memonitor respon jantung terhadap aktivitas fisik. Sementara pemberian obat yang bisa meniru efek latihan pada jantung akan digunakan, jika pengidap tidak dapat berolahraga.

  • Kateterisasi jantung. Tes ini tidak sering digunakan untuk mendiagnosis penyakit katup jantung, tetapi dapat digunakan jika tes lain tidak dapat mendiagnosis kondisi atau untuk menentukan tingkat keparahannya. Dalam prosedur ini, dokter memasukkan tabung tipis (kateter) melalui pembuluh darah di lengan atau selangkangan ke arteri di jantung dan menyuntikkan pewarna melalui kateter untuk membuat arteri terlihat di X-ray. Ini memberi dokter gambaran rinci tentang arteri jantung dan bagaimana jantung berfungsi. Itu juga bisa mengukur tekanan di dalam ruang jantung.

Baca juga: Jangan Diabaikan, Ini Ciri Anak Idap Penyakit Katup Jantung

 

Pengobatan Penyakit Katup Jantung

Pengobatan dilakukan berdasarkan tingkat keparahan gejala, bervariasi dari obat-obatan sampai tindakan surgikal. Obat-obatan ini bertujuan untuk meredakan gejala dan menurunkan risiko memburuknya kerusakan katup. Obat-obatan tersebut, antara lain:

  • Diuretic (Furosemide);

  • Obat anti-arrhythmic (Digoxin);

  • Vasodilator (Nifedipin);

  • Beta blocker (Atenolol); dan

  • Antikoagulan (Fondaparinux)

Tindakan operatif termasuk koreksi atau penggantian katup (valvotomy).

 

Pencegahan Penyakit Katup Jantung

Pencegahan penyakit katup jantung yang disebabkan oleh demam rematik, bisa dilakukan dengan menemui dokter jika memiliki indikasi atau tanda infeksi radang. Tanda-tanda ini termasuk sakit tenggorokan, demam dan bintik-bintik putih pada amandel. Jika infeksi streptokokus terjadi, pastikan untuk mengambil semua obat yang diresepkan untuk mengobati gejala yang timbul. Kerusakan katup jantung yang disebabkan oleh demam rematik juga dapat dicegah dengan pengobatan segera infeksi streptokokus.

Sementara ada kemungkinan bahwa pencegahan stenosis aorta bisa dilakukan dengan diet jantung sehat, rajin olahraga, dan obat-obatan yang bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol. Para peneliti terus mempelajari kemungkinan ini.

Melakukan beragam aktivitas fisik, makan sehat, dan mengubah gaya hidup jantung sehat, dan obat-obatan yang ditujukan untuk mencegah serangan jantung, tekanan darah tinggi, atau gagal jantung juga dapat membantu mencegah penyakit katup jantung.

Baca juga: Bukan Hanya Gagal Jantung, Ini 4 Komplikasi dari Penyakit Katup Jantung

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika cara pengobatan dan pencegahan di atas tidak berhasil, kamu bisa langsung memeriksaan diri ke dokter yang kamu butuhkan di rumah sakit pilihan kamu melalui Halodoc.

 

Referensi:

Nhlbi.nih.gov. Diakses pada 2019. Heart Valve Disease

 

Diperbarui pada 28 Agustus 2019