Retensi Plasenta

Pengertian Retensi Plasenta

Retensi plasenta merupakan plasenta yang tertahan di dalam rahim dalam rentang waktu yang lebih dari 30-60 menit setelah persalinan. Retensi plasenta adalah kondisi yang penting karena merupakan salah satu penyebab pendarahan pasca melahirkan.

Plasenta sendiri adalah organ yang terbentuk di dalam rahim saat masa kehamilan dimulai dan berfungsi sebagai penyedia nutrisi dan oksigen bagi janin, serta menjaga kebersihan darah dari zat yang tidak diperlukan.

Gejala Retensi Plasenta

ejala utama retensi plasenta berlangsung dalam jangka waktu satu jam setelah proses persalinan selesai. Gejala lainnya dari retensi plasenta, juga dapat berupa demam, berkurangnya ASI, keluarnya sebagian jaringan plasenta yang beraroma tidak sedap dan pendarahan yang tak kunjung berhenti.

Komplikasi pada retensi plasenta menyebabkan terjadinya pendarahan secara berkelanjutan. Selain itu, komplikasi lain dapat berupa rahim menjadi tidak dapat menutup dengan sempurna dan menghambat upaya alami tubuh ketika menghentikan pendarahan.

Penyebab Retensi Plasenta

Terdapat 3 jenis retensi plasenta, yaitu:

1. Plasenta Akreta
Kondisi ini terjadi karena plasenta melekat dalam pada dinding rahim, sehingga bisa menyulitkan proses persalinan dan memicu pada pendarahan.

2. Trapped Placenta
Jenis retensi plasenta yang nomer dua ini disebabkan oleh plasenta yang terlepas dari dinding rahim, karena mulai menutupnya serviks di bawah rahim.

3. Adherence Placenta
Placenta adherens disebabkan karena kurangnya kontraksi pada rahim untuk mengeluarkan plasenta hingga membuat plasenta tetap melekat pada dinding rahim.

Selain itu, terdapat beberapa penyebab yang bisa meningkatkan risko pada retensi plasenta, yaitu:

  • Menjalani satu atau dua persalinan yang berkepanjangan.
  • Usia lebih dari 30 tahun.
  • Bayi yang kehilangan nyawa di dalam kandungan.
  • Melahirkan lebih awal, sebelum kehamilan mencapai usia 34 minggu.

Apabila tidak segera ditangani, maka retensi plasenta akan memengaruhi kesehatan ibu, bahkan hingga berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Pengobatan Retensi Plasenta

Penanganan pada retensi plasenta, dapat berupa beberapa prosedur yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta, seperti:

  • Mengeluarkan plasenta dari rahim menggunakan tangan juga dapat dengan bantuan obat bius.
  • Menggunakan obat-obatan yang membuat rahim melakukan kontraksi atau bahkan sebaliknya.
  • Dokter memberikan saran pada pengidap untuk menyusui agar dapat memicu pelepasan hormon yang bisa meningkatkan kontraksi rahim.
  • Buang air untuk mengempiskan kantong kemih sehingga plasenta dari rahim dapat keluar. 

Pencegahan Retensi Plasenta

Mencegah penyakit retensi plasenta dapat dilakukan dengan memberikan obat-obatan atau melakukan prosedur setelah bayi lahir dan sebelum mengeluarkan plasenta dari rahim, berupa:

  • Menggunakan obat dengan kandungan oksitosin agar kontraksi rahim dapat terangsang ketika mengeluarkan plasenta.
  • Melakukan prosedur CCT setelah plasenta terlepas dari rahim.
  • Melakukan pijatan ringan di sekitar area rahim ketika bayi sudah lahir.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika ibu mengalami keluhan selama kehamilan, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.