Retensi Plasenta

Pengertian Retensi Plasenta

Retensi plasenta merupakan kondisi tidak keluarnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah melahirkan bayi. Retensi plasenta adalah komplikasi langka yang hanya mempengaruhi sekitar 2 hingga 3 persen dari semua kelahiran yang terjadi ketika sebagian dari plasenta tertinggal di dalam rahim setelah kelahiran bayi.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Retensi Plasenta

Persalinan terdiri dari fase laten, ketika serviks dilatasi hingga 3 cm; lalu fase aktif, yang berlanjut hingga serviks 10 cm dan saatnya mendorong bayi keluar. Hal ini diikuti pengeluaran plasenta, ketika plasenta dilahirkan selama kontraksi uterus.

Proses ini terjadi dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah persalinan, baik melalui vagina atau melalui bedah caesar. Kadang-kadang, bagian dari plasenta dapat dipertahankan di dalam rahim karena sebagian telah tumbuh melalui otot rahim atau "tertangkap" di dalam sudut rahim saat berkontraksi. Ketika plasenta tidak dapat dikeluarkan secara utuh atau tidak terjadi dalam 30 hingga 60 menit kelahiran bayi, hal ini dikenal retensi plasenta.

Faktor resiko retensi plasenta adalah riwayat operasi caesar sebelumnya, kelahiran prematur di bawah 34 minggu, bayi lahir mati, kelainan uterus, partus lama, dan riwayat retensi plasenta pada persalinan sebelumnya.

 

Gejala Retensi Plasenta

Tanda paling umum dari plasenta yang tertinggal adalah plasenta gagal dilahirkan secara spontan dalam waktu 30 dan 60 menit setelah melahirkan.

ika bagian plasenta belum keluar sempurna beberapa hari atau minggu setelah melahirkan, maka dapat timbul gejala gejala seperti demam, perdarahan berat terus-menerus dengan pembekuan darah, kram dan nyeri, keluar cairan sekret berbau busuk.

 

Diagnosis Retensi Plasenta

Diagnosis awal dapat dicurigai dengan memeriksa kelengkapan plasenta yang telah keluar. Kotiledon plasenta sewaktu lahir harus dihitung secara seksama untuk menghindari tertinggalnya bagian plasenta. Hal ini masih sering luput karena kecilnya dan tidak terlihatnya seluruh bagian yang kecil.

Ketika ini terjadi, seorang wanita akan sering mengalami gejala segera setelah melahirkan. Kemudian dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa ultrasound untuk melihat kondisi rahim dan memastikan apakah ada bagian plasenta yang tertinggal.

 

Penanganan Retensi Plasenta

Tata laksana yang harus dilakukan adalah membuang potongan plasenta yang tersisa di dalam rahim. Segera setelah persalinan, bagian yang tertinggal ini harus diambil secara manual atau menggunakan instrumen untuk membantu. Jika tertunda satu atau dua minggu kemudian, sebaiknya tindakan ekstraksi sisa plasenta menggunakan bantuan ultrasound untuk memandu prosedur.

 

Pencegahan Retensi Plasenta

Beberapa penelitian menyarankan teknik seperti pijat uterus, obat-obatan seperti oksitosin, dan menerapkan tekanan yang dikenal sebagai traksi tali pusat terkontrol ke plasenta dapat membantu mencegah retensi plasenta. Namun, tidak satupun dari ini telah terbukti secara ilmiah untuk secara efektif mencegah retensi plasenta. Hal ini bisa terjadi pada siapapun.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Selalu cek kesehatan selama masa kehamilan dalam waktu yang rutin untuk mencegah retensi plasenta dan demi menjaga kesehatan ibu dan kandungannya.