Retensi Plasenta

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Retensi Plasenta

Retensi plasenta adalah kondisi tidak keluarnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah melahirkan bayi. Retensi plasenta adalah komplikasi langka yang hanya mempengaruhi sekitar 2 hingga 3 persen dari semua kelahiran yang terjadi ketika sebagian dari plasenta tertinggal di dalam rahim setelah kelahiran bayi. Seharusnya retensi plasenta tidak bisa dianggap sepele karena jika dibiarkan, maka bisa saja menimbulkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu yang melahirkan.

Berikut ini berbagai jenis dari retensi plasenta, yaitu:

  • Plasenta adhesiva, yaitu kegagalan mekanisme separasi fisiologis akibat tertanamnya plasenta dalam rahim.

  • Plasenta akreta, yaitu plasenta yang tertanam hingga sebagian lapisan otot rahim.

  • Plasenta inkreta, yaitu plasenta yang tertanam hingga keseluruhan lapisan otot rahim.

  • Plasenta inkarserata, yaitu tertahannya plasenta akibat mulut rahim yang menyempit.

Baca juga: Retensio Plasenta Bahaya atau Tidak?

 

Faktor Risiko Retensi Plasenta

Faktor risiko retensi plasenta adalah riwayat operasi caesar sebelumnya, kelahiran prematur di bawah 34 minggu, bayi lahir mati, kelainan uterus, partus lama, dan riwayat retensi plasenta pada persalinan sebelumnya.

 

Penyebab Retensi Plasenta

Persalinan terdiri dari fase laten, ketika serviks dilatasi hingga 3 sentimeter; lalu fase aktif, yang berlanjut hingga serviks 10 sentimeter dan saatnya mendorong bayi keluar. Hal ini diikuti pengeluaran plasenta, ketika plasenta dilahirkan selama kontraksi uterus.

Proses ini terjadi dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah persalinan, baik melalui vagina maupun melalui bedah caesar. Kadang-kadang, bagian dari plasenta dapat dipertahankan di dalam rahim karena sebagian telah tumbuh melalui otot rahim atau "tertangkap" di dalam sudut rahim saat berkontraksi. Ketika plasenta tidak dapat dikeluarkan secara utuh atau tidak terjadi dalam 30 hingga 60 menit kelahiran bayi, hal ini dikenal retensi plasenta.

 

Gejala Retensi Plasenta

Tanda paling umum dari plasenta yang tertinggal adalah plasenta gagal dilahirkan secara spontan dalam waktu 30 dan 60 menit setelah melahirkan.

Jika bagian plasenta belum keluar sempurna beberapa hari atau minggu setelah melahirkan, maka dapat timbul gejala gejala, seperti demam, perdarahan terus-menerus keluar dari vagina, kram dan nyeri, dan dapat mengalami infeksi sehingga timbul demam dan keluar cairan sekret berbau busuk

Baca juga: Inilah Penyebab dan Gejala Retensio Plasenta

 

Diagnosis Retensi Plasenta

Diagnosis awal dapat dicurigai dengan memeriksa kelengkapan plasenta yang telah keluar. Kotiledon plasenta sewaktu lahir harus dihitung secara seksama untuk menghindari tertinggalnya bagian plasenta. Hal ini masih sering luput karena kecilnya dan tidak terlihatnya seluruh bagian yang kecil. Ketika ini terjadi, seorang wanita akan sering mengalami gejala segera setelah melahirkan. Kemudian, dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa ultrasound untuk melihat kondisi rahim dan memastikan apakah ada bagian plasenta yang tertinggal.

 

Penanganan Retensi Plasenta

Prosedur pelaksanaan yang harus dilakukan adalah membuang potongan plasenta yang tersisa di dalam rahim. Segera setelah persalinan, bagian yang tertinggal ini harus diambil secara manual atau menggunakan instrumen untuk membantu. Sebaiknya tindakan ekstraksi sisa plasenta menggunakan bantuan ultrasound untuk memandu prosedur, jika tertunda satu atau dia munggu kemudian.

 

Pencegahan Retensi Plasenta

Beberapa penelitian menyarankan teknik seperti pijat uterus, obat-obatan seperti oksitosin, dan menerapkan tekanan yang dikenal sebagai traksi tali pusat terkontrol ke plasenta dapat membantu mencegah retensi plasenta. Namun, tidak satupun dari ini telah terbukti secara ilmiah untuk secara efektif mencegah retensi plasenta. Hal ini bisa terjadi kepada siapapun.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Selalu cek kesehatan selama masa kehamilan dalam waktu yang rutin untuk mencegah retensi plasenta dan demi menjaga kesehatan ibu dan kandungannya. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa melalui Halodoc langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang dekat domisili ibu.

Baca juga: Kelahiran Prematur Tingkatkan Risiko Retensi Plasenta

Referensi:
WebMD (Diakses tahun 2019). What is Placenta Previa?

Diperbarui pada 9 Agustus 2019.