Sindrom Antifosfolipid

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Sindrom Antifosfolipid

Sindrom Antifosfolipid disebut juga sindrom Hughes. Ini adalah gangguan autoimun yang menyebabkan darah mudah membeku dan menggumpal. Kondisi ini biasanya disebut dengan darah kental. Pada kondisi ini, antibodi tubuh justru menyerang senyawa lemak yang berperan dalam proses pembekuan darah (fosfolipid).

 

Faktor Risiko Sindrom Antifosfolipid

Terdapat beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom Antifosfolipid, antara lain:

  • Berjenis kelamin wanita.

  • Memiliki riwayat penyakit autoimun, seperti lupus atau sindrom Sjogren.

  • Mengalami infeksi hepatitis C, HIV/AIDS, atau sifilis.

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti antibiotik amoksisilin.

  • Memiliki riwayat keluarga dengan riwayat sindrom Antifosfolipid.

  • Sedang hamil.

  • Kebiasaan merokok.

  • Memiliki kolesterol tinggi.

  • Duduk atau tiduran dalam jangka waktu yang lama.

  • Riwayat operasi, terutama operasi pada daerah tungkai.

  • Menjalani terapi sulih estrogen atau konsumsi pil KB.

Baca juga: Ketahui Bahaya Sindrom Antifosfolipid pada Ibu Hamil

 

Penyebab Sindrom Antifosfolipid

Sindrom Antifosfolipid disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru. Pada kondisi ini, sistek imun tubuh membuat antibodi yang menyerang fosfolipid. Sayangnya, sampai saat ini terjadinya masalah sistem ini blum diketahui dengan pasti. Ada dugaan kuat kalau kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor atau kondisi, salah satunya genetik.

 

Gejala Sindrom Antifosfolipid

Di dalam tubuh pengidap sindrom Antifosfolipid, terjadi penggumpalan darah yang akan menyebabkan beberapa gangguan. Contohnya, terjadinya emboli paru, serangan jantung, komplikasi kehamilan, atau juga trombosis vena dalam (deep vein thrombosis/DVT). Di samping itu, penggumpalan darah ini juga bisa memicu stroke, ruam dan luka pada kulit, hingga penyumbatan pembuluh darah di ginjal, mata, atau hati.

Selain menyebabkan masalah kesehatan, pengidap sindrom Antifosfolipid juga mengalami beberapa tanda dan gejala. Antara lain kesemutan pada lengan dan tungkai, kelelahan, sakit kepala berulang, gangguan penglihatan, gangguan ingatan, gangguan bicara, gangguan gerak dan keseimbangan, serta mudah memar akibat jumlah sel trombosit yang rendah.

Baca juga: Inilah Cara Terhindar dari Sindrom Antifosfolipid

 

Diagnosis Sindrom Antifosfolipid

Diagnosis sindrom Antifosfolipid ditegakkan dengan pemeriksaan antibodi dalam darah. Antibodi tersebut terdiri dari anticardiolipin antibodies (ACA), lupus anticoagulant (LA), dan anti beta-2 glycoprotein 1 antibodies (anti B2GP1). Tindakan ini bertujuan untuk melihat ada tidaknya peningkatan antibodi tersebut. Pemeriksaan akan diulang kembali 12 minggu setelah pemeriksaan pertama untuk membuktikan konsistensi peningkatan antibodi.

Selain antibodi, pemeriksaan darah lain yang ditemukan pada pengidap sindrom Antifosfolipid akan menunjukkan hasil sebagai berikut:

  • Penurunan jumlah trombosit dalam darah.

  • Adanya tanda-tanda anemia hemolitik.

  • Pemanjangan waktu pembekuan activated partial thromboplastin time (aPTTT).

  • Hasil positif pada pemeriksaan sifilis.

Pemeriksaan pencitraan juga dibutuhkan, seperti MRI untuk melihat adanya kemungkinan stroke dan USG Doppler tungkai untuk melihat adanya trombosis vena dalam. DVT sendiri merupakan kondisi gumpalan darah yang terbentuk di vena dalam tubuh. Kebanyakan gumpalan vena dalam terjadi pada kaki bagian bawah atau paha. Walau begitu, kondisi ini juga dapat terjadi di bagian tubuh lainnya.

 

Komplikasi Sindrom Antifosfolipid

Sindrom Antifosfolipid yang tak ditangani dengan tepat bisa berujung pada Catastrophic antiphospholipid syndrome (CAPS). Meski CAPS jarang terjadi, tapi komplikasi ini bisa menyebabkan kematian. Pengidap CAPS akan mengalami penggumpalan darah di seluruh tubuh. Kondisi inilah yang bisa membat terjadinya gagal organ multipel.

Selain itu, komplikasi sindrom Antifosfolipid juga bisa menyebabkan gagal ginjal, stroke, masalah kardiovaskular, dan masalah paru-paru. Dalam beberapa kasus sindrom ini juga bisa memicu komplikasi kehamilan seperti keguguran, preeklamsia, hingga pertumbuhan janin yang lamban.

Baca juga: 6 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Pengidap Sindrom Antifosfolipid

 

Pengobatan Sindrom Antifosfolipid

Pada dasarnya, pengobatan sindrom Antifosfolipid bertujuan untuk mencegah penggumpalan darah. Sebab gumpalan darah ini bisa memicu banyak masalah, seperti emboli paru, trombosis vena dalam, hingga masalah kesehatan lainnya

Hal ini dapat dilakukan dengan mengganti pilihan kontrasepsi (selain pil KB) dan berhenti merokok. Penggumpalan darah juga dapat dicegah dengan mengonsumsi obat aspirin dosis rendah atau clopidogrel (jika alergi terhadap aspirin). Jika sudah terjadi penggumpalan darah, dokter akan memberikan obat antikoagulan untuk mengencerkan darah.

Karena sindrom Antifosfolipid merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan, pemilihan obat antikoagulan yang aman pada ibu hamil harus dilakukan. Obat yang dianjurkan untuk ibu hamil dan menyusui adalah antikoagulan heparin terutama low molecular weight heparin (LMWH).

Obat tersebut disuntikkan di bawah kulit (subkutan), dilakukan sejak awal kehamilan sampai dengan 6 minggu setelah persalinan. Obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid atau rituksimab juga dapat digunakan jika pengidap sindrom Antifosfolipid memiliki trombosit yang rendah, luka pada kulit, atau terdapat penyakit autoimun lain seperti lupus.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera berbicara dengan dokter jika mengalami tanda dan gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Antiphospholipid Syndrome.

WebMD. Diakses pada 2019. What is Antiphospholipid Syndrome?

Diperbarui pada 20 September 2019