Skleroderma

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Skleroderma

Skleroderma berasal dari bahasa Yunani, yaitu “skleros” berarti keras dan “derma” berarti kulit, yang digunakan untuk mendeskripsikan pengerasan dan indurasi kulit yang progresif. Skleroderma atau Sklerosis Sistemik (SS) adalah penyakit jaringan ikat sistemik yang melibatkan jaringan, otot, dan organ dalam. SS termasuk dalam penyakit autoimun ketika jaringan tubuh yang sehat dikenali sebagai infeksi atau substansi asing.

 

Faktor Resiko Skleroderma

Beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit skleroderma, meliputi:

  • Orang asli Amerika.

  • Afrika-Amerika.

  • Perempuan.

  • Usia 30-50 tahun.

  • Penggunaan kemoterapi seperti bleomisin.

  • Paparan terhadap debu silika dan solven organik.

Baca juga:  4 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Skleroderma

 

Penyebab Skleroderma

Skleroderma adalah hasil dari kelebihan produksi dan akumulasi kolagen dalam jaringan tubuh. Kolagen sendiri merupakan sejenis protein berserat yang membentuk jaringan ikat tubuh, termasuk kulit. Di duga karena kelebihan produksi kolagen menyebabkan jaringan tubuh diserang oleh sistem imunitasnya sendiri.

 

Gejala Skleroderma

Pada stadium awal, SS menimbulkan gejala pada kulit yang ditandai dengan pengerasan dan penebalan kulit terutama pada bagian mulut, hidung, jari dan kulit yang melapisi tulang.

Seiring penyakit ini berkembang ditemukan gejala lain seperti rambut rontok, deposit kalsium di bawah kulit yang ditandai dengan benjolan putih, pembuluh darah yang membesar di bawah permukaan kulit, nyeri sendi, sesak nafas, batuk kering, diare, konstipasi, kesulitan menelan, dan refluks esophagus.

Gejala lain yang khas adalah spasme dari pembuluh darah di jari-jari tangan dan kaki yang menyebabkan perubahan warna menjadi putih dan pucat, terutama pada kondisi stres dan pada udara dingin. Hal ini dikenal sebagai fenomena Raynaud.

Baca juga: Tubuh Alami Hal Ini saat Mengidap Skleroderma

 

Diagnosis Skleroderma

Diagnosis didapat dari pemeriksaan kulit untuk mengidentifikasi perubahan terkait dengan gejala SS. Tekanan darah tinggi disebabkan oleh perubahan jaringan ginjal akibat terbentuknya sklerosis juga dapat membantu dokter mengarahkan diagnosis SS.

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan termasuk tes antibodi, faktor rheumatoid, dan laju sedimentasi, rontgen dada, urinalisis, CT scan paru dan biopsi kulit kerap kali dibutuhkan.

 

Pengobatan Skleroderma

Perawatan tidak dapat menyembuhkan penyakit ini, tetapi mampu mengurangi gejala dan memperlambat perkembangan penyakit. Perawatan biasanya didasarkan pada gejala seseorang dan kebutuhan untuk mencegah komplikasi.

Perawatan untuk gejala umum dapat melibatkan pemberian:

  • Kortikosteroid.

  • Imunosupresan, seperti methotrexate atau Cytoxan.

  • Obat antiinflamasi nonsteroid.

  • Obat yang menginhibisi pompa proton untuk meringankan gejala asam lambung.

  • Antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi, karena seringkali lesi yang menebal mengelupas dan menyebabkan luka terbuka.

  • Antinyeri dibutuhkan untuk meringankan nyeri.

Bergantung pada gejalanya, pengobatan juga bisa meliputi:

  • Obat tekanan darah.

  • Obat untuk membantu pernapasan.

  • Terapi fisik.

  • Terapi cahaya, seperti fototerapi ultraviolet A1.

  • Salep nitrogliserin untuk mengobati area yang terlokalisasi dari pengencangan kulit.

Pada kasus tertentu, SS juga dapat membutuhkan penanganan surgikal sebagai penanganan terakhir, seperti:

  • Amputasi, pada kasus ulkus yang berat atau pada kasus ditemukan adanya gangrene.

  • Transplantasi paru, jika SS menyerang pembuluh darah arteri di paru yang menyebabkan hipertensi pulmonal.

Pengidap dapat membuat perubahan gaya hidup agar tetap sehat meski mengidap skleroderma, seperti menghindari rokok, tetap aktif secara fisik, dan menghindari makanan yang memicu sakit mag.

Baca juga: 3 Langkah Pengobatan untuk Mengatasi Skleroderma

 

Komplikasi Skleroderma

Terdapat beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat skleroderma, seperti:

  • Paru-paru, menimbulkan jaringan parut yang berisiko mengganggu fungsi paru-paru.

  • Jantung, menimbulkan jaringan parut pada jaringan jantung yang dapat meningkatkan detak jantung menjadi tidak normal dan gagal jantung kongestif

  • Ginjal, pengidapnya dapat mengalami peningkatan tekanan darah dan peningkatan kadar protein dalam urine

  • Sistem pencernaan, menyebabkan mulas dan kesulitan menelan, juga serangan kram, kembung, sembelit, dan diare.

 

Pencegahan Skleroderma

Tidak ada metode pencegahan terjadinya SS selain dengan mengurangi faktor risiko yang dapat dikontrol.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

 

Referensi
WebMD. Diakses pada 2019. Skleroderma: Symptoms, Diagnonsis, and Treatment.

Diperbarui pada 6 September 2019