Skleroderma

Pengertian Skleroderma

Skleroderma berasal dari bahasa Yunani, yaitu “skleros” berarti keras dan “derma” berarti kulit, yang digunakan untuk mendeskripsikan pengerasan dan indurasi kulit yang progresif. Skleroderma atau Sklerosis Sistemik (SS), adalah penyakit jaringan ikat sistemik yang melibatkan jaringan, otot, dan organ dalam. SS termasuk dalam penyakit autoimun ketika jaringan tubuh yang sehat dikenali sebagai infeksi atau substansi asing.

Gejala Skleroderma

Pada stadium awal, SS biasanya hanya menimbulkan gejala pada kulit yang ditandai dengan pengerasan dan penebalan kulit terutama pada bagian mulut, hidung, jari dan kulit yang melapisi tulang.

Seiring penyakit ini berkembang ditemukan gejala lain seperti rambut rontok, deposit kalsium di bawah kulit yang ditandai dengan benjolan putih, pembuluh darah yang membesar di bawah permukaan kulit, nyeri sendi, sesak nafas, batuk kering, diare, konstipasi, kesulitan menelan, dan refluks esophagus.

Gejala lain yang khas adalah spasme dari pembuluh darah di jari-jari tangan dan kaki yang menyebabkan perubahan warna menjadi putih dan pucat, terutama pada kondisi stres dan pada udara dingin. Hal ini dikenal sebagai fenomena Raynaud.

Penyebab dan Faktor Risiko Skleroderma

Skleroderma merupakan hasil dari kelebihan produksi dan akumulasi kolagen dalam jaringan tubuh. Kolagen adalah sejenis protein berserat yang membentuk jaringan ikat tubuh, termasuk kulit.

Faktor risiko SS meliputi:

  • Orang asli Amerika.
  • Afrika-Amerika.
  • Perempuan.
  • Usia 30-50 tahun.
  • Penggunaan kemoterapi seperti bleomisin.
  • Paparan terhadap debu silika dan solven organik.

Diagnosis Skleroderma

Diagnosis didapat dari pemeriksaan kulit untuk mengidentifikasi perubahan terkait dengan gejala SS. Tekanan darah tinggi disebabkan oleh perubahan jaringan ginjal akibat terbentuknya sklerosis juga dapat membantu dokter mengarahkan diagnosis SS.

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan termasuk tes antibodi, faktor rheumatoid, dan laju sedimentasi. Rontgen dada, urinalisis, CT scan paru dan biopsi kulit kerap kali dibutuhkan.

Penanganan Skleroderma

Perawatan tidak dapat menyembuhkan penyakit ini, tetapi mampu mengurangi gejala dan memperlambat perkembangan penyakit. Perawatan biasanya didasarkan pada gejala seseorang dan kebutuhan untuk mencegah komplikasi.

Perawatan untuk gejala umum dapat melibatkan pemberian:

  • Kortikosteroid.
  • Imunosupresan, seperti methotrexate atau Cytoxan.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid.
  • Obat yang menginhibisi pompa proton untuk meringankan gejala asam lambung.
  • Antibiotik digunakan untuk mencegah infeksi, karena seringkali lesi yang menebal mengelupas dan menyebabkan luka terbuka.
  • Antinyeri dibutuhkan untuk meringankan nyeri.

Bergantung pada gejalanya, pengobatan juga bisa meliputi:

  • Obat tekanan darah.
  • Obat untuk membantu pernapasan.
  • Terapi fisik.
  • Terapi cahaya, seperti fototerapi ultraviolet A1.
  • Salep nitrogliserin untuk mengobati area yang terlokalisasi dari pengencangan kulit.

Pada kasus tertentu, SS juga dapat membutuhkan penanganan surgikal sebagai penanganan terakhir, seperti:

  • Amputasi, pada kasus ulkus yang berat atau pada kasus ditemukan adanya gangrene.
  • Transplantasi paru, jika SS menyerang pembuluh darah arteri di paru yang menyebabkan hipertensi pulmonal.

Pengidap dapat membuat perubahan gaya hidup agar tetap sehat meski mengidap skleroderma, seperti menghindari rokok, tetap aktif secara fisik, dan menghindari makanan yang memicu sakit mag.

Pencegahan Skleroderma

Tidak ada metode pencegahan terjadinya SS selain dengan mengurangi faktor risiko yang dapat dikontrol.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala-gejala di atas, segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.