Tendinitis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Tendinitis

Tendinitis atau tendonitis adalah gangguan berupa peradangan atau iritasi pada tendon, yaitu suatu kumpulan jaringan ikat berserat yang merekatkan otot dengan tulang. Pada sebagian besar kasusnya, tendinitis lebih sering terjadi pada area tumit, lutut, siku, dan bahu. Seseorang yang terserang tendinitis akan mengalami rasa nyeri dan sakit pada persendian.

Tendinitis sendiri memiliki nama yang berbeda-beda pada setiap area. Misalnya, patellar tendinitis pada area tempurung lutut (tendon patellar). Cedera ini umumnya sering dialami oleh atlet voli dan basket. Selain patellar, ada pula istilah lain seperti tennis elbow, swimmer’s shoulder, atau golfer’s elbow.

 

Faktor Risiko Tendinitis

Terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya tendinitis, antara lain:

  • Pengidap kondisi tertentu seperti diabetes, obesitas, dan rheumatoid arthritis.

  • Penggunaan beberapa antiobitik.

  • Usia, fleksibilitas ligamen akan semakin berkurang sering usia bertambah.

  • Olahraga tertentu yang butuh banyak latihan, seperti basket, golf, tenis, atau renang.

  • Kebiasaan merokok.

  • Pekerjaan tertentu, khususya yang melibatkan gerakan berulang kali.

Baca juga: Apakah Pengidap Tendinitis Masih Boleh Berolahraga?

 

Penyebab Tendinitis

Sebagian besar kasus tendinitis terjadi karena adanya beban pada tendon. Beban ini berasal dari gerakan yang dilakukan secara berulang kali. Teknik gerakan yang dilakukan saat sedang berolahraga, bekerja, atau melakukan hobi kesukaan dapat menimbulkan stres dan cedera pada tendon, terutama jika teknik yang dilakukan tidak sepenuhnya benar.

Dengan kata lain, tendinitis umumnya bermula dari teknik yang keliru dalam melakukan gerakan. Hal inilah yang akan membenani tendon. Selain kondisi tersebut, tendinitis juga bisa diebabkan cedera yang terjadi secara tiba-toba atau kecelakaan.

Jenis pekerjaan atau kegiatan yang memerlukan kegiatan fisik atau dilakukannya gerakan berulang, dalam posisi yang tidak biasa atau dengan tenaga besar, dapat memicu tendinitis. Kegiatan yang melibatkan getaran serta menjangkau area yang tinggi secara terus-menerus juga menjadi faktor risiko lain yang perlu diwaspadai. Misalnya, seperti pada olahraga basket, lari, tening, atau renang.

Faktor usia juga dapat memicu munculnya tendinitis. Pasalnya, seiring bertambahnya usia, tendon juga menjadi lebih fleksibel dan lebih rentan terhadap terjadinya cedera.

 

Gejala Tendinitis

Seseorang yang mengalami tendinitis akan merasakan gejala berupa rasa nyeri, terutama ketika menggerakan bagian sendi yang terserang. Dapat pula timbul pembengkakan ringan dan rasa nyeri bila ditekan. Warna kemerahan dan rasa panas juga dapat menyertai. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini masih dapat ditangani sendiri.

Jika gejala ini berlanjut dan diikuti kekakuan pada sendi dan tendon, atau mulai mengganggu aktivitas hingga berhari-hari, kamu disarankan untuk segera berkonsultasi kepada dokter.

 

Diagnosis Tendinitis

Dokter akan mendiagnosis tendinitis lewat wawancara medis seputar gejala yang dialami pasien dan pemeriksaan medis. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan tambahan seperti USG, foto Rotgen, atau MRI.

 

Komplikasi Tendinitis

Tendinitis yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menyebabkan masalah baru. Contohnya, meningkatkan risik putusnya tendon. Selain itu komplikasi lainnya bisa berupa tendinosis (tendon mengalami perubahan degeneratif).

Baca juga: Semakin Tua, Risiko Tendinitis Semakin Meningkat

 

Pengobatan Tendinitis

Penanganan tendinitis dilakukan utnuk meredakan peradangan dan mengurangi rasa sakit. Penanganan yang dapat dilakukan di antaranya:

  1. Konsumsi Obat-obatan

Obat pereda rasa sakit dan suntikan kortikosteroid adalah sebagian jenis obat-obatan yang dapat direkomendasikan oleh dokter. Selain obat minum, obat pereda rasa sakit dalam bentuk krim mungkin efektif dan memiliki risiko efek samping yang lebih kecil dibandingkan obat minum.

Suntikan kortikosteroid berulang tidak direkomendasikan pada tendonitis kronis yang berlangsung lebih dari tiga bulan karena dapat meningkatkan risiko robeknya tendon akibat mendapatkan terlalu banyak suntikan. Selain itu, plasma darah kaya trombosit atau PRP juga dapat menjadi pilihan pengobatan.

Prosedur pemberian PRP meliputi pemisahan platelet dan faktor-faktor penyembuh dari darah pengidap untuk kemudian disuntikkan kembali ke area tendon yang mengalami iritasi kronis.

Meski masih dalam penelitian lebih lebih lanjut, metode ini diduga mampu untuk membantu mengatasi tendonitis kronis. Namun, cobalah berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan pengobatan ini.

  1. Terapi Fisik

Latihan eksentrik merupakan salah satu latihan yang bisa dicoba untuk mengatasi tendinitis kronik. Latihan ini menitikberatkan pada terjadinya kontraksi pada otot dalam keadaan memanjang. Gerakan seperti ini berfungsi merenggangkan dan menguatkan bagian otot tendon yang terkena peradangan atau iritasi

  1. Operasi

Tendinitis yang parah dapat menyebabkan robeknya tendon, terutama jika tendon telah terpisah dari tulang. Pengobatan kondisi ini membutuhkan prosedur operasi. Prosedurnya menggunakan gelombang ultrasound (USG), dan perlatan oeprasi yang amat kecil. Alatnya disebut dengan focused aspiration of scar tissue (FAST).

Prosedur ini dilakukan setelah proses pembiusan lokal untuk mengambil jaringan parut pada tendon tanpa memengaruhi jaringan tendon yang sehat. Setelah prosedur FAST, umumnya pasien bisa beraktivitas kembali dengan normal dalam waktu 1-2 bulan. Prosedur ini mulai banyak digunakan dibanding prosedur operasi tradisional (operasi terbuka).

Pada tendinitis ringan, selain dengan penggunaan obat pereda rasa sakit yang bisa didapatkan tanpa resep dokter, beberapa hal dapat membantu mempercepat penyembuhan dan menghambat perburukan. Penggunaan es (ice) untuk mengompres bagian yang sakit dapat dilakukan beberapa kali dalam sehari, masing-masing selama 20 menit. Istirahat cukup (rest) serta menghindari penggunaan berlebihan tendon yang cedera. Tindakan perawatan lain yang bisa dilakukan di rumah adalah mengompres area yang mengalami pembengkakan dengan perban elastis untuk mengurangi bengkak (compression). 

Pada tendinitis yang menyerang area lutut, mengangkat kaki yang sedang cedera melebihi level ketinggian jantung juga bisa mengurangi pembengkakan (elevation). Akronim RICE (Rest, Ice, Compression, and Elevation) sering digunakan untuk mempermudah pengidap mengingat dan melakukan perawatan ini di rumah.

Namun, perlu diperhatikan juga bahwa tubuh yang terlalu lama beristirahat dan tidak bergerak dapat menyebabkan sendi menjadi kaku. Oleh karena itu, melakukan aktivitas fisik kecil dan ringan secara perlahan-lahan tetap disarankan.

Biasanya setelah 2-3 hari beristirahat, seseorang bisa mulai menggerakkan area yang mengalami cedera. Meski begitu, cobalah tanyakan kepada dokter kapan sebaiknya mulai beraktivitas.

Baca juga: Jenis Terapi untuk Atasi Kondisi Tendinitis

 

Pencegahan Tendinitis

Pencegahan dan penurunan risiko terjadinya cedera pada tendon, ada baiknya kamu memperhatikan aktivitas dan gerakan tubuh yang dilakukan. Mengurangi tekanan penyebab stres berlebih pada tendon adalah salah satunya. Berhenti dan beristirahatlah jika mulai timbul rasa sakit saat sedang melakukan kegiatan fisik tertentu.

Beberapa gerakan tertentu bisa memberikan beban berat pada area tubuh. Kondisi inilah yang nantinya bisa menimbulkan rasa sakit. Oleh sebab itu, cobalah kombinasikan gerakan fisik berat dengan yang lebih ringan. Contohnya adalah lari, berenang, atau bersepeda.

Mendapatkan bantuan dari seorang profesional untuk mendapatkan informasi teknik gerakan atau peralatan olahraga seperti apa yang cocok bagi kemampuan fisik. Lakukanlah ini sebelum kamu memulai olahraga atau rutinitas yang melibatkan gerakan fisik tertentu.

Melakukan peregangan dan menguatkan otot sebelum melakukan kegiatan fisik dapat membantu otot tendon mengatasi tekanan dari gerakan yang berat dan membantu memaksimalkan gerakan sendi. Di samping itu, pengaturan area kerja berdasarkan pertimbangan ergonomis dapat menjaga tendon dan persendian dari stres yang berlebihan. Mulailah menata ulang area kerja dengan memilih dan meletakkan kursi, komputer, serta keyboard yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuk tubuh atau jenis pekerjaan yang biasa dilakukan di area cedera.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah temui dokter bilang mengalami gejala-gejala di atas, apalagi gejalanya tak kunjung membaik dan makin memburuk.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Tendinitis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Tendinitis.

Diperbarui pada 27 November 2019.