Trombositosis

Pengertian Trombositosis

Trombositosis adalah kondisi berupa kelainan pada tingginya jumlah trombosit yang diproduksi oleh tubuh. Pada orang dewasa, batas normal trombosit adalah 150-450 x 109/L atau 150.000-450.000 platelet per mikroliter darah, sementara seorang pengidap trombositosis dapat memiliki jumlah trombosit hingga 600 x 109/L atau lebih.

Trombositosis merupakan salah satu penyebab utama kondisi penggumpalan darah. Kondisi ini dapat terpicu pula oleh penyakit lain yang sudah dimiliki sebelumnya sehingga pemeriksaan awal dapat turut menentukan jenis trombositosis apa yang dialami.

Gejala Trombositosis

Gejala trombositosis sekunder secara umum meliputi sakit kepala, pusing, kelelahan, sakit dada, pingsan, kesemutan pada tangan dan kaki, atau gangguan penglihatan sementara. Tidak jarang pula trombositosis sekunder bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. 

Gejala trombositosis sekunder umumnya berkaitan dengan gejala dari kondisi pemicunya sehingga pemeriksaan darah rutin ataupun pemeriksaan lainnya akan diperlukan untuk menentukan diagnosis trombositosis sekunder.

Trombositosis primer umumnya sedikit lebih sering dialami oleh perempuan dan orang yang berusia di atas 50 tahun, walaupun bisa terjadi juga pada orang dengan usia yang lebih muda. Gejala lain dari kondisi ini tidak jauh berbeda dengan trombositosis sekunder dengan penambahan gejala:

  • Kemerahan, rasa sakit yang membakar, dan denyutan di area tangan dan kaki.
  • Kehilangan fungsi penglihatan sementara.
  • Pembesaran limpa
  • Perdarahan. Pendarahan yang terjadi dapat berupa mimisan, gusi berdarah, timbul memar di kulit, dan kotoran yang disertai darah.

Penggumpalan darah dapat dialami pengidap di area tangan dan kaki, serta otak sehingga dapat menyebabkan stroke atau transient ischemic attack (TIA).

Penyebab Trombositosis

Trombositosis dapat disebabkan oleh infeksi, gangguan pada tulang dan sumsum tulang, atau kondisi lainnya. Beberapa jenis trombositosis, diantaranya:

  • Trombositosis atau trombositemia sekunder atau trombositosis reaktif. Trombositosis ini umumnya disebabkan oleh infeksi atau penyakit lain yang sudah ada atau sedang diderita.
  • Trombositosis primer atau trombositosis esensial. Trombositosis ini disebabkan oleh gangguan pada sumsum tulang. Kondisi ini merupakan yang lebih sering menjadi penyebab penggumpalan darah. Penyebab pasti yang mendasari gangguan pada sumsum tulang tersebut belum diketahui.

Trombositosis sekunder merupakan salah satu reaksi berlebih terhadap kondisi yang dialami tubuh dan dapat disebabkan oleh beberapa kondisi lain, seperti reaksi alergi, serangan jantung, latihan fisik, infeksi (misalnya tuberkulosis), kekurangan zat besi, kekurangan vitamin, hingga kanker.

Reaksi berlebih ini memicu pelepasan sitokin-sitokin yang menyebabkan meningkatnya produksi trombosit. Beberapa penyebab lainnya, termasuk juga beberapa golongan obat, seperti:

  • Kehilangan darah atau pendarahan akut parah.
  • Gagal ginjal akut atau gangguan pada organ ginjal lainnya.
  • Operasi untuk mengobati penyakit jantung koroner.
  • Operasi pengangkatan limpa.
  • Peradangan, seperti kondisi rheumatoid arthritis, gangguan jaringan ikat, peradangan usus, atau penyakit celiac.
  • Pankreatitis.
  • Operasi besar yang baru dialami.
  • Trauma.
  • Luka Bakar.
  • Anemia hemolitik.
  • Obat-obatan seperti epinephrine, heparin sodium, tretinoin dan vincristine sulfate.

Sumsum tulang mengandung stem cells (sel-sel induk) yang dapat berkembang menjadi sel darah merah, sel darah putih  atau platelet  (trombosit). Trombositosis primer disebabkan oleh banyaknya trombosit yang diproduksi oleh sumsum tulang ke dalam darah. Jumlah trombosit yang berlebih pada trombositosis primer tidak dapat berfungsi dengan normal sehingga akhirnya meningkatkan risiko penggumpalan darah atau terjadi pendarahan. Selain gangguan pada tulang sumsum, trombositosis primer juga dapat disebabkan oleh leukemia myelogenous kronik, myelofibrosis, dan polisitemia vera. Faktor genetik dari orang tua atau anggota keluarga yang memiliki kondisi ini juga berperan.

Pengobatan Trombositosis

Trombositosis sekunder jarang memerlukan pengobatan atau prosedur khusus untuk menurunkan jumlah trombosit. Tujuan penanganan trombositosis sekunder adalah untuk mengatasi kondisi awal yang menjadi pemicu trombositosis. Umumnya jumlah trombosit akan kembali ke kadar normal setelah kondisi awal yang mendasari teratasi. Misalnya, jika trombositosis disebabkan oleh peradangan, maka jumlah trombosit dapat turun ke batas normal setelah peradangan tersebut diobati.

Pada kasus trombositosis sekunder yang dipicu oleh pengangkatan limpa, pengidap mungkin akan mengalami trombositosis seumur hidup, akan tetapi kecil kemungkinan si pengidap memerlukan obat. Trombositosis primer termasuk ke dalam kondisi yang kronik (penyakit jangka panjang) dan belum ada obatnya. Pengobatan pada kasus trombositosis primer yang ringan dapat ditangani tanpa obat-obatan. Namun pada kondisi yang parah dapat diberikan obat penurun jumlah trombosit, pengencer darah, atau keduanya.

Obat untuk trombositosis dapat disertai juga dengan pemberian aspirin dalam dosis rendah untuk mengurangi risiko penggumpalan dan naiknya jumlah trombosit. Beberapa obat ini, diantaranya:

  • Hydroxyurea. Obat dari golongan ini berfungsi menekan produksi sel darah, termasuk trombosit, pada sumsum tulang. Dokter akan memonitor jumlah sel-sel darah dan fungsi organ hati selama periode ini. Obat ini memiliki efek samping yang cenderung rendah dan penggunaan jangka panjang tidak direkomendasikan karena berisiko memicu myelogenous leukimia.
  • Anagrelide. Obat dari golongan ini tidak berhubungan dalam peningkatan risiko leukemia, namun juga dianggap kurang efektif untuk digunakan. Obat ini memiliki efek samping pusing, sakit kepala, mual, diare, hingga gangguan pada jantung.
  • Interferon alfa atau pegylated interferon alpha 2a. Obat dari golongan ini diberikan melalui suntikan dan merupakan pilihan terbaik pada beberapa kasus. Obat ini memiliki efek samping yang lebih serius dibandingkan kedua obat di atas, seperti mual, diare, kejang, gejala seperti flu, hingga depresi.

Sebuah prosedur darurat mungkin digunakan untuk penanganan pasca keadaan bahaya akibat penggumpalan darah dikarenakan trombositosis primer, yaitu platelet pheresis. Contohnya pada orang yang mengalami stroke atau pendarahan akut.

Apabila terjadi stroke, sebuah jarum akan dihubungkan kepada tabung untuk mengalirkan darah pengidap ke sebuah alat yang akan memisahkan platelet dari darah. Setelah itu darah dialirkan kembali ke dalam tubuh. Prosedur ini berfungsi menurunkan jumlah platelet untuk sementara. Pada pengidap trombositosis primer terutama pada pengidap yang sedang hamil konsumsi aspirin dosis rendah secara reguler mungkin direkomendasikan oleh dokter.

Pencegahan Trombositosis

Perubahan gaya hidup ikut berperan dalam mengurangi risiko munculnya kondisi yang dapat turut memicu trombositosis. Lakukanlah langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya:

  • Memulai pola makan sehat dan makan dalam porsis sesuai dengan kebutuhan tubuh.
  • Pertahankan berat badan normal untuk menghindari risiko naiknya tekanan darah akibat obesitas.
  • Berhenti merokok.
  • Lakukan aktivitas fisik dalam tingkatan menengah selama setidaknya 30 menit tiap hari.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera berbicara dengan dokter jika mengalami tanda dan gejala di atas.