Trombositosis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Trombositosis

Trombositosis merupakan kelainan yang digambarkan dengan tingginya kadar trombosit yang diproduksi tubuh. Untuk orang dewasa, jumlah trombosit normal berkisar 150-450x109/L atau 150.000-450.000 platelet (trombosit) per mikroliter darah. Sedangkan pengidap trombositosis  bisa mengalami peningkatan yang drastis, berkisar 600x109/L atau lebih. Dari banyaknya kondisi yang bisa menyebabkan penggumpalan darah, trombositosis merupakan salah satu penyebab utamanya.

 

Faktor Risiko Trombositosis

Terdapat beberapa faktor risiko yang bisa memicu terjadi trombositosis, yaitu:

1. Trombositosis Primer

Seseorang yang mengidap kondisi medis tertentu, seperti myelofibrosi, leukemia myelogenous kronik, atau polisitemia vera. Di samping itu, faktor genetik dari orangtua atau anggota keluarga yang memiliki kondisi ini juga berperan.

2. Trombositosis Sekunder

  • Kehilangan darah atau pendarahan akut parah.

  • Luka bakar.

  • Operasi besar yang dialami.

  • Mengidap gagal ginjal akut

  • Pankreatitis.

  • Konsumsi obat-obatan tertentu.

  • Anema homolitik.

Baca juga: 7 Ciri Tingginya Jumlah Trombosit Dalam Darah

 

Penyebab Trombositosis

Trombositosis bisa disebabkan oleh berbagai hal. Mulai dari gangguan pada tulang dan sumsum tulang, infeksi, hingga kondisi lainnya. Berikut beberapa jenis trombositosis, di antaranya:

  • Trombositosis sekunder atau trombositosis reaktif. Trombositosis jenis ini lebih sering disebabkan infeksi atau penyakit lain yang pernah atau sedang diidap.

  • Trombositosis primer atau trombositosis esensial. Trombositosis ini disebabkan oleh gangguan pada sumsum tulang. Trombositosis primer merupakan kondisi yang sering menyebabkan penggumpaan darah. Penyebab pasti yang mendasari gangguan pada sumsum tulang tersebut belum diketahui.

Trombositosis sekunder merupakan salah satu reaksi berlebih terhadap kondisi yang dialami tubuh dan dapat disebabkan oleh beberapa kondisi lain. Contohnya seperti reaksi alergi, serangan jantung, latihan fisik, infeksi (misalnya tuberkulosis), kekurangan zat besi, kekurangan vitamin, hingga kanker.

Ketika tubuh mengalami trombositosis sekunder, reaksi berlebihan ini bisa memicu pelepasan sitokin-sitokin yang menyebabkan meningkatnya produksi trombosit. Beberapa penyebab lainnya, termasuk juga beberapa golongan obat seperti:

  • Kehilangan darah atau pendarahan akut parah.

  • Gagal ginjal akut atau gangguan pada organ ginjal lainnya.

  • Operasi untuk mengobati penyakit jantung koroner.

  • Operasi pengangkatan limpa.

  • Peradangan, seperti kondisi rheumatoid arthritis, gangguan jaringan ikat, peradanganusus, atau penyakit celiac.

  • Operasi besar yang baru dialami.

  • Pankreatitis.
  • Luka Bakar.

  • Trauma
  • Anemia hemolitik.

  • Obat-obatan seperti epinephrine, heparin sodium, tretinoin, dan vincristine sulfate.

Sumsum tulang mengandung stem cells (sel-sel induk) yang dapat berkembang menjadi sel darah merah, sel darah putih atau platelet  (trombosit).

Penyebab trombositosis primer cenderung berbeda. Jenis ini disebabkan oleh banyaknya trombosit yang diproduksi oleh sumsum tulang ke dalam darah. Jumlah trombosit yang tinggi ini pada akhirnya bisa meningkatkan risiko terjadi pengumpalan darah, atau bahkan memicu terjadi pendarahan.

 

Gejala Trombositosis

Seseorang yang mengalami trmobositosis bisa mengalami berbagai keluhan pada tubuhnya. Umumnya pengidapnya akan mengalami sakit kepala, sait dada, pingsan, pusing, kelehahan, kesemutan pada tangan dan kaki, hingga terganggunya penglihatan (sementara). Namun, dalam beberapa kasus, trombositosis sekunder tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Gejala trombositosis sekunder umumnya berkaitan dengan gejala dari kondisi pemicunya, sehingga pemeriksaan darah rutin ataupun pemeriksaan lainnya akan diperlukan untuk menentukan diagnosis trombositosis sekunder.

Gejala trombositosis primel lain lagi. Trombositosis ini lebih umum dialami oleh wanita dan orang di atas 50 tahun. Meski begitu, kondisi ini juga bisa terjadi pada mereka yang lebih muda. Gejala trombositosis primer sebenarnya tak berbeda jauh dengan sekunder, dengan penambah gejala seperti:

  • Kemerahan, rasa sakit yang membakar, serta denyutan di area tangan dan kaki.

  • Kehilangan fungsi penglihatan sementara.

  • Pembesaran limpa.

  • Pendarahan yang terjadi dapat berupa mimisan, gusi berdarah, timbul memar di kulit, dan kotoran yang disertai darah.

Penggumpalan darah dapat dialami pengidap di area tangan dan kaki serta otak, sehingga dapat menyebabkan stroke atau transient ischemic attack (TIA).

Baca juga: Trombositosis Bisa Sebabkan Pembesaran Limpa, Ini Penyebabnya

 

Diagnosis Trombositosis

Dokter akan mengawali dengan menanyakan seputar gejala-gejala yang dialami pasien. Umumnya kondisi trombositosis ditemukan secara tidak sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan darah rutin. Untuk memastikan diagnosisnya, dokter juga akan melakukan pemeriksaan tes darah lainnya. Contohnya tes penanda peradangan atau tes hapus darah tepi.

 

Komplikasi Trombositosis

Trombositosis yang dibiarkan tanpa penanganan bisa memicu kondis lainnya. Misalnya, menyebabkan komplikasi gumpalah darah yang berujung pada penyumbatan darah. Contoh kasusnya deep vein thrombosis atau stroke. Dalam beberapa kasus lainnya, komplikasi trombositosis juga bisa menyebabkan perdarahan yang berlebihan.

 

Pengobatan Trombositosis

Dalam kebanyakan kasus tromositosis sekunder, umumnya kondisi ini tak memerlukan pengobatan khusus. Penanganannya bisa dengan mengatasi kondisi yang memicu terjadinya trombositosis.  Umumnya jumlah trombosit akan kembali ke kadar normal setelah kondisi awal yang mendasari teratasi.

Misalnya, bila trombositosis disebabkan oleh peradangan, maka jumlah cara penanganannya dengan mengobati peradangan tersebut. Dengan begitu, tromobist bisa turun kembali ke batas normal.

Untuk kasus trombositosis sekunder akibat pengangkatan limpa, mungkin pengidapnya akan mengalami trombositosis seumur hidupnya. Namun, kecil kemungkinannya pengidap tersebut memerlukan obat. Sedangkan tromositosis primer (kronik), belum ada obatnya.

Namun, trombositosis primer yang terbilang ringan mungkin bisa ditangani tanpa obat-obatan. Namun, pada kondisi yang parah mungkin dokter akan meresepkan obat-obatan. Misalnya, obat penurun jumlah trombosit, pengencer darah, atau keduanya.

Dalam beberapa kasus, dokter juga mungkin akan meresepkan aspirin dalam jumlah yang rendah. Pemberian aspirin itu ditujukan untuk mengurangi penggumpakan dan naiknya jumlah trambosit. Beberapa obat ini contohnya:

  • Obat golongan ini diberikan untuk menekan produksi sel darah. Termasuk di dalamnya trombosit pada sumsum tulang.  Dokter akan memonitor jumlah sel-sel darah dan fungsi organ hati selama periode ini. Obat ini memiliki efek samping yang cenderung rendah dan penggunaan jangka panjang tidak direkomendasikan, karena berisiko memicu myelogenous leukimia.

  • Obat dari golongan ini tidak berhubungan dalam peningkatan risiko leukemia, tetapi juga dianggap kurang efektif untuk digunakan. Obat ini memiliki efek samping pusing, sakit kepala, mual, diare, hingga gangguan pada jantung.

  • Interferon alfa atau pegylated interferon alpha 2a. Obat dari golongan ini diberikan melalui suntikan dan merupakan pilihan terbaik pada beberapa kasus. Obat ini memiliki efek samping yang lebih serius dibandingkan kedua obat di atas, seperti mual, diare, kejang, gejala seperti flu, hingga depresi.

Andaikan trombosit tak kunjung berkurang meski sudah mengonsumsi obat penurun jumlah trombosit, mungkin dokter akan melakukan tindakan platelet pheresis. Prosedurnya memisahkan trombosit dari aliran darah dan dibuang. Tindakan ini umumnya dilakukan pada orang yang mengalami stroke atau pendarahan akut.

Apabila terjadi stroke, sebuah jarum akan dihubungkan kepada tabung untuk mengalirkan darah pengidap ke sebuah alat yang akan memisahkan platelet dari darah. Setelah itu darah dialirkan kembali ke dalam tubuh. Prosedur ini berfungsi menurunkan jumlah platelet untuk sementara.

Untuk pengidap trombositosis primer yang sedang hamil, mungkin dokter akan meresepkan aspirin dalam dosis yang rendah.

Baca juga: Jangan Disepelekan, Trombositosis Bisa Sebabkan DVT

 

Pencegahan Trombositosis

Cobalah terapkan pola hidup sehat untuk mencegah trombositois. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:

  • Memulai pola makan sehat dan makan dalam porsi sesuai dengan kebutuhan tubuh.

  • Terapkan pola makan sehat, perhatikan porsi sesuai kebutuhan tubuh.

  • Pertahankan berat badan normal untuk menghindari risiko naiknya tekanan darah akibat

  • Berhenti merokok.

  • Lakukan aktivitas fisik dalam tingkatan menengah selama setidaknya 30 menit tiap hari.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bila mengalami gejala-gejala di atas, segeralah temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Disease and Conditions. Thrombocytosis
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Health. Thrombocytosis.

Diperbarui pada 25 September 2019