Awas, Komentar di Sosmed Bisa Berakibat Fatal

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Awas, Komentar di Sosmed Bisa Berakibat Fatal

Halodoc, Jakarta – Hasil penelitian yang diterbitkan di The Journal Depression and Anxiety menunjukkan kalau terjadi peningkatan gejala depresi sebesar 10 persen akibat komentar negatif di sosial media. Penelitian yang sama juga mengungkapkan, pengalaman negatif di sosial media lebih memberikan dampak di kehidupan nyata ketimbang pengalaman positif. 

Kondisi ini seharusnya cukup memprihatinkan. Sulli, aktris dan penyanyi asal Korea Selatan, ditemukan bunuh diri beberapa waktu lalu. Dikabarkan penyebabnya karena tidak kuat menerima bully-an pun juga komentar negatif di sosial media. Bagaimana komentar negatif di sosmed bisa berakibat fatal, baca penjelasannya di sini!

Pengalaman Negatif Lebih Memengaruhi

Kalau menurut Dr. Brian Primack, Direktur The Center for Research on Media, Technology and Health dari University of Pittsburgh, secara naluriah manusia lebih terpengaruh oleh pengalaman negatif ketimbang positif. 

Bahkan ketika dari lima hal, walaupun hanya satu saja yang memberikan seseorang pengalaman negatif, dia akan fokus pada hal yang tidak menyenangkan tersebut.  Pengalaman negatif pada umumnya dapat membuat orang lebih rentan terhadap depresi.

Baca juga: Sulli Meninggal, Ini Alasan Depresi Bisa Picu Bunuh Diri

Umumnya, ketika seseorang berada di rentang usia 18–30 tahun, dia sudah bisa lebih mengelola pengalaman atau informasi yang terpapar ke dirinya jika itu terjadi secara real. Intinya, orang bisa lebih bisa membentengi diri saat mendapatkan pengalaman tidak mengenakkan bila terjadi secara langsung.

Kondisi yang berbeda bila pengalaman negatif tersebut didapatkan di sosial media. Efek dari pengalaman bersosial media sulit dikontrol karena sangat individual ataupun personal. Terjadi peningkatan kecemasan, kecemburuan, dan kecenderungan kecanduan dari ketergantungan sosial media yang membuat seseorang bisa senantiasa terhubung dengan pengalaman negatif dari sosial media  tersebut. 

Karena sosial media sudah ibarat “candu”, pada akhirnya orang yang mengalami depresi karena komentar di sosmed tersebut mau tidak mau akan terus terpapar dengan pengalaman negatif. Apalagi kalau di zaman sekarang, orang tidak bisa lepas dari gadget dan sosial media . Bagaimana dia bisa terbebas dari depresi karena sosial medianya, kalau saat senggang yang digenggam selalu gadget?

Berpikir Sebelum Berkomentar

Kalau kamu mengikuti perkembangan kasus kericuhan akibat sosmed , Sulli bukan satu-satunya korban saja. Tidak hanya public figure, orang-orang biasa juga bisa terkena dampak negatif dari komentar tidak bertanggung jawab di sosmed . Dampaknya sangat psikologi, mulai dari depresi sampai bunuh diri. 

Apalagi saat ini kamu bisa membuat akun palsu dan sembarangan memberikan komentar di posting-an seseorang tanpa orang tahu siapa sebenarnya yang memberi komentar. Pastinya ada banyak alasan kenapa orang bisa tanpa “rem” ngomong sembarangan di posting-an orang.

Bisa saja dia hanya menganggap omongannya biasa saja sekadar candaan atau justru malah menjadikan “hujatan” di sosial media sebagai salah satu stress release. Menurut data penelitian yang dipublikasikan oleh Live Science, 1 persen dari populasi umum mengidap gangguan jiwa. Kecenderungan ini semakin meningkat mengingat perkembangan media dan teknologi yang semakin memudahkan cara mereka bekerja. 

Baca juga: Ada Aksi Bunuh Diri, Kenapa Orang Pilih Merekam

Sebagai orang dengan kesehatan mental yang baik, ada baiknya kita berpikir sebelum memberikan komentar di kolom sosmed seseorang. Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dihadapinya, bagaimana kondisi mentalnya, apakah hanya kita satu-satunya yang berkomentar sensitif atau jangan-jangan dia sudah mendapatkan begitu banyak komentar negatif?

Kalau kamu merasa selalu ingin berkomentar negatif di laman sosmed orang lain, seolah-olah itu adalah upayamu untuk stress release, bisa jadi kamu mengalami kondisi tidak stabil. Butuh curhat yang positif? Tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Referensi:

US NEWS. Diakses pada 2019. Study: Negative Social Media Experiences Linked to Depression.
Live Science. Diakses pada 2019. How to Spot Psychopaths: Speech Patterns Give Them Away.
Penn State College of Agricultural Sciences. Diakses pada 2019. Handling Negative Comments or Complaints in Social Media.