19 June 2018

Menahan Kencing Saat Mudik, Cari Tahu Efeknya untuk Kesehatan

menahan kencing selama mudik, akibat menahan buang air kecil, sering menahan kencing

Halodoc, Jakarta – Mudik atau perjalanan menuju kampung halaman untuk merayakan hari raya ialah kegiatan yang rutin dilakukan masyarakat Indonesia. Ada yang menggunakan transportasi udara, darat, dan juga laut. Jadi tidak heran jika bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, dan jalan raya pun semuanya ramai sejak satu pekan sebelum hari raya tiba.

Penduduk Jabodetabek sendiri banyak juga yang melakukan kegiatan mudik ini. Tujuan mereka biasanya adalah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Mereka bahkan bisa menempuh waktu hingga dua puluh empat jam untuk bisa sampai ke tempat tujuan tersebut.

Akibat perjalanan yang cukup memakan waktu tersebut, ada baiknya untuk mempersiapkan secara matang barang-barang yang perlu dibawa, agar kamu dan keluarga tetap sehat selama perjalanan. Nah, ada juga satu kebiasaan yang biasanya sering kamu lakukan saat mudik. Kebiasaan ini adalah hal biasanya kamu anggap sepele, padahal memiliki efek yang cukup berbahaya. Kebiasaan ini adalah menahan kencing selama mudik. Jalanan macet atau sulitnya menemukan toilet umum biasanya yang menjadi penyebab kamu sering menahan kencing.

(Baca juga: 6 Persiapan untuk Berkendara Jauh Saat Mudik)

Mengapa Tidak Boleh Menahan Kencing Berlama-lama

Buang air kecil atau kencing ialah kebutuhan yang alami dan itu sebabnya kita harus melakukannya dengan frekuensi tertentu agar semua zat tubuh yang sudah tidak diperlukan akan keluar. Dampak menahan kencing sendiri akan menghasilkan infeksi saluran kemih yang cukup berat, sebab kuman yang terkandung dalam urine tersebut akan bertahan lama di dalam kandung kemih. Lambat laun infeksi ini akan menyebar ke ginjal dan menyebabkan kondisi yang semakin parah.

Penyakit Akibat Menahan Buang Air Kecil

Nah, berikut ini merupakan penyakit yang dapat muncul sebagai dampak menahan kencing, terlebih saat mudik:

  1. Gangguan Buang Air Kecil

Masalah ini lebih sering dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Biasanya hal ini terjadi ketika kamu mulai tidak bisa mengendalikan kandung kemih dan saluran kemih. Koordinasi yang buruk antara otot kandung kemih dengan uretra ini membuat seseorang bermasalah saat buang air kecil. Beberapa di antaranya ialah kamu bisa saja mengompol, tidak buang air kecil hingga tuntas, dan kualitas seks yang menurun.

  1. Pembengkakan Kandung Kemih

Rata-rata kendung kemih dapat menyimpan hingga 15 ons cairan. Jumlah cairan rata-rata yang kamu konsumsi sekitar 64 ons, atau rata-rata kandung kemih dapat menyimpan hingga sekitar seperempat air yang kamu minum setiap hari. Sehingga, meskipun kamu minum banyak air untuk menjaga jumlah cairan tubuh dan ginjal kamu dalam kondisi yang baik, tetapi hal itu tidak akan berdampak baik bagi kesehatan jika kamu juga tidak membuangnya secara teratur.

Salah satu alasan utama mengapa kamu disarankan untuk minum cukup cairan ialah bahwa itu penting untuk membantu membersihkan ginjal, serta itu dapat terjadi jika kamu memasukkan dan mengeluarkan cairan dari tubuh dengan seimbang

  1. Batu Ginjal

Orang-orang yang sering menahan kencing akan berisiko terkena batu ginjal dan bahkan lebih buruk. Batu ginjal merupakan “batu” kecil yang terbentuk dalam ginjal dari kelebihan natrium dan kalsium, dan jika endapan mineral ini tidak dikeluarkan secara teratur melalui urine, mereka akan membentuk batu. Saat kamu ingin mengeluarkannya melalui saluran kemih, kamu akan merasakan sakit yang luar biasa.

(Baca juga: 4 Dampak Kurang Minum Saat Mudik)

Nah, tadi sudah dijelaskan dampak menahan kencing bagi kesehatan tubuhmu. Jadi, mulai kini tidak ada lagi alasan untuk menahan kencing. Segeralah pergi ke toilet jika kamu merasa ingin buang air kecil demi kesehatanmu sendiri.

Kalau kamu punya keluhan sakit selama mudik, gunakan aplikasi Halodoc saja. Sebab melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play!