12 September 2018

Mengenal 3 Jenis Depresi Pasca-Melahirkan

depresi pasca melahirkan, proses kelahiran, depresi, kesehatan ibu

Halodoc, Jakarta – Depresi pasca melahirkan adalah salah satu kondisi yang banyak dirasakan wanita setelah proses melahirkan. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya depresi pasca melahirkan. Kondisi kurang tidur atau istirahat dan masalah hormonal bisa menjadi beberapa alasan penyebab terjadinya depresi pasca melahirkan. Kondisi depresi pasca melahirkan bahkan bisa dikategorikan sebagai penyakit mental.

Banyak hal yang bisa dilakukan ibu untuk menghindari kondisi depresi pasca melahirkan. Beberapa di antaranya dengan beristirahat yang cukup di sela-sela waktu kosong, serta melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti membaca buku atau mendengarkan lagu. Ibu bisa juga meminta pasangan untuk melakukan beberapa tugas baru sebagai orangtua. Komunikasi yang baik dengan pasangan bisa menjadi kunci agar ibu terhindar dari depresi pasca melahirkan.

Tidak ada salahnya ibu mengenal beberapa jenis depresi pasca melahirkan agar ibu bisa mempersiapkan diri dengan baik setelah proses kelahiran.

1. Baby Blues

Baby blues termasuk dalam salah satu jenis depresi yang ibu rasakan setelah proses melahirkan. Baby blues bisa dialami hingga 80 persen wanita. Gejala baby blues dengan depresi pasca melahirkan yang lain memang mirip. Namun, baby blues merupakan kondisi yang jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan depresi pasca melahirkan yang lainnya. Baby blues terjadi dalam waktu yang lebih singkat yaitu 2 minggu pertama setelah melahirkan.

2. Post Partum Major Depression

Post Partum Major Depression bisa dikatakan merupakan salah satu jenis depresi yang cukup berat dialami oleh ibu setelah melahirkan. Biasanya, kondisi ini terjadi pada 10 persen wanita yang baru melahirkan. Pada umumnya gejala yang dialami hampir sama dengan baby blues, yang membedakan adalah waktu terjadinya depresi. Jika baby blues bisa disembuhkan dalam waktu minimal 2 minggu setelah melahirkan, post partum major depression akan cenderung berlangsung lebih lama.

Tidak hanya itu, kondisi perubahan suasana hati juga akan lebih buruk jika dibandingkan dengan baby blues. Biasanya, ibu yang mengalami post partum major depression akan menangis sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas, memiliki perasaan tidak mampu untuk mengurus anak, dan yang paling parah adalah keinginan untuk bunuh diri. Tidak hanya pada psikologisnya saja, pada ibu yang mengalami kondisi post partum major depression juga akan mengalami perubahan pada fisiknya seperti raut wajah yang lelah, kulit yang lebih kering, dan sensitif terhadap dingin.

3. Post Partum Psychosis Depression

Kondisi ini sebenarnya hampir mirip dengan kondisi post partum major depression. Namun pada post partum psychosis depression, kondisi ibu akan bertambah parah, karena pada fase ini ibu memiliki halusinasi. Banyak kondisi halusinasi yang dialami, misalnya seperti perasaan bisikan yang bisa mencelakakan bayi atau ibu sendiri.

Tidak hanya halusinasi, gejala dari post partum psychosis depression juga ditandai dengan gangguan pikiran yang menyebabkan ibu terlihat kebingungan, cemas dan, bahkan tidak tertarik kepada anak yang baru dilahirkan. Perubahan hati yang sangat ekstrem juga akan ditunjukan oleh ibu yang mengalami kondisi ini.

Tidak ada salahnya untuk segera mencari pertolongan medis saat ibu merasakan beberapa gejala di atas. Selain itu, ibu juga bisa mempersiapkan kelahiran dan berkomunikasi dengan pasangan sebelum proses kelahiran. Dengan mempersiapkan mental dan meminta dukungan pada keluarga sebelum melahirkan, tentu mental ibu pun menjadi lebih matang saat menyambut Si Kecil. Gunakan aplikasi Halodoc untuk mengetahui persiapan kelahiran Si Kecil. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play!

Baca juga: