• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal 3 Jenis Tes Corona yang Digunakan di Indonesia
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal 3 Jenis Tes Corona yang Digunakan di Indonesia

Mengenal 3 Jenis Tes Corona yang Digunakan di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 23 Februari 2022
Mengenal 3 Jenis Tes Corona yang Digunakan di Indonesia

“Terdapat tiga jenis tes pemeriksaan COVID-19 yang dapat dilakukan di Indonesia. Mulai dari tes cepat molekuler (TCM), Polymerase Chain Reaction (PCR), dan rapid test. Ketiga jenis tes tersebut memiliki perbedaan dalam metode pemeriksaannya maupun sampel yang diambil untuk diuji.”

Halodoc, Jakarta – Tes pemeriksaan COVID-19 merupakan cara yang paling efektif untuk memastikan keberadaan virus corona dalam tubuh seseorang.Nah, Hampir semua negara kini memiliki caranya masing-masing untuk melakukan tes COVID-19 dan beberapa tes juga banyak yang tengah dikembangkan produsen komersial.

Namun, sebelum melakukan tes, penting untuk mengetahui bahwa setiap negara memiliki prioritas atau kebijakan tersendiri untuk orang-orang yang perlu melakukan tes. 

Selain itu, berbeda jenis tes, berbeda pula metode pemeriksaan dan sampel yang diujikan. Sejauh ini terdapat tiga jenis pemeriksaan COVID-19 yang dapat dilakukan di Indonesia. Penasaran apa saja? Yuk simak informasinya di sini! 

Tes Diagnosis Virus COVID-19 di Indonesia

Di Indonesia ada beberapa tes untuk mendeteksi infeksi COVID-19, salah satunya menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM). Jenis tes ini sebelumnya biasa digunakan untuk pasien penyakit tuberkulosis (TB). Tes ini menambah pemeriksaan yang selama ini sudah digunakan, yaitu polymerase chain reaction (PCR) dan tapid test.

Jadi sejauh ini pemerintah sudah memiliki tiga jenis pemeriksaan, yakni tes cepat molekuler (TCM), polymerase chain reaction (PCR), dan rapid test. Kenali perbedaan ketiganya berikut:

1. Tes Cepat Molekuler (TCM)

Sebelumnya tes ini digunakan untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis (TB) dengan berdasarkan pemeriksaan molekuler.

Metode pemeriksaan COVID-19 ini menggunakan swab nasofaring dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge.

Virus SARS-CoV-2 diidentifikasi pada RNA-nya yang menggunakan cartridge khusus.

Hasil tes ini terbilang cukup cepat, karena bisa diketahui hasilnya dalam waktu kurang lebih dua jam. Kamu bisa melakukan pemeriksaan TCM ini di 132 rumah sakit dan beberapa puskesmas yang ditunjuk pemerintah. 

2. Polymerase Chain Reaction (PCR)

Jenis pemeriksaan untuk mendeteksi COVID-19 ini akan menggunakan sampel lendir dari hidung atau tenggorokan. Dua lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus akan menggandakan dirinya. Namun, beberapa sampel seperti sampel cairan dari saluran pernapasan bawah; atau mengambil sampel tinja juga bisa jadi pilihan untuk tes ini.

Virus yang aktif akan memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA.

Nah, pada virus corona, material genetik tersebut adalah RNA. Material ini yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi. Berbeda dengan TCM, metode pemeriksaan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya karena melalui dua kali proses yaitu, ekstraksi dan amplifikasi.

3. Rapid Test

Berbeda dengan dua jenis pemeriksaan di atas, pemeriksaan rapid test menggunakan sampel darah untuk diuji. Darah digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin, yakni antibodi yang terbentuk saat tubuh mengalami infeksi.

Rapid test bisa dilakukan di mana saja dan waktu untuk melakukannya juga singkat, yakni hanya 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya.

Namun, tes ini memiliki kelemahan, karena bisa menghasilkan 'false negative' atau kondisi saat hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Biasanya, hal ini terjadi saat tes dilakukan kurang dari 7 hari setelah infeksi.

Kapan Sebaiknya Melakukan Tes Diagnosis COVID-19? 

Menurut laman resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) segeralah melakukan tes diagnosis COVID-19, jika kamu: 

  • Memiliki gejala COVID-19 meskipun ringan, seperti sakit tenggorokan, suhu tubuh yang tinggi, batuk kronis (terjadi secara terus-menerus) hingga kehilangan atau perubahan pada indra penciuman atau perasa, seperti anosmia. 
  • Mengalami kontak erat atau terpapar dengan seseorang yang diduga atau telah dikonfirmasi positif COVID-19. Namun, jika kamu sudah divaksinasi lengkap (dua dosis) maka kamu perlu melakukan tes pemeriksaan lima sampai tujuh hari setelah kontak erat atau terpapar. 
  • Sementara itu, bagi mereka yang belum menjalani vaksinasi secara lengkap tapi mengalami kontak erat, maka segeralah memeriksakan dirinya. Jika hasil tesnya negatif, mereka harus diuji lagi 5-7 hari setelah paparan terakhir mereka atau segera jika gejala berkembang. 

Itulah beberapa jenis tes untuk mendeteksi COVID-19 yang dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia. Nah, jika suatu hari kamu mengalami gejala seperti batuk, pilek, atau radang tenggorokan, segera pastikan bahwa sakitmu ini bukan karena COVID-19.

Jika kamu mencurigai dirimu atau anggota keluarga mengidap COVID-19, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segera tanyakan pada dokter.

Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa menghubungi dokter untuk bertanya terkait hal tersebut. Lewat fitur chat/video call pada aplikasinya, sehingga kamu tidak perlu keluar rumah dan dapat meminimalisir risiko penularan berbagai penyakit. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang! 

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Testing for COVID-19.
Detik. Diakses pada 2022. Perbedaan 3 Jenis Tes Corona di Indonesia: PCR, Rapid Test, dan TCM.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2022. Dalam Waktu Dekat Pemerintah Akan Lakukan Tes Corona Massal. 
Tirto. Diakses pada 2022. Apa Itu Rapid Test Coronavirus Deteksi Cepat COVID-19 di Indonesia. 
CDC.gov. Diakses pada 2022. Frequently Asked Questions