Ad Placeholder Image

Mengenal Preeclampsia Gejala Dan Risiko Pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   16 Maret 2026

Kenali Gejala Preeclampsia, Bahaya dan Cara Menanganinya

Mengenal Preeclampsia Gejala Dan Risiko Pada Ibu HamilMengenal Preeclampsia Gejala Dan Risiko Pada Ibu Hamil

Preeclampsia adalah Komplikasi Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Preeclampsia adalah sebuah komplikasi serius yang terjadi selama masa kehamilan dan biasanya didiagnosis setelah usia kehamilan memasuki 20 minggu. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah yang signifikan atau hipertensi serta sering kali disertai dengan adanya kelebihan protein dalam urine yang disebut sebagai proteinuria. Gangguan medis ini tidak boleh disepelekan karena berpotensi membahayakan nyawa ibu maupun bayi yang sedang dikandung apabila tidak mendapatkan penanganan tepat. Secara fisiologis, kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan adanya masalah pada perkembangan pembuluh darah di plasenta yang berfungsi menyalurkan nutrisi dan oksigen. Gangguan pada plasenta tersebut kemudian dapat memengaruhi fungsi berbagai organ vital lainnya dalam tubuh seperti ginjal, hati, hingga sistem saraf pusat atau otak.

Mengenal Gejala Umum Preeclampsia

Gejala utama yang menjadi indikator klinis preeclampsia adalah tekanan darah yang mencapai angka 140/90 mmHg atau lebih pada ibu yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Selain itu, munculnya kandungan protein dalam urine menjadi tanda bahwa telah terjadi gangguan pada fungsi penyaringan di organ ginjal. Gejala fisik yang sering terlihat secara kasat mata adalah edema atau pembengkakan yang terjadi secara tiba-tiba terutama pada area wajah, tangan, dan kaki. Ibu hamil juga mungkin akan merasakan keluhan subjektif seperti sakit kepala yang sangat hebat dan tidak kunjung hilang meskipun telah beristirahat. Gejala sensorik lainnya mencakup gangguan penglihatan seperti pandangan yang menjadi kabur atau munculnya bintik-bintik hitam dalam lapang pandang.

  • Tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg atau diastolik di atas 90 mmHg.
  • Terdapat kandungan protein dalam pemeriksaan sampel urine (proteinuria).
  • Pembengkakan atau edema pada ekstremitas dan wajah.
  • Nyeri hebat pada perut bagian atas, tepatnya di bawah tulang rusuk.
  • Mual dan muntah yang terjadi secara tidak wajar pada trimester kedua atau ketiga.
  • Penurunan volume urine yang dikeluarkan saat buang air kecil.

Penyebab dan Faktor Risiko Preeclampsia

Meskipun dunia medis terus berkembang, penyebab pasti dari preeclampsia masih belum diketahui secara menyeluruh hingga saat ini. Namun, para ahli meyakini bahwa masalah utama bermula dari plasenta, yaitu organ yang memberikan asupan bagi janin selama di dalam kandungan. Pada kondisi normal, pembuluh darah baru berkembang untuk mengirimkan darah ke plasenta, tetapi pada kasus ini pembuluh darah tersebut tidak berkembang atau berfungsi dengan baik. Hal ini mengakibatkan keterbatasan aliran darah dan memicu reaksi peradangan sistemik pada tubuh ibu hamil. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang ibu hamil untuk mengalami kondisi medis serius ini.

  • Riwayat pernah mengalami preeclampsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Kehamilan pertama atau kehamilan dengan jarak yang terlalu jauh dari persalinan terakhir.
  • Faktor usia ibu hamil yang terlalu muda di bawah 18 tahun atau di atas 35 tahun.
  • Kondisi obesitas atau indeks massa tubuh yang melebihi batas normal sebelum hamil.
  • Kehamilan kembar atau mengandung lebih dari satu janin dalam satu waktu.
  • Memiliki riwayat penyakit kronis seperti diabetes mellitus, penyakit ginjal, atau hipertensi sebelum masa kehamilan.

Bahaya Komplikasi Akibat Preeclampsia

Preeclampsia adalah kondisi yang progresif sehingga jika dibiarkan tanpa pemantauan medis akan menyebabkan komplikasi fatal bagi ibu dan janin. Salah satu komplikasi yang paling ditakuti adalah eklampsia, yaitu terjadinya kejang-kejang pada ibu hamil yang dapat berujung pada koma atau kematian. Kondisi ini juga dapat memicu terjadinya solusio plasenta, yaitu keadaan di mana plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya persalinan. Solusio plasenta sangat berbahaya karena dapat menyebabkan perdarahan hebat pada ibu dan memutus aliran oksigen bagi janin secara mendadak. Selain itu, kegagalan fungsi organ seperti kerusakan hati dan gagal ginjal akut juga menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pasien.

  • Eklampsia atau munculnya kejang yang membahayakan sistem saraf pusat.
  • Solusio plasenta yang memicu perdarahan internal berat.
  • Sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzymes, and Low Platelet count) yang merusak sel darah dan fungsi hati.
  • Kelahiran prematur karena bayi harus segera dilahirkan demi menyelamatkan nyawa ibu.
  • Gangguan pertumbuhan janin terhambat (IUGR) akibat kurangnya nutrisi dari plasenta.

Langkah Penanganan dan Pencegahan Preeclampsia

Satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghentikan perkembangan preeclampsia adalah dengan melakukan persalinan. Namun, keputusan untuk melahirkan bayi sangat bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan usia gestasi janin saat diagnosis ditegakkan. Jika kondisi masih dalam kategori ringan dan usia janin belum mencukupi, dokter biasanya akan menyarankan istirahat total dan pemantauan ketat di rumah sakit. Penggunaan obat-obatan penurun tekanan darah (antihipertensi) dan pemberian magnesium sulfat untuk mencegah kejang sering kali menjadi bagian dari protokol penanganan medis. Pemeriksaan kehamilan secara rutin atau antenatal care merupakan kunci utama dalam mendeteksi gejala awal sedini mungkin sebelum berkembang menjadi kondisi yang tidak terkendali.

  • Melakukan pemeriksaan tekanan darah dan tes urine secara berkala setiap bulan.
  • Menjaga pola makan sehat dan mengontrol kenaikan berat badan selama kehamilan.
  • Mengonsumsi suplemen kalsium atau aspirin dosis rendah jika direkomendasikan oleh dokter spesialis kandungan.
  • Segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika merasakan tanda-tanda tidak biasa seperti nyeri ulu hati atau sakit kepala hebat.

Preeclampsia adalah kondisi medis yang memerlukan penanganan dari tenaga profesional secara cepat dan akurat. Penting bagi setiap ibu hamil untuk memahami risiko dan mengenali gejala yang muncul guna menghindari komplikasi yang tidak diinginkan. Jika terdapat keluhan terkait tekanan darah tinggi atau gejala fisik lainnya selama masa kehamilan, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis melalui aplikasi Halodoc. Melalui Halodoc, pemeriksaan kesehatan dan pemantauan kondisi janin dapat dilakukan dengan lebih mudah untuk memastikan kehamilan berjalan sehat hingga waktu persalinan tiba.