21 August 2018

Meski Rajin Olahraga, Gaya Hidup Sedentary Tetap Berbahaya

Sedentary,gaya hidup sedentary

Halodoc, Jakarta – Gaya hidup sedentary atau yang biasa disebut dengan mager (males gerak) adalah kebiasaan yang sebaiknya diatasi. Tentul kebanyakan orang tidak pernah lepas dengan kegiatan menonton televisi, bekerja di depan komputer dalam durasi lama, atau bahkan membaca buku. Kegiatan ini jika sering dan terlalu lama dilakukan akan menimbulkan pengaruh negatif bagi kesehatan. Kamu akan mudah merasa cemas, muncul penyakit kardiovaskular, diabetes, depresi, dan banyak lagi. Namun, jika kamu sudah rutin melakukan olahraga, apakah kamu akan terbebas dari berbagai penyakit?

Sayangnya tidak, itu belum cukup. Seperti yang diberitakan oleh Majalah Men’s Health di Amerika pada 2010, pekerja kantoran memiliki risiko yang besar, meskipun mereka sudah melakukan berbagai kegiatan olahraga secara rutin.

Seperti yang dikatakan Marc Hamilton, seorang fisiolog dan profesor di Pennington Biomedical Research Center di Baton Rougue, pada Men’s Health. Seorang pria yang duduk 60 jam di meja kerja tetapi masih bekerja selama 45 menit sehari lima kali seminggu masih memiliki gaya hidup yang tidak aktif. Menurut Hamilton pula, “Orang cenderung melihat aktivitas fisik pada satu kesatuan. Jauh daripada itu, kamu memerlukan olahraga supaya tubuh lebih sehat dan jauh dari gaya hidup sedentary.”

Terdapat perbedaan antara aktivitas olahraga dan aktivitas non-olahraga. Kegiatan berlari, bersepeda, atau mengangkat beban, tentu berbeda jika dibandingkan dengan memotong rumput, mencuci baju dan sejenisnya. Sebuah laporan tahun 2007 menemukan bahwa orang dengan tingkat aktivitas non-olahraga lebih banyak membakar kalori secara signifikan dibanding mereka yang berolahraga secara teratur. Kuncinya adalah berdiri. Orang yang bekerja sambil berdiri membakar kalori lebih banyak saat bekerja, dibanding berolahraga meski terus melakukan gaya hidup sedentary meskipun ia berolahraga.

Baca juga: 5 Jenis Olahraga untuk yang Mager

Dr. Peter Katzmarzyk, seorang peneliti di salah satu pusat penelitian obesitas, mengatakan bahwa bukan olahraga atau duduk yang menjadi faktor penentu kesehatan seseorang secara keseluruhan, melainkan duduk.

“Bukti bahwa duduk dikaitkan dengan penyakit jantung sangat kuat. Kita bisa melihat pada orang yang merokok dan orang yang tidak merokok. kamu juga bisa melihat pada orang yang berolahraga dan mereka yang tidak. Duduk adalah faktornya.”

Apa yang Salah dari Duduk?

Ini mungkin ada hubungannya dengan enzim yang disebut lipoprotein lipase (LPL). Enzim ini menentukan apakah seseorang akan menyimpan lemak atau membakar energi. Pada tikus yang dipaksa berbaring, aktivitas LPL menurun. Tetapi pada tikus yang berdiri sepanjang hari, tingkat LPL 10 kali lebih aktif.

Duduk dalam jangka waktu yang dalam dapat memicu penyebab kerusakan jantung, hal ini menurut sebuah studi pada bulan Oktober 2017. Sebuah tim ahli jantung menarik data lebih dari 1.700 peserta dalam Studi Jantung Dallas penelitian yang sedang berlangsung melihat pada kesehatan jantung dari kelompok pria dan wanita yang beragam etnis. Mereka menemukan bahwa duduk untuk sebagian besar hari terkait dengan penumpukan troponin, protein yang dilepaskan oleh sel-sel otot jantung ketika mereka rusak atau sekarat.

Baca juga: Generasi Millenial, Waspadai 4 Penyakit yang Mungkin Menyerang

Sementara itu dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation, peneliti menemukan bahwa duduk lebih erat terkait dengan tingkat troponin yang tidak sehat daripada olahraga dikaitkan dengan tingkat protein yang sehat.

“Buktinya sampai sampai saat ini adalah sugestif, tetapi tidak konklusif, bahwa perilaku sedentary berkontribusi pada penyakit kardiovaskular dan risiko diabetes,” ujar tim yang dipimpin oleh Deborah Young dari Kaiser Permanente, California Selatan menjelaskan dalam penelitian mereka.

Jika kamu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menonton TV, melihat layar handphone, duduk di meja atau berbaring, maka berolahraga saja tidak cukup.

“Terlepas dari seberapa banyak aktivitas fisik seseorang, waktu yang dihabiskan hanya untuk sedentary dapat berdampak negatif terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah kamu,” jelas Young.

Baca juga: 4 Olahraga yang Bisa Dilakukan Sebelum Tidur

Tapi ini bukan berarti kamu menyerah dan bersantai saja. Latihan fisik masih dapat membantu tubuh kamu dalam beberapa cara. Young menekankan bahwa penelitian timnya tidak menunjukkan hubungan langsung antara menjadi tidak aktif dan masalah kesehatan.

Nah, jika kamu memiliki kendala mengenai gaya hidup sedentary dan ingin hidup lebih sehat, kamu bisa berdiskusi dengan dokter di Halodoc. Tanya jawab melalui aplikasi Halodoc bisa dilakukan dengan cara Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, buruan download aplikasinya sekarang di Google Play atau App Store sekarang!