24 July 2018

Mitos Seputar Pencernaan Bayi dan Faktanya

pencernaan bayi

Halodoc, Jakarta – Menjaga kesehatan Si Kecil adalah hal yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Apalagi bagi orangtua baru. Selain karena pengalaman yang belum banyak, beredarnya mitos-mitos kesehatan bayi sering membuat orangtua menjadi tidak percaya diri. Padahal, belum tentu hal yang beredar tersebut mengandung kebenaran.

Salah satu informasi kesehatan yang sering salah, namun banyak dipercaya orang adalah seputar gangguan fungsi saluran cerna pada anak. Nyatanya kondisi ini adalah hal yang wajar dan sering dialami pada usia anak. Nah, saat anak mengalami gangguan pencernaan, sering muncul gejala seperti rewel, biasanya karena nyeri perut, diare, kembung, bahkan mual dan muntah.

Saat anak mengalami kondisi tersebut, ibu mungkin akan mendapat sejumlah “petuah” dari para leluhur. Tapi jangan buru-buru percaya. Biar enggak salah, perlu tahu mitos seputar pencernaan bayi dan faktanya! Apa saja?

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Pencernaan Bayi

 

  • Redakan Perut Kembung dengan Minyak Angin

 

Banyak orangtua yang percaya bahwa mengoleskan minyak angin dapat meredakan perut yang kembung. Padahal, faktanya belum ada bukti klinis yang menunjukkan hubungan antara keduanya. Kendati demikian, sensasi hangat mungkin dapat membantu memberi perasaan nyaman pada Si Kecil. Namun sebaiknya tidak terlalu banyak saat membalurkan minyak angina, sebab bisa jadi kulit anak menjadi sensitif dan mengalami gangguan karena kebiasaan itu.

 

  • Memberi Kopi pada Bayi yang Sembelit

 

Ada juga mitos yang menyebutkan bahwa memberi kopi pada anak dapat membantu menyembuhkan sembelit alias konstipasi. Kondisi ini terjadi saat Si Kecil mengalami keluhan sulit buang air besar (BAB) dalam waktu yang lama.

Faktanya, pemberian kopi sama sekali tidak dianjurkan. Sembelit terjadi karena kurangnya asupan serat pada anak. Memberi kopi memang bisa merangsang aktivitas saluran pencernaan, namun hal ini juga bisa memicu hal yang berbahaya pada bayi. Kopi dapat memancing peningkatan produksi urine, dan menyebabkan cairan banyak terbuang dari tubuh. Hal ini malah bisa menyebabkan anak mengalami dehidrasi alias kekurangan cairan.

 

  • Gumoh Berarti ada Masalah Nutrisi

 

Mitos yang beredar bahwa gumoh pada bayi bisa menjadi tanda bahwa ada ketidakseimbangan nutrisi pada Si Kecil. Sebenarnya mitos ini tidak sepenuhnya salah. Gumoh adalah hal yang biasanya terjadi pada bayi, selama masih dalam batas wajar. Yang perlu diwaspadai adalah jika bayi gumoh secara berlebihan.

Sebab gumoh secara berlebihan dapat memengaruhi nutrisi dan tumbuh kembang anak, sehingga patut untuk diwaspadai. Namun umumnya bayi akan berhenti mengalami gumoh setelah melewati usia 6 bulan. Yang perlu diingat, gumoh sebenarnya berbeda dengan muntah. Gumoh terjadi sesaat setelah bayi mendapat asupan, dan terjadi begitu saja.

Baca juga: Radang Usus Entercolitis Rentan Serang Anak Hingga Timbulkan Sepsis

Nutrisi Tepat untuk Menjaga Kesehatan Pencernaan Si Kecil

Salah satu kunci untuk menjaga kesehatan pencernaan bayi adalah dengan memenuhi kebutuhan tubuhnya. Mulai dari kebutuhan serat, cairan, dan aktivitas fisik. Sangat penting untuk memperhatikan asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, yang kemudian akan dicerna anak.

Memastikan higienitas dari makanan dan minuman yang dikonsumsi anak juga bisa membantu mencegah terjadinya gangguan pencernaan. Penuhi juga asupan cairan untuk memastikan kerja sistem pencernaan bekerja dengan sempurna.

Baca juga: Resep MPASI untuk Bayi Usia 6-8 Bulan

Jika masalah kesehatan dan gangguan pencernaan anak terus terjadi, coba bicarakan dengan dokter di aplikasi Halodoc. Lebih mudah menghubungi dokter lewat Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan rekomendasi beli obat dan tips menjaga kesehatan dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!