Ad Placeholder Image

Mumps Gondongan: Ini Lho Gejala dan Pencegahannya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   03 Maret 2026

Mumps Gondongan: Pahami Gejala, Penyebab, dan Cegah!

Mumps Gondongan: Ini Lho Gejala dan PencegahannyaMumps Gondongan: Ini Lho Gejala dan Pencegahannya

Mumps Adalah: Memahami Gondongan, Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya

Gondongan, atau yang secara medis dikenal sebagai mumps, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus. Kondisi ini umum terjadi dan menyerang kelenjar ludah, khususnya kelenjar parotis yang terletak di dekat telinga. Pembengkakan pada pipi dan rahang menjadi gejala utama mumps, sering disertai demam, nyeri saat menelan, dan sakit kepala.

Penularan virus mumps sangat mudah terjadi melalui percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Kontak langsung dengan penderita atau berbagi alat makan juga dapat menjadi jalur penularan. Meskipun umumnya tidak serius, mumps dapat menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Pencegahan paling efektif adalah melalui imunisasi.

Apa Itu Mumps? Definisi Gondongan

Mumps adalah infeksi virus akut yang ditandai dengan pembengkakan dan peradangan pada kelenjar parotis, salah satu kelenjar ludah terbesar. Kelenjar ini berfungsi memproduksi air liur dan terletak di kedua sisi wajah, tepat di bawah telinga. Penyakit ini disebabkan oleh virus paramyxovirus.

Setelah terinfeksi, virus akan menyerang sel-sel kelenjar parotis, menyebabkan respons peradangan. Gondongan merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang padat. Pemahaman mengenai definisi ini penting untuk mengenali dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Penyebab Mumps: Infeksi Virus Paramyxovirus

Penyebab utama mumps adalah infeksi oleh virus Paramyxovirus. Virus ini termasuk dalam kelompok virus RNA yang menyerang sistem pernapasan dan kelenjar. Ketika seseorang terpapar virus mumps, virus akan masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan atas.

Virus kemudian bereplikasi dan menyebar ke kelenjar ludah, terutama kelenjar parotis. Setelah kelenjar terinfeksi, virus dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah. Periode inkubasi virus, yaitu waktu dari paparan hingga munculnya gejala, umumnya berkisar antara 16 hingga 18 hari.

Gejala Mumps yang Perlu Diwaspadai

Gejala mumps biasanya muncul beberapa minggu setelah seseorang terinfeksi virus. Mengenali gejala-gejala ini sangat penting untuk penanganan dini dan mencegah penularan lebih lanjut.

Berikut adalah gejala mumps yang umum terjadi:

  • Pembengkakan Kelenjar Parotis: Ini adalah gejala paling khas. Pembengkakan terjadi di bawah telinga atau rahang, bisa pada satu sisi atau kedua sisi wajah. Area yang bengkak terasa nyeri saat disentuh.
  • Demam: Penderita sering mengalami demam ringan hingga sedang. Suhu tubuh dapat meningkat sebagai respons alami tubuh terhadap infeksi virus.
  • Sakit Kepala dan Nyeri Otot: Sakit kepala dan nyeri pada otot-otot tubuh merupakan gejala umum infeksi virus. Rasa tidak nyaman ini bisa mengurangi aktivitas sehari-hari.
  • Nyeri Saat Mengunyah atau Menelan: Karena pembengkakan kelenjar ludah, penderita mungkin merasakan nyeri ketika menggerakkan rahang untuk mengunyah atau saat menelan makanan.
  • Nafsu Makan Berkurang dan Kelelahan: Kombinasi demam, nyeri, dan rasa tidak nyaman di mulut dapat menyebabkan penurunan nafsu makan. Penderita juga sering merasa sangat lelah dan lesu.

Beberapa penderita mumps mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali atau hanya mengalami gejala ringan. Namun, mereka tetap dapat menularkan virus kepada orang lain.

Bagaimana Mumps Menular?

Mumps adalah penyakit yang sangat menular dan penyebarannya terjadi dengan mudah antarindividu. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan percikan ludah atau air liur dari orang yang terinfeksi.

Berikut adalah cara penularan mumps:

  • Percikan Udara (Droplet): Saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, virus dapat menyebar melalui percikan air liur di udara. Orang di sekitarnya yang menghirup udara terkontaminasi berisiko terinfeksi.
  • Kontak Langsung: Bersentuhan langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan penderita dapat menularkan virus. Contohnya adalah berjabat tangan lalu menyentuh wajah sendiri.
  • Berbagi Alat Makan atau Minum: Menggunakan sendok, garpu, gelas, atau botol minum yang sama dengan penderita mumps sangat berisiko tinggi menularkan virus.

Penderita mumps dapat menularkan virus bahkan sebelum gejala pembengkakan muncul. Masa penularan dimulai sekitar tiga hari sebelum pembengkakan kelenjar parotis terlihat hingga sekitar lima hari setelah pembengkakan mereda.

Pencegahan Mumps Melalui Vaksinasi

Pencegahan mumps yang paling efektif adalah melalui vaksinasi. Vaksin yang digunakan untuk mumps adalah vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), yang juga melindungi dari campak dan rubella.

Jadwal pemberian vaksin MMR yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:

  • Dosis Pertama: Diberikan saat anak berusia 15 hingga 18 bulan.
  • Dosis Kedua: Diberikan pada usia 5 hingga 7 tahun, atau sebelum anak memasuki sekolah dasar.

Vaksin MMR sangat aman dan efektif dalam memberikan kekebalan terhadap virus mumps. Vaksinasi tidak hanya melindungi individu yang divaksin, tetapi juga membantu menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) yang melindungi komunitas. Kekebalan kelompok penting untuk melindungi bayi yang terlalu muda untuk divaksin atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Penanganan Mumps dan Kapan Harus ke Dokter

Mumps adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, sehingga tidak ada obat antivirus spesifik untuk mengobatinya. Penanganan mumps berfokus pada meredakan gejala dan mendukung proses pemulihan alami tubuh.

Berikut adalah beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan:

  • Istirahat Cukup: Tidur yang cukup membantu tubuh melawan infeksi dan mempercepat pemulihan.
  • Kompres Area yang Bengkak: Menggunakan kompres dingin atau hangat pada area kelenjar parotis yang bengkak dapat membantu meredakan nyeri dan pembengkakan.
  • Minum Air Putih yang Cukup: Hidrasi yang baik sangat penting untuk mencegah dehidrasi, terutama jika penderita mengalami demam atau kesulitan menelan.
  • Konsumsi Makanan Lunak: Hindari makanan yang memerlukan banyak kunyahan atau bersifat asam, karena dapat memperparah nyeri pada kelenjar ludah. Makanan lunak seperti bubur, sup, atau puding lebih mudah ditelan.
  • Obat Pereda Nyeri: Obat pereda nyeri yang dijual bebas seperti parasetamol atau ibuprofen dapat membantu mengurangi demam dan nyeri otot. Penggunaannya harus sesuai dosis yang dianjurkan.

Meskipun komplikasi mumps jarang terjadi, beberapa kondisi dapat berdampak jangka panjang dan memerlukan penanganan medis segera.

Segera cari pertolongan medis jika terjadi gejala berat seperti:

  • Demam tinggi (di atas 39°C).
  • Nyeri perut yang parah.
  • Pembengkakan atau nyeri pada testis (pada pria).
  • Kekakuan leher atau sakit kepala hebat.
  • Kebingungan atau kesulitan bangun.
  • Pembengkakan pada satu atau kedua testis (orchitis).
  • Tanda-tanda dehidrasi.

Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi komplikasi serius seperti meningitis, pankreatitis, atau orchitis. Penanganan medis yang cepat dapat mencegah dampak buruk lebih lanjut.

Kesimpulan dan Rekomendasi Medis Halodoc

Mumps adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Paramyxovirus dan sangat menular, ditandai dengan pembengkakan kelenjar parotis. Gejala umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan nyeri saat mengunyah atau menelan. Vaksinasi MMR merupakan cara paling efektif untuk mencegah penularan mumps.

Apabila mengalami gejala mumps atau memiliki kekhawatiran terkait kondisi kesehatan, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Melalui Halodoc, pemeriksaan medis yang tepat dapat diberikan untuk memastikan diagnosis dan rekomendasi penanganan sesuai kondisi kesehatan. Jangan tunda untuk mendapatkan nasihat profesional guna menjaga kesehatan dan mencegah komplikasi serius.