• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Otot Jantung Bermasalah, Ini yang Disebut Kardiomiopati

Otot Jantung Bermasalah, Ini yang Disebut Kardiomiopati

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mengalami kondisi napas pendek setelah melakukan aktivitas berat yang disertai dengan nyeri dada atau pusing? Wah, sebaiknya jangan sepelekan keluhan kesehatan ini. Kondisi ini bisa menjadi tanda penyakit kardiomiopati. Penyakit ini merupakan salah satu kondisi akibat adanya kelainan pada otot jantung. Penyebabnya tentu berbeda-beda pada setiap pengidap yang mengalaminya.

Baca juga: Kenali Gejala yang Disebabkan Kardiomiopati

Namun, untuk menghindari komplikasi yang lebih berbahaya bagi kesehatan, sebaiknya ketahui lebih banyak mengenai penyakit ini. Dengan begitu, kamu dapat melakukan pencegahan dan juga penanganan yang tepat terhadap kardiomiopati. Yuk, simak ulasannya dalam artikel ini!

Kenali Penyebab Kardiomiopati

Kardiomiopati merupakan penyakit otot jantung yang membuat jantung kesulitan untuk memompa darah menuju seluruh tubuh. Kondisi ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Penyebab kardiomiopati juga berbeda pada tiap pengidapnya dan disesuaikan dengan jenis kardiomiopati yang dialami.

1. Dilated Cardiomyopathy

Jenis ini terjadi karena ruang bilik kiri jantung membesar dan melebar. Dilated Chardiomyopathy merupakan jenis yang paling sering terjadi. Ibu hamil atau ibu setelah persalinan cukup berisiko mengalami kondisi ini.

2. Hyperthropic Cardiomyopathy

Kondisi ini disebabkan adanya penebalan dinding dan otot jantung secara tidak normal.

3. Restrictive Cardiomyopathy

Otot jantung yang kaku dan tidak elastis membuat jantung tidak dapat mengembang dan menampung darah dengan baik.

4. Arrythmogenic Right Ventricular Cardiomyopathy

Kondisi ini terjadi akibat munculnya jaringan parut pada bilik jantung sebelah kanan. Hal ini bisa menyebabkan detak jantung tidak beraturan. Umumnya, kondisi ini disebabkan adanya kelainan genetik.

Selain keempat penyebab tersebut, ada beberapa faktor pemicu yang meningkatkan risiko kardiomiopati. Mulai dari memiliki riwayat hipertensi kronis, riwayat kardiomiopati pada keluarga, pernah mengalami gagal jantung dan serangan jantung, obesitas, kehamilan, hingga penggunaan obat-obatan terlarang.

Baca juga: Awas, 10 Faktor Ini Bisa Tingkatkan Risiko Kardiomiopati

Waspadai Gejala Kardiomiopati

Penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang cukup berbahaya. Pasalnya, kardiomiopati sering tidak menunjukkan gejala apapun pada tingkat awal gangguan penyakit ini. Namun, saat kondisi semakin memburuk, ada beberapa gejala yang kerap dialami oleh pengidap kardiomiopati, seperti:

1. Napas menjadi lebih sulit dan pendek ketika pengidap melakukan kegiatan yang cukup berat dengan frekuensi yang cukup panjang.

2. Mengalami pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, seperti pergelangan kaki hingga kaki.

3. Perut kembung karena ada penumpukan cairan dalam perut.

4. Batuk yang terjadi ketika pengidap berbaring.

5. Mengalami kesulitan untuk berbaring dalam posisi telentang.

6. Kelelahan terus-menerus.

7. Detak jantung terasa lebih cepat atau menjadi berdebar-debar.

8. Nyeri dada dan tidak nyaman pada area dada.

9. Pusing hingga pingsan.

Jika kamu mengalami beberapa gejala tersebut, jangan ragu untuk lakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Memeriksa riwayat kesehatan, menjalani EKG, USG jantung, serta rontgen dada menjadi beberapa cara pemeriksaan lanjutan yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis kardiomiopati.

Tak perlu repot untuk lakukan pemeriksaan, kini kamu bisa membuat janji dengan rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play!

Baca juga: Idap Kardiomiopati, Jalani Pola Sehat Hidup Ini

Bisakah Kardiomiopati Disembuhkan?

Tujuan pengobatan kardiomiopati adalah untuk memperlambat perkembangan penyakit, menurunkan risiko gejala, hingga mencegah terjadinya kematian mendadak. Jika kamu didiagnosis mengalami kardiomiopati, hal pertama yang akan disarankan oleh dokter adalah menjalani pola makan lebih sehat, rutin melakukan aktivitas fisik, mengurangi tingkat stres, hingga menghindari pengonsumsian alkohol.

Selain itu, ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan sebagai pengobatan bagi pengidap kardiomiopati. Penggunaan obat-obatan digunakan untuk menurunkan kondisi pemicu atau gejala yang dirasakan pengidap kardiomiopati. Penggunaan alat pacu jantung, tindakan operasi, dan transplantasi jantung menjadi pengobatan lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi kardiomiopati.

Jika tidak diatasi dengan baik, kardiomiopati dapat memicu berbagai komplikasi yang lebih buruk untuk kesehatan. Mulai dari gagal jantung, penggumpalan darah, hingga kematian mendadak.Untuk itu, sangat penting selalu menjaga kesehatan jantung dengan menjalani gaya hidup dan pola makan sehat!

Referensi:
National Heart, Lung, and Blood Institute. Diakses pada 2021. Cardiomyopathy
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Cardiomyopathy.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2021. Cardiomyopathy.
Healthline. Diakses pada 2021. Cardiomyopathy.