• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengobatan Anemia Hemolitik yang Bisa Dilakukan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengobatan Anemia Hemolitik yang Bisa Dilakukan

Pengobatan Anemia Hemolitik yang Bisa Dilakukan

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 31 Mei 2021
Pengobatan Anemia Hemolitik yang Bisa Dilakukan

Halodoc, Jakarta - Mau tahu berapa banyaknya pengidap anemia secara global? Jangan kaget, menurut dari dari WHO, sekitar 2,3 miliar orang mengidap anemia. Sangat banyak, bukan? Dari angka tersebut prevalensi tercatat di Asia dan Afrika, yaitu 85 persen. 

Di Asia Tenggara sendiri, sekitar 202 juta wanita mengidap anemia. Untuk Indonesia sendiri, pengidap anemia paling tinggi dialami oleh remaja putri dan ibu hamil. Nah, menyoal anemia ini, sebenarnya ada beragam jenis anemia yang bisa menyerang seseorang, salah satunya anemia hemolitik.

Seseorang yang mengidap gangguan ini perlu mendapatkan pengobatan untuk mencegah gejalanya karena dapat mengganggu aktivitas harian. Meski begitu, masih banyak orang yang belum tahu pengobatan yang efektif untuk dilakukan. Nah, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar anemia hemolitik dapat ditangani dengan baik!

Baca juga: Bayi Baru Lahir Rentan Alami Anemia Hemolitik

Beberapa Cara Pengobatan Anemia Hemolitik yang Efektif

Pada tubuh yang sehat, sel darah merah memiliki waktu hidup selama sekitar 120 hari sebelum akhirnya hancur dan digantikan oleh sel darah merah baru. Nah, seseorang yang mengidap anemia hemolitik, sel darah merahnya akan hancur sebelum waktunya. 

Pada keadaan awal, sumsum tulang belakang akan berusaha mengatasi kekurangan darah merah dengan menghasilkan sel darah merah dengan lebih cepat. Namun, bila kondisi hancurnya sel darah merah berlangsung terus-menerus, maka usaha kompensasi dari sumsum tulang akan gagal dan terjadilah anemia. 

Jangan anggap remeh berbagai jenis anemia, termasuk anemia hemolitik. Sebab, anemia hemolitik dapat merupakan kondisi yang ringan, tetapi dapat pula berat dan mengancam nyawa.

Lantas, bagaimana sih cara pengobatan anemia hemolitik? 

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya berkenalan terlebih dahulu dengan gejalanya. Ketika seseorang mengidap anemia hemolitik yang ringan, umumnya mereka tidak merasakan gejala atau keanehan pada tubuh. Pada fase selanjutnya (berat), keluhan sejalan dengan jumlah kekurangan sel darah merah di dalam tubuh. Berikut ini gejala yang cenderung dialami banyak orang dengan anemia hemolitik:

  • Demam;
  • Pusing;
  • Mudah merasa lelah; 
  • Tekanan darah rendah; 
  • Kulit dan bagian putih mata menguning;
  • Pembesaran hati; 
  • Perubahan warna kulit; 
  • Warna urine yang menjadi lebih gelap; 
  • Detak jantung cepat; 
  • Sesak napas; 
  • Nyeri perut; 
  • Luka pada kaki;
  • Pembesaran limfa; 
  • Nyeri dada.

Nah, bila kamu atau anggota keluarga ada yang mengalami gejala-gejala di atas, segeralah tanyakan pada dokter untuk mendapatkan pengobatan anemia hemolitik yang tepat. Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Cukup dengan download aplikasi Halodoc, kemudahan interaksi hanya dengan penggunaan smartphone dapat dilakukan.

Baca juga: Anemia Aplastik Vs Anemia Hemolitik, Mana yang Lebih Bahaya?

Lalu, bagaimana cara mengatasi anemia jenis ini? 

Untuk pengobatan anemia hemolitik, dokter akan menyesuaikan dengan berbagai faktor yang ada pada pengidapnya. Contohnya, penyebab, usia pengidap, riwayat medis, ataupun kondisi kesehatan secara menyeluruh. 

Nah, metode pengobatan anemia hemolitik yang umumnya dilakukan, antara lain:

  • Terapi asam folat.
  • Kortikosteroid. Kortikosteroid diberikan pada pengidap anemia hemolitik dengan autoimun. 
  • Immunoglobulin G intravena.
  • Terapi eritropoetin. Terapi ini diberikan pada pasien dengan gagal ginjal.
  • Memberhentikan konsumsi obat yang bisa meningkatkan risiko timbulnya anemia hemolitik. 

Selain hal-hal di atas, ada juga metode lainnya. Metode pengobatan di bawah ini dilakukan bila tingkat anemia hemolitik dinilai cukup parah, yaitu: 

  • Transfusi darah. Terapi ini biasanya diberikan kepada pengidap anemia hemolitik berat atau dengan gangguan jantung/paru, seperti penyakit thalasemia atau penyakit sel sabit. Meski begitu, transfusi darah memiliki efek samping. Contohnya, penumpukan besi di dalam tubuh akibat transfusi berulang.
  • Plasmapheresis. Prosedur ini berguna untuk menghilangkan antibodi dari darah. Caranya, darah diambil dari tubuh menggunakan jarum yang dimasukkan ke pembuluh darah dan plasma, yang mengandung antibodi, dipisahkan dari darah lainnya. Lalu, plasma dari donor dan sisa darah dimasukkan kembali ke tubuh.
  • Transplantasi Sel Induk Darah dan Sumsum Tulang. Metode ini dapat digunakan untuk pengobatan anemia hemolitik. Hal ini mampu menggantikan sel induk yang rusak dengan yang sehat dari donor. Selama transplantasi, donor disumbangkan melalui tabung yang ditempatkan di pembuluh darah. Setelah adanya sel induk baru, tubuh mulai memproduksi sel darah yang baru pula. 
  • Operasi pengangkatan limfa. Tindakan ini dilakukan sebagai pilihan dalam kasus-kasus hemolisis yang tidak merespon kortikosteroid dan imunosupresan.

Baca juga: Begini Diagnosis Anemia Hemolitik yang Tepat

Itulah beberapa metode yang dapat dilakukan sebagai pengobatan dari anemia hemolitik. Hal yang paling penting sebelum pengobatan adalah memastikan jika gejala yang dirasakan benar akibat gangguan anemia ini. Selain itu, segala penyebabnya juga dapat membuat ahli medis dapat menentukan penanganan yang paling efektif.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2021. Hemolytic Anemia: What It Is and How to Treat It.
MedlinePlus. Diakses pada 2021. Hemolytic anemia.
Hematology-Oncology Associates of CNY. Diakses pada 2021. How Is Hemolytic Anemia Treated?