Ad Placeholder Image

Penyakit Tuna Rungu: Kenali Penyebab dan Solusinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   05 Mei 2026

Penyakit Tuna Rungu: Fakta Penting yang Perlu Tahu

Penyakit Tuna Rungu: Kenali Penyebab dan SolusinyaPenyakit Tuna Rungu: Kenali Penyebab dan Solusinya

Mengenal Penyakit Tuna Rungu: Definisi, Penyebab, dan Penanganannya

Penyakit tuna rungu adalah gangguan pendengaran yang menyebabkan seseorang sulit mendengar atau tidak dapat mendengar suara sama sekali. Kondisi ini dapat terjadi sejak lahir (bawaan) atau berkembang setelah lahir akibat berbagai faktor. Klasifikasi tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat berat, yang sering disebut tuli. Gangguan pendengaran ini secara signifikan memengaruhi kemampuan komunikasi dan perkembangan bahasa individu.

Definisi Penyakit Tuna Rungu

Tuna rungu merujuk pada kondisi hilangnya atau menurunnya kemampuan pendengaran. Kondisi ini bisa bersifat unilateral (mengenai satu telinga) atau bilateral (mengenai kedua telinga). Tingkat keparahannya dikategorikan berdasarkan seberapa keras suara yang harus didengar seseorang untuk dapat mengenalinya, mulai dari gangguan pendengaran ringan, sedang, berat, hingga sangat berat (tuli total).

Gangguan pendengaran dapat bersifat sensorineural, konduktif, atau campuran. Pada beberapa kasus, tuna rungu juga bisa terjadi bersamaan dengan gangguan penglihatan, yang dikenal sebagai tuna rungu-buta.

Penyebab Penyakit Tuna Rungu

Penyebab penyakit tuna rungu sangat beragam, baik yang bersifat bawaan sejak lahir maupun yang didapat setelah lahir. Pemahaman tentang penyebab penting untuk pencegahan dan penanganan.

  • Faktor Genetik/Keturunan
  • Sebagian besar kasus tuna rungu bawaan disebabkan oleh faktor genetik. Hal ini bisa terjadi karena mutasi gen tertentu atau pewarisan gen resesif dari kedua orang tua. Meskipun orang tua tidak mengalami gangguan pendengaran, mereka bisa menjadi pembawa gen yang dapat menyebabkan anak mengalami tuna rungu.

  • Infeksi Selama Kehamilan
  • Infeksi yang dialami ibu hamil dapat merusak organ pendengaran janin. Infeksi TORCH adalah salah satu penyebab utama, meliputi:

    • Toksoplasmosis: Infeksi akibat parasit yang bisa ditularkan dari hewan peliharaan atau makanan.
    • Rubella (Campak Jerman): Infeksi virus yang sangat berbahaya jika terjadi pada trimester pertama kehamilan.
    • Cytomegalovirus (CMV): Virus umum yang sering tanpa gejala pada orang dewasa tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius pada janin.
    • Herpes: Infeksi virus herpes simplex.

    Infeksi lain seperti sifilis dan Zika juga berpotensi merusak pendengaran janin.

  • Faktor Lingkungan (Setelah Lahir)
  • Beberapa kondisi setelah lahir juga dapat memicu atau memperparah gangguan pendengaran, antara lain:

    • Paparan Suara Keras: Kebiasaan mendengarkan musik dengan volume tinggi atau bekerja di lingkungan bising tanpa pelindung telinga dapat merusak sel-sel rambut di koklea.
    • Cedera: Trauma kepala atau telinga dapat menyebabkan kerusakan pada struktur pendengaran.
    • Penyakit Tertentu: Infeksi telinga berulang (otitis media), meningitis, gondongan, atau penyakit autoimun dapat memengaruhi fungsi pendengaran.
    • Efek Samping Obat: Beberapa jenis obat, seperti antibiotik golongan aminoglikosida, diuretik kuat, atau kemoterapi tertentu, bersifat ototoksik, artinya berpotensi merusak telinga.
    • Usia: Penurunan pendengaran akibat usia tua (presbikusis) adalah kondisi alami yang sering terjadi.

Gejala Penyakit Tuna Rungu

Gejala tuna rungu bervariasi tergantung usia dan tingkat keparahan gangguan. Pada bayi, gejala dapat berupa tidak terkejut oleh suara keras atau tidak menoleh ke sumber suara. Anak-anak mungkin mengalami keterlambatan bicara atau kesulitan dalam mengikuti instruksi di sekolah.

Pada orang dewasa, gejala umumnya meliputi kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai, sering meminta orang lain mengulang perkataan, volume TV atau radio yang terlalu tinggi, serta sulit memahami suara berbisik.

Diagnosis Penyakit Tuna Rungu

Diagnosis penyakit tuna rungu melibatkan serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis THT. Pada bayi baru lahir, skrining pendengaran wajib dilakukan melalui tes OAE (Otoacoustic Emissions) atau BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry). Untuk anak-anak dan dewasa, tes audiometri nada murni, audiometri tutur, atau timpanometri dapat dilakukan untuk menentukan jenis dan tingkat keparahan gangguan pendengaran.

Penanganan Penyakit Tuna Rungu

Penanganan tuna rungu disesuaikan dengan penyebab, jenis, dan tingkat keparahannya. Tujuan penanganan adalah memaksimalkan kemampuan pendengaran dan komunikasi penderita.

  • Alat Bantu Dengar (ABD)
  • Untuk gangguan pendengaran ringan hingga berat, alat bantu dengar sering menjadi solusi. Alat ini bekerja dengan memperkuat suara, sehingga memudahkan penderita untuk mendengar dan memahami pembicaraan.

  • Implan Koklea
  • Pada kasus tuli sensorineural yang sangat berat, di mana alat bantu dengar tidak lagi efektif, implan koklea bisa menjadi pilihan. Implan ini adalah perangkat elektronik yang ditanamkan melalui operasi untuk merangsang saraf pendengaran secara langsung.

  • Terapi Wicara dan Auditori
  • Terapi ini penting, terutama untuk anak-anak dengan tuna rungu. Terapi wicara membantu mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa, sementara terapi auditori melatih otak untuk menginterpretasikan suara yang diterima.

  • Penanganan Medis Lainnya
  • Jika penyebabnya adalah infeksi atau kondisi medis tertentu, pengobatan yang tepat akan diberikan. Misalnya, antibiotik untuk infeksi telinga. Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah telinga tengah, seperti otosklerosis atau gendang telinga yang berlubang.

Pencegahan Penyakit Tuna Rungu

Meskipun beberapa jenis tuna rungu tidak dapat dicegah, upaya pencegahan dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya gangguan pendengaran yang didapat.

  • Vaksinasi: Vaksinasi MR (Measles-Rubella) pada wanita usia subur dapat mencegah rubella selama kehamilan.
  • Perlindungan Pendengaran: Menghindari paparan suara keras, menggunakan pelindung telinga di lingkungan bising, dan membatasi volume perangkat audio.
  • Pemeriksaan Kehamilan Rutin: Skrining infeksi TORCH pada ibu hamil.
  • Pemeriksaan Pendengaran Rutin: Terutama pada bayi baru lahir dan individu yang berisiko tinggi.
  • Hindari Obat Ototoksik: Konsultasikan dengan dokter mengenai risiko efek samping obat terhadap pendengaran.

Konsultasi dengan Ahli di Halodoc

Memahami penyakit tuna rungu adalah langkah awal penting. Jika terdapat kekhawatiran mengenai kemampuan pendengaran, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat, disarankan untuk segera mencari bantuan medis. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

Untuk diagnosis akurat dan rencana penanganan yang sesuai, konsultasikan masalah pendengaran dengan dokter spesialis THT melalui Halodoc. Aplikasi Halodoc memudahkan akses ke layanan kesehatan tepercaya, mulai dari konsultasi online hingga pembuatan janji temu dengan dokter.