Apa Penyebab Mata Juling? Simak Yuk Penjelasannya!

Ringkasan Singkat:
Mata juling atau strabismus terjadi ketika mata tidak sejajar dan fokus ke arah yang berbeda. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh ketidakseimbangan otot penggerak bola mata atau gangguan saraf dan otak yang mengontrolnya. Berbagai faktor risiko juga dapat memicu mata juling, termasuk genetik, kelainan refraksi seperti rabun jauh atau astigmatisme, kelahiran prematur, serta kondisi medis seperti diabetes atau Penyakit Graves. Penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter mata jika gejala mata juling muncul, terutama pada anak-anak, guna mencegah masalah penglihatan permanen.
Definisi Mata Juling (Strabismus)
Mata juling, dalam istilah medis disebut strabismus, adalah kondisi ketika kedua mata tidak sejajar atau tidak dapat fokus ke arah yang sama secara bersamaan. Satu mata mungkin melihat lurus ke depan, sementara mata lainnya mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Kondisi ini dapat terjadi secara terus-menerus atau muncul sesekali.
Normalnya, otot-otot di sekitar kedua mata bekerja sama untuk mengarahkan pandangan ke satu titik. Pada penderita strabismus, koordinasi otot-otot ini terganggu, menyebabkan satu mata bergeser dari posisinya yang sejajar. Strabismus dapat memengaruhi penglihatan binokular, yaitu kemampuan kedua mata untuk bekerja bersama dan menciptakan persepsi kedalaman yang akurat.
Apa Penyebab Mata Juling?
Penyebab mata juling utamanya adalah ketidakseimbangan pada sistem visual yang mengendalikan gerakan mata. Gangguan ini mencegah kedua mata untuk bekerja secara harmonis dan fokus pada satu objek. Pemahaman akan penyebab ini sangat penting untuk penanganan yang tepat.
Ketidakseimbangan Otot Mata
Otot penggerak bola mata memiliki peran vital dalam mengarahkan pandangan. Terdapat enam otot pada setiap mata yang bertanggung jawab untuk menggerakkan bola mata ke berbagai arah. Pada kondisi mata juling, otot-otot ini tidak bekerja secara seimbang.
Satu otot mungkin terlalu kuat atau terlalu lemah dibandingkan otot lainnya, sehingga menyebabkan satu mata tertarik ke arah yang berbeda. Ketidakseimbangan ini membuat mata sulit untuk sejajar, menghasilkan tampilan juling.
Gangguan Saraf atau Otak
Selain masalah pada otot mata itu sendiri, gangguan pada saraf atau otak juga dapat menjadi pemicu strabismus. Otak dan saraf bertanggung jawab mengirimkan sinyal yang mengontrol gerakan mata. Apabila ada gangguan pada jalur sinyal ini, koordinasi mata menjadi terganggu.
Sinyal yang tidak sampai atau terdistorsi dapat menyebabkan otot mata tidak menerima instruksi yang benar. Akibatnya, satu mata mungkin tidak merespons sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk sejajar dengan mata lainnya.
Faktor Risiko dan Kondisi Terkait Mata Juling
Selain penyebab utama, beberapa faktor risiko dan kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami mata juling. Mengenali faktor-faktor ini dapat membantu dalam deteksi dini dan pengelolaan kondisi.
Gangguan Penglihatan (Kelainan Refraksi)
Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi adalah salah satu faktor risiko umum mata juling. Ini termasuk rabun jauh (miopia), rabun dekat (hiperopia), atau astigmatisme (silinder). Kondisi ini membuat mata berusaha lebih keras untuk fokus.
Jika satu mata memiliki kelainan refraksi yang lebih parah atau tidak terkoreksi, mata tersebut mungkin akan “bergeser” untuk menghindari penglihatan ganda atau untuk mencoba melihat lebih jelas. Hal ini sering terjadi pada anak-anak yang belum terdiagnosis.
Faktor Genetik
Riwayat keluarga dengan mata juling meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan kondisi serupa. Adanya riwayat strabismus dalam keluarga menunjukkan adanya kecenderungan genetik terhadap kelemahan atau ketidakseimbangan otot mata. Genetik berperan dalam cara mata dan sistem visual berkembang.
Kelainan Bawaan
Beberapa kelainan bawaan atau kondisi perkembangan neurologis dapat berhubungan dengan mata juling. Ini termasuk sindrom Down, cerebral palsy, hidrosefalus, atau kelahiran prematur. Kelainan ini dapat memengaruhi perkembangan otak dan saraf yang mengontrol gerakan mata. Gangguan perkembangan pada bayi prematur juga dapat memengaruhi koordinasi mata.
Kondisi Medis Lain
Berbagai kondisi medis dapat meningkatkan risiko mata juling atau menjadi pemicunya. Beberapa di antaranya adalah:
- Diabetes, yang dapat merusak saraf di seluruh tubuh, termasuk saraf mata.
- Penyakit Graves, suatu kondisi autoimun yang memengaruhi kelenjar tiroid dan dapat menyebabkan masalah pada otot mata.
- Tumor otak atau stroke, yang dapat merusak pusat kontrol gerakan mata di otak.
- Kanker mata seperti retinoblastoma, meskipun jarang, juga dapat memicu mata juling.
Cedera
Cedera fisik pada kepala atau mata dapat merusak saraf atau otot yang bertanggung jawab untuk gerakan mata. Trauma ini dapat menyebabkan mata juling mendadak atau bertahap, tergantung pada tingkat keparahan cedera. Pemeriksaan segera diperlukan setelah cedera yang melibatkan kepala atau mata.
Infeksi
Beberapa infeksi virus, seperti campak, dapat menjadi pemicu strabismus dalam kasus tertentu. Infeksi ini dapat menyebabkan peradangan atau komplikasi neurologis yang memengaruhi kontrol otot mata. Kondisi ini biasanya bersifat sementara, namun memerlukan pemantauan medis.
Kebiasaan Penggunaan Gawai Terlalu Lama
Penggunaan gawai atau layar gadget yang berlebihan, terutama dalam waktu yang lama, dapat memicu kelelahan otot mata. Meskipun bukan penyebab langsung strabismus, kelelahan mata kronis dapat memperburuk kondisi mata juling yang sudah ada atau meningkatkan risiko pada individu yang rentan. Hal ini disebabkan mata harus bekerja lebih keras untuk fokus pada jarak dekat.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat krusial dalam kasus mata juling, terutama pada anak-anak. Jika seseorang atau anak menunjukkan gejala mata juling, segera konsultasikan ke dokter mata. Gejala ini bisa berupa mata yang terlihat tidak sejajar, sering memiringkan kepala saat melihat, atau mengeluhkan penglihatan ganda.
Penanganan yang terlambat, terutama pada masa kanak-kanak, dapat menyebabkan ambliopia atau “mata malas”, yaitu penurunan tajam penglihatan permanen pada mata yang juling. Dokter mata dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebab dan merekomendasikan pilihan pengobatan terbaik.
Kesimpulan
Mata juling (strabismus) merupakan kondisi kompleks yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan otot mata hingga gangguan saraf dan otak. Faktor genetik, kelainan refraksi, kondisi medis bawaan atau didapat, cedera, infeksi, hingga kebiasaan modern seperti penggunaan gawai berlebihan juga turut berkontribusi. Menyadari “apa penyebab mata juling” sangat penting untuk memahami mengapa kondisi ini terjadi.
Penting untuk tidak menunda pemeriksaan jika terdapat gejala mata juling. Konsultasi dini dengan dokter mata melalui Halodoc dapat membantu mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat, sehingga mencegah komplikasi serius seperti penurunan penglihatan permanen. Tim dokter spesialis mata di Halodoc siap memberikan rekomendasi medis yang personal dan akurat untuk setiap kebutuhan.



