• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Perubahan Gaya Hidup Dapat Membantu Pengobatan Dispepsia

Perubahan Gaya Hidup Dapat Membantu Pengobatan Dispepsia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Perubahan Gaya Hidup Dapat Membantu Pengobatan Dispepsia

Halodoc, Jakarta – Dispepsia adalah gangguan pencernaan yang ditandai dengan rasa ketidaknyamanan di perut bagian atas. Dispepsia bukan suatu penyakit, melainkan sekumpulan gejala seperti sakit perut dan kenyang setelah mulai makan. Meski bukan suatu penyakit, dispepsia bisa menandai adanya penyakit pencernaan tertentu. 

Bila munculnya dispepsia bukan disebabkan oleh penyakit, kondisi ini umumnya mudah ditangani dengan pengobatan sederhana dan perubahan gaya hidup. Kalau kamu sering mengalami dispepsia, kamu mungkin perlu mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

Baca juga: 5 Makanan yang Aman Dikonsumsi Pengidap Dispepsia

Gaya Hidup untuk Meringankan Dispepsia

Berikut tips gaya hidup sehat yang bisa kamu terapkan untuk meringankan dispepsia:

  • Makan dalam porsi kecil tetapi sering. Jangan lupa untuk mengunyah makanan secara perlahan dan menyeluruh.
  • Hindari pemicu dispepsia yang umumnya disebabkan oleh konsumsi makanan berlemak dan pedas, makanan olahan, minuman berkarbonasi, kafein, alkohol, dan merokok.
  • Jaga berat badan tetap ideal. Berat badan berlebih mampu memberi tekanan pada perut, sehingga memicu asam lambung untuk naik ke kerongkongan.
  • Berolahraga secara teratur. Olahraga membantu kamu untuk mempertahankan berat badan sehat atau menurunkan berat badan ekstra serta meningkatkan fungsi pencernaan.
  • Ciptakan lingkungan yang tenang saat makan.
  • Kelola stres dengan baik. Kamu bisa belajar teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam, meditasi, atau yoga. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai.
  • Cukup tidur, minimal 7-8 jam sehari .

Apabila kamu merasa bahwa obat-obatan yang sedang kamu konsumsi akhir-akhir ini mampu memicu dispepsia, sebaiknya diskusikan dengan dokter apakah obat tersebut perlu diganti atau dikurangi dosisnya. Pasalnya, memang ada beberapa obat yang mampu mengiritasi lapisan perut dan menyebabkan dispepsia.

Kalau kamu butuh bertanya mengenai hal ini, kamu bisa menghubungi dokter lewat aplikasi Halodoc. Tidak usah repot ke rumah sakit untuk sekedar diskusi dengan dokter, lewat Halodoc kamu bisa menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Kenali Perbedaan Antara Dispepsia dan GERD

Tanda dan Gejala Dispepsia

Gejala dispepsia bisa bermacam-macam pada setiap orang. Ketika kamu mengalami dispepsia, kamu mungkin dapat mengalami satu atau beberapa gejala berikut:

  • Rasa kenyang yang muncul lebih cepat, contohnya saat kamu baru makan beberapa suapan. Kamu mungkin belum makan banyak, tetapi sudah merasa kenyang dan mungkin tidak bisa menyelesaikan makan.
  • Rasa kenyang yang tidak nyaman setelah makan. Perut terasa sangat penuh dalam waktu yang lama. 
  • Ketidaknyamanan di perut bagian atas. Dispepsia dapat menimbulkan nyeri ringan hingga parah di area antara bagian bawah tulang dada dan pusar.
  • Muncul sensasi terbakar di perut bagian atas. Kamu mungkin merasakan panas yang tidak nyaman atau sensasi terbakar di antara bagian bawah tulang dada dan pusar.
  • Kembung di perut bagian atas dan sensasi sesak yang tidak nyaman karena penumpukan gas.
  • Mual seperti ingin muntah.

Terkadang pengidap dispepsia juga mengalami mulas, tetapi mulas dan gangguan pencernaan adalah dua kondisi yang berbeda. Mulas adalah rasa sakit atau rasa terbakar di bagian tengah dada yang mungkin menjalar ke leher atau punggung selama atau setelah makan.

Baca juga: Jangan Diremehkan, Dispepsia Bisa Berakibat Fatal

Dispepsia sebenarnya bisa dialami siapapun tanpa memandang usia. Ini adalah kondisi yang umum terjadi dialami oleh banyak orang. Namun, kamu mungkin lebih berisiko mengalami dispepsia jika sering minum alkohol, mengonsumsi obat-obatan yang mengiritasi lambung, mengidap maag, dan sedang mengalami cemas atau depresi. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Indigestion.
WebMD. Diakses pada 2020. Indigestion.