Ad Placeholder Image

Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Februari 2026

Playing Victim: Arti dalam Bahasa Gaul, Biar Gak Ketinggalan!

Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!

Apa Arti Playing Victim dalam Bahasa Gaul?

Dalam percakapan sehari-hari, istilah “playing victim” sering kali muncul untuk menggambarkan perilaku tertentu. Secara harfiah, “playing victim” berarti “bermain sebagai korban”. Namun, dalam bahasa gaul, maknanya lebih spesifik dan merujuk pada sikap seseorang yang sengaja berlagak atau bersikap seolah-olah menjadi korban.

Perilaku ini dilakukan untuk berbagai tujuan, seperti menghindari tanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat, mencari simpati dan perhatian dari orang lain, atau bahkan memanipulasi orang di sekitarnya agar merasa bersalah. Fenomena ini kerap diartikan sebagai “drama” atau “si paling tersakiti” karena orang tersebut menyalahkan orang lain atau keadaan atas masalah yang sebenarnya disebabkan oleh dirinya sendiri. Contohnya, saat seseorang ketahuan berbohong, alih-alih mengakui kesalahan, ia malah beralasan menjadi korban situasi yang tidak menguntungkan.

Ciri-Ciri Orang yang Melakukan Playing Victim

Mengenali ciri-ciri perilaku playing victim dapat membantu dalam memahami dinamika interaksi sosial. Terdapat beberapa tanda umum yang mengindikasikan seseorang mungkin sedang melakukan playing victim:

  • Selalu menyalahkan orang lain dan tidak mau mengakui kesalahan. Individu dengan kecenderungan ini akan selalu mencari kambing hitam di luar dirinya, bahkan untuk hal-hal yang jelas merupakan tanggung jawabnya.
  • Suka membandingkan diri dengan orang lain dan merasa paling menderita. Mereka sering menganggap masalah yang dihadapinya lebih berat daripada orang lain, seolah-olah hidup mereka penuh dengan kesulitan tanpa akhir.
  • Mencari pembenaran dengan alasan yang dibuat-buat. Saat terpojok, mereka cenderung menciptakan narasi atau alasan palsu untuk membenarkan tindakan atau kegagalannya.
  • Bereaksi negatif atau defensif saat dikritik. Kritik, baik konstruktif maupun tidak, akan dianggap sebagai serangan pribadi yang memperkuat status mereka sebagai korban.
  • Seringkali manipulatif dan bisa membuat orang lain merasa bersalah padahal tidak. Mereka memiliki kemampuan untuk memutarbalikkan fakta atau emosi, sehingga orang lain yang sebenarnya tidak bersalah justru merasa tertekan dan bersalah.

Mengapa Seseorang Melakukan Playing Victim?

Perilaku playing victim seringkali berakar dari berbagai faktor psikologis dan pengalaman hidup. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan individu dalam mengambil tanggung jawab atas tindakan dan konsekuensi yang dihasilkan. Mereka mungkin merasa tidak berdaya atau tidak memiliki kontrol atas hidupnya, sehingga menjadikan peran korban sebagai cara untuk mengatasi perasaan tersebut.

Kebutuhan akan perhatian dan simpati juga bisa menjadi motivasi kuat. Dengan menunjukkan diri sebagai pihak yang tersakiti, mereka berharap mendapatkan dukungan emosional, pengakuan, atau perlakuan istimewa dari orang lain. Selain itu, pengalaman masa lalu seperti trauma atau pola asuh yang kurang mengajarkan kemandirian dalam menghadapi masalah juga dapat berkontribusi pada pengembangan mentalitas korban ini.

Dampak Playing Victim bagi Diri Sendiri dan Orang Lain

Meskipun perilaku playing victim dapat memberikan keuntungan sesaat seperti terhindar dari tanggung jawab atau mendapatkan simpati, dampak jangka panjangnya bisa sangat merugikan. Bagi individu yang melakukannya, mentalitas korban dapat menghambat pertumbuhan pribadi dan kemampuan memecahkan masalah.

Mereka cenderung terjebak dalam lingkaran negatif, terus-menerus menyalahkan pihak luar dan tidak pernah belajar dari kesalahan. Hal ini dapat menyebabkan isolasi sosial karena orang-orang di sekitar mungkin merasa lelah atau dimanipulasi. Sementara itu, bagi orang lain, berinteraksi dengan individu yang melakukan playing victim bisa sangat menguras emosi.

Orang terdekat dapat merasa frustrasi, marah, atau bahkan merasa bersalah secara tidak adil. Hubungan menjadi tidak sehat, penuh konflik, dan kepercayaan bisa terkikis karena manipulasi yang terus-menerus.

Cara Menghadapi Orang yang Melakukan Playing Victim

Menghadapi seseorang yang sering melakukan playing victim memerlukan pendekatan yang bijak dan tegas. Penting untuk tidak terpancing emosi dan tetap berpegang pada fakta. Salah satu langkah pertama adalah menetapkan batasan yang jelas. Pastikan untuk tidak membiarkan diri dimanipulasi atau disalahkan atas hal yang bukan tanggung jawab.

Fokuslah pada tindakan dan konsekuensi nyata, bukan pada narasi korban yang coba dibangun. Hindari memberikan simpati yang berlebihan jika jelas bahwa individu tersebut berusaha menghindari tanggung jawab. Dorong mereka untuk mengambil kepemilikan atas masalahnya dan mencari solusi, alih-alih terus menyalahkan.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Apabila perilaku playing victim telah berdampak serius pada kualitas hidup individu, hubungan pribadi, atau kesejahteraan mental, mencari bantuan profesional sangat dianjurkan. Psikolog atau konselor dapat membantu individu memahami akar penyebab perilaku tersebut, seperti trauma masa lalu atau pola pikir negatif.

Melalui terapi, individu dapat mengembangkan keterampilan koping yang lebih sehat, belajar mengambil tanggung jawab, serta membangun harga diri yang lebih kuat tanpa perlu mencari perhatian melalui drama. Jika lingkungan sekitar merasa tertekan atau hubungan menjadi sangat toksik akibat perilaku ini, konsultasi dengan ahli juga dapat memberikan panduan untuk menjaga kesehatan mental pribadi dan mencari solusi terbaik.

Untuk mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc. Tersedia fitur chat, video call, atau tatap muka langsung untuk mendapatkan saran medis terbaik.