• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Preeklamsia, Kondisi yang Diduga Menyebabkan R.A Kartini Wafat
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Preeklamsia, Kondisi yang Diduga Menyebabkan R.A Kartini Wafat

Preeklamsia, Kondisi yang Diduga Menyebabkan R.A Kartini Wafat

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 21 April 2022

“R.A Kartini meninggal dunia beberapa hari setelah melahirkan yang diduga karena preeklamsia. Kondisi ini merupakan komplikasi kehamilan yang bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat.”

Preeklamsia, Kondisi yang Diduga Menyebabkan R.A Kartini Wafat

Halodoc, Jakarta – R.A Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra tunggalnya. Sosok yang dikenal sebagai pelopor Emansipasi Wanita di Indonesia ini meninggal di usia yang masih muda, yaitu 25 tahun. Hingga kini, penyebab pasti wafatnya R.A Kartini tidak pernah terungkap. 

Namun, hal ini seakan membuktikan bahwa kasus wanita meninggal setelah melahirkan sudah terjadi sejak dulu, maka sebaiknya tidak disepelekan. Dari kabar yang beredar di kalangan dokter, Kartini meninggal karena preeklamsia (PE). Preeklamsia adalah satu bentuk komplikasi persalinan yang memang diketahui sering merenggut nyawa seorang ibu. 

Kenali Gejala-Gejala Preeklamsia

Preeklamsia bisa terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Secara umum, kondisi ini muncul karena ada peningkatan tekanan darah serta ditemukannya kandungan protein dalam urin. Preeklamsia adalah masalah yang serius dan harus segera ditangani. Jika tidak, kondisi ini bisa berkembang menjadi eklamsia yang lebih mengancam nyawa. 

PE ditandai dengan tekanan darah yang terus meningkat. Maka dari itu, calon ibu disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah. Selain tekanan darah tinggi, kondisi ini juga seringkali ditandai dengan gejala lain, seperti:

  • Berkurangnya volume urine.
  • Rasa nyeri di perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk sebelah kanan.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Nyeri kepala.
  • Kandungan protein pada urine meningkat.
  • Mual dan muntah.
  • Pembengkakan pada telapak kaki, pergelangan kaki, wajah, dan tangan.
  • Gangguan fungsi penglihatan (pandangan hilang sementara, sensitif terhadap cahaya, atau penglihatan menjadi kabur).
  • Turunnya jumlah trombosit dalam darah.
  • Sesak napas akibat cairan di paru-paru.

Apa Penyebab Kondisi Ini? 

Penyebab pasti dari preeklamsia masih belum diketahui. Namun, kondisi ini diduga terkait dengan kelainan pada plasenta sehingga mengganggu tumbuh kembang janin di dalam kandungan. Selain itu, riwayat kesehatan ibu hamil juga diduga berkaitan. Risiko preeklamsia menjadi lebih tinggi pada wanita dengan riwayat hipertensi, diabetes, penyakit autoimun, hingga obesitas.

Sayangnya, pencegahan kondisi ini masih sulit untuk dilakukan. Namun, ibu hamil disarankan untuk selalu menjaga kesehatan, membatasi asupan makanan yang berbahaya, serta menerapkan gaya hidup sehat. Jika dibutuhkan, ibu hamil dengan risiko preeklamsia mungkin harus mengonsumsi obat-obatan tertentu. Pastikan untuk membicarakannya dengan dokter agar mendapat rekomendasi obat dan dosis yang tepat. 

Ibu hamil juga harus selalu terhubung dengan ahli kesehatan. Manfaatkan aplikasi Halodoc untuk berinteraksi langsung dengan dokter. Ibu bisa menyampaikan pertanyaan dan keluhan selama hamil melalui Video/Voice Call atau Chat. Kehamilan lebih aman dan nyaman karena dipantau oleh dokter berpengalaman. Ayo, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play! 

Perawatan setelah Melahirkan 

Preeklamsia yang tidak ditangani bisa memicu berbagai komplikasi, salah satunya eklamsia yang ditandai dengan naiknya tekanan darah disertai kejang. Kondisi ini juga bisa menyebabkan ibu hamil mengalami kerusakan organ, risiko penyakit jantung, gangguan pembekuan darah, stroke hemoragik, serta komplikasi pada janin, termasuk lahir prematur dan bayi lahir dengan berat badan rendah.

Setelah melahirkan, pemantauan harus terus dilakukan bagi ibu yang mengalami preeklamsia. Jika kondisi yang dialami cukup parah, biasanya ibu perlu menjalani rawat inap selama beberapa hari setelah melahirkan. Hal ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan komplikasi susulan. Ibu juga mungkin masih harus mengonsumsi obat-obatan sesuai dengan resep dokter. 

Referensi: 
American Pregnancy Association. Diakses pada 2022. Preeclampsia. 
NHS UK. Diakses pada 2022. Preeclampsia. 
Healthline. Diakses pada 2022. Preeclampsia. 
Perpus.menpan. Diakses pada 2022. Sisi Lain Kartini.