12 December 2017

Psikolog Sebut PMS hanya Mitos, Benarkah?

Psikolog Sebut PMS hanya Mitos, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Seorang psikolog wanita bernama Robyn Stein DeLuca menyebut bahwa gejala premenstrual syndrome atau PMS pada wanita hanya mitos. Mengutip portal berita Metro, DeLuca yakin bahwa selama ini wanita telah dibohongi media dan komunitas kesehatan soal PMS. Menurutnya, gejala yang selama ini dikemukakan hanya melebih-lebihkan dan merupakan “alasan” wanita untuk tidak beraktivitas.

PMS adalah gejala yang biasanya terjadi dan menandai datangnya masa menstruasi alias haid pada wanita. Sejumlah ahli mengatakan gejala seperti pusing, lemas, nyeri perut, nyeri payudara, hingga kram adalah hal yang wajar saat tubuh mengalami perubahan hormon. Kendati setuju dengan pernyataan tersebut, namun DeLuca menyebut bahwa wanita tidak seharusnya “lumpuh” aktivitas selama datang bulan. Lewat buku yang ia tulis dengan judul  The Hormone Myth: How Junk Science, Gender Politics And Lies About PMS Keep Women Down, DeLuca menyebut wanita terlalu terhanyut dengan pandangan soal PMS.

Lalu benarkah PMS hanya mitos belaka? Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh wanita menjelang menstruasi?

Mengutip Men’s Health, sejumlah penelitian pernah dilakukan terkait PMS pada wanita. Meski mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan gejala ini, namun para peneliti beranggapan bahwa hal ini berhubungan dengan meningkatnya kadar hormon estrogen dan progesteron. Saat menstruasi memang terjadi perubahan kadar hormon dalam tubuh secara drastis.

Perubahan hormon inilah yang membuat para wanita berubah menjadi lebih sensitif saat akan haid. Menurut seorang ahli dari Penn Medicine, Nathaniel DeNicola, M.D., perubahan ini pun bisa memicu gejala berupa kelelahan, nafsu makan yang meningkat, kram, pegal-pegal dan gelisah.

Yang Terjadi pada Tubuh saat Menstruasi

Umumnya pada wanita, menstruasi berlangsung selama 5-7 hari. Namun menstruasi bukan sekadar proses keluarnya darah dari dalam tubuh. Selama menstruasi, hormon juga mengalami perubahan.

Dalam satu siklus menstruasi, hormon estrogen terus dilepaskan hingga mencapai puncaknya. Pada hari–hari awal haid, kadar estrogen akan meningkat dan dalam waktu beberapa hari, akan kembali menurun secara drastis. Tingkat hormon pada setiap wanita berbeda-beda, sehingga rasa nyeri dan perubahan yang terjadi mungkin akan berbeda pula.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh peneliti asal Italia menemukan bahwa sebagian besar wanita yang tengah haid mengalami kram. Penelitian itu menyebut lebih dari 80 persen wanita muda mengeluh sakit dan kram saat menstruasi. Dan sekitar satu dari tiga wanita mengalami rasa sakit yang sangat hebat dan tak tertahankan. Bahkan mereka tak memiliki kekuatan untuk pergi bekerja atau sekadar keluar rumah.

Menurut seorang ahli bernama Dr. Bradley, kram bisa terjadi karena level zat kimia yang bernama prostglandin meningkat. Zat ini berfungsi untuk membantu rahim berkontraksi untuk meluruhkan dindingnya. Proses inilah yang menyebabkan darah keluar saat haid.

Nyeri yang muncul biasanya akan terasa seperti rasa sakit akibat tertusuk. Rasa sakit mungkin juga akan terasa ke bagian bawah perut sampai ke sekitar punggung dan paha. Entah percaya atau tidak, namun nyeri saat PMS adalah hal yang sering dialami para wanita dan memang cukup mengganggu.

Jika kamu tengah merasa nyeri akibat datang bulan, cobalah untuk mengonsumsi makanan dan minuman hangat untuk memberi rasa nyaman pada perut. Namun jika nyeri yang terasa semakin tak wajar dan tak mengenal waktu, pikirkanlah untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan. Atau, kamu bisa membicarakan gejala awal dan nyeri pada dokter di aplikasi Halodoc. Lewat Halodoc, bicara dengan dokter sangat mudah melalui Voice/Video Call dan Chat. Kamu juga bisa membeli produk kesehatan dan pesanan akan diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.