Ad Placeholder Image

Rektum: Penampung Feses Sementara dan Pemicu BAB

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   01 April 2026

Rektum: Penampung Feses Sementara Sebelum Dibuang

Rektum: Penampung Feses Sementara dan Pemicu BABRektum: Penampung Feses Sementara dan Pemicu BAB

Rektum adalah bagian akhir dari usus besar yang berfungsi vital dalam sistem pencernaan, bertugas sebagai tempat penampungan sementara feses sebelum dikeluarkan dari tubuh. Bagian ini terletak di dalam panggul, menghubungkan kolon sigmoid dengan kanal anal, dan berperan penting dalam memicu dorongan untuk buang air besar.

Apa Itu Rektum?

Rektum merupakan segmen terakhir dari usus besar yang memiliki peran krusial dalam proses defekasi atau buang air besar. Organ ini secara harfiah berarti “lurus”, sesuai dengan bentuknya yang relatif lurus. Keberadaan rektum sangat penting untuk mengatur waktu dan proses eliminasi limbah pencernaan.

Bagian ini tidak hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan feses, tetapi juga sebagai organ sensorik. Dinding rektum memiliki reseptor saraf yang sensitif terhadap peregangan. Ketika rektum penuh, reseptor ini mengirimkan sinyal ke otak, yang kemudian menimbulkan sensasi dan dorongan untuk buang air besar. Proses ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan pencernaan.

Fungsi Utama Rektum

Rektum memiliki beberapa fungsi utama yang esensial dalam sistem pencernaan manusia. Fungsi-fungsi ini memastikan proses eliminasi limbah berjalan dengan efektif dan terkontrol.

  • Penyimpanan Feses: Fungsi utama rektum adalah menyimpan limbah pencernaan atau feses yang berasal dari usus besar. Penyimpanan ini bersifat sementara sebelum feses dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Kemampuan rektum untuk menampung feses memungkinkan seseorang menunda buang air besar hingga waktu yang tepat dan tempat yang sesuai.
  • Memicu Dorongan Buang Air Besar: Dinding rektum dilengkapi dengan reseptor yang peka terhadap perubahan volume. Saat feses masuk dan mengisi rektum, dindingnya akan meregang. Peregangan ini memicu reseptor saraf untuk mengirimkan sinyal ke otak, yang kemudian menghasilkan keinginan atau dorongan untuk defekasi (buang air besar). Sinyal ini adalah bagian penting dari refleks defekasi.

Lokasi dan Struktur Rektum

Rektum adalah bagian integral dari saluran pencernaan bagian bawah, dengan lokasi dan struktur spesifik yang mendukung fungsinya.

  • Lokasi: Rektum terletak di ujung usus besar, tepat setelah kolon sigmoid. Organ ini berada di dalam rongga panggul dan membentang ke bawah untuk terhubung dengan kanal anal, yang merupakan saluran terakhir sebelum anus.
  • Koneksi: Rektum berfungsi sebagai jembatan penting yang menghubungkan usus besar dengan anus. Koneksi ini memastikan kelancaran jalur keluarnya feses dari tubuh.
  • Panjang: Pada umumnya, rektum memiliki panjang sekitar 12 hingga 15 sentimeter. Ukuran ini dapat sedikit bervariasi pada setiap individu.

Mekanisme Proses Buang Air Besar

Proses buang air besar melibatkan serangkaian koordinasi antara sistem pencernaan dan saraf, dengan rektum sebagai komponen kunci.

  • Pengisian Rektum: Proses dimulai ketika feses yang telah dipadatkan dari usus besar, khususnya kolon sigmoid, masuk ke dalam rektum.
  • Peregangan dan Sinyal: Saat rektum terisi, dindingnya akan meregang. Peregangan ini mengaktifkan saraf sensorik di dinding rektum yang kemudian mengirimkan sinyal ke otak, memberi tahu bahwa rektum sudah penuh dan perlu dikosongkan.
  • Respons Otak: Otak menerima sinyal dan menginterpretasikannya sebagai dorongan untuk buang air besar. Pada titik ini, individu memiliki kontrol sadar untuk memutuskan apakah akan buang air besar atau menahannya.
  • Defekasi: Jika kondisi memungkinkan, otak akan merespons dengan mengendurkan sfingter anal internal (involunter) dan sfingter anal eksternal (volunter). Bersamaan dengan itu, otot-otot di usus besar dan rektum akan berkontraksi untuk mendorong feses keluar melalui anus.

Kondisi Medis yang Memengaruhi Rektum

Berbagai kondisi medis dapat memengaruhi kesehatan dan fungsi rektum, menyebabkan gejala yang tidak nyaman. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Hemoroid (Wasir): Ini adalah pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus atau di rektum bagian bawah. Hemoroid dapat disebabkan oleh mengejan berlebihan saat buang air besar, kehamilan, atau obesitas. Gejalanya termasuk perdarahan saat buang air besar, gatal, nyeri, dan benjolan di sekitar anus.
  • Proktitis: Kondisi ini adalah peradangan pada lapisan rektum. Penyebab proktitis bervariasi, termasuk infeksi, penyakit radang usus seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif, terapi radiasi, atau infeksi menular seksual. Gejalanya meliputi nyeri rektum, perdarahan, diare, dan tenesmus (dorongan konstan untuk buang air besar meskipun rektum kosong).
  • Kanker Rektum: Ini adalah jenis kanker yang dimulai di rektum. Kanker rektum seringkali berkembang dari polip adenoma yang tidak diobati. Gejala dapat meliputi perubahan kebiasaan buang air besar, perdarahan rektum, feses berdarah, penurunan berat badan yang tidak disengaja, dan kelelahan. Deteksi dini sangat penting untuk prognosis yang lebih baik.
  • Prolaps Rektum: Terjadi ketika sebagian atau seluruh dinding rektum tergelincir keluar dari anus. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita lansia dan dapat disebabkan oleh kelemahan otot panggul. Gejalanya termasuk sensasi adanya jaringan yang menonjol dari anus, kesulitan buang air besar, dan inkontinensia feses.

Kapan Harus Mencari Bantuan Medis?

Penting untuk segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang berkaitan dengan rektum, terutama jika gejala tersebut persisten atau memburuk. Beberapa tanda yang memerlukan perhatian profesional meliputi:

  • Perdarahan rektum yang tidak dapat dijelaskan.
  • Perubahan signifikan pada kebiasaan buang air besar yang berlangsung lebih dari beberapa minggu.
  • Nyeri rektum yang parah atau terus-menerus.
  • Adanya benjolan atau massa di sekitar anus atau yang keluar dari anus.
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja disertai gejala pencernaan.
  • Demam, menggigil, atau kelelahan ekstrem bersamaan dengan masalah rektum.

Kunjungan ke dokter akan membantu dalam mendiagnosis penyebab gejala dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Kesimpulan:
Rektum memiliki peran fundamental dalam kesehatan sistem pencernaan. Memahami fungsinya dan mengenali tanda-tanda masalah kesehatan terkait rektum sangat penting untuk menjaga kualitas hidup. Jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan seperti perdarahan, nyeri, atau perubahan kebiasaan buang air besar, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Melalui aplikasi Halodoc, dapat dengan mudah membuat janji temu dengan dokter spesialis atau melakukan konsultasi online untuk mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang akurat.