25 November 2018

Risiko dan Cara Penanganan Plasenta Previa

Risiko dan Cara Penanganan Plasenta Previa

Halodoc, Jakarta - Saat hamil, ibu perlu memperhatikan kondisi kesehatan dengan lebih seksama. Bukan tanpa alasan, karena ada banyak komplikasi yang bisa membahayakan kondisi kesehatan ibu dan janin, salah satunya adalah plasenta previa.  Plasenta previa adalah kondisi saat plasenta berada terlalu rendah atau bahkan menutupi mulut rahim.

Ketika ibu sedang hamil, secara otomatis akan terbentuk plasenta yang kemudian menempel pada bagian dinding rahim. Plasenta ini berfungsi menyalurkan nutrisi dan oksigen sekaligus membuang zat yang tidak dibutuhkan dari darah janin melalui tali pusar. Pada kondisi normal, plasenta melebar menjauhi serviks. Namun, jika ibu mengalami plasenta previa, kondisi plasenta tidak menjauh, bahkan menutupi serviks.

Komplikasi kehamilan ini ditandai dengan perdarahan yang biasanya muncul pada 3 bulan terakhir masa kehamilan atau trimester ketiga. Meskipun jarang terjadi, ibu hamil perlu berhati-hati karena jika tidak segera ditangani membahayakan kondisi kesehatan ibu dan janin.

Risiko dan Komplikasi Plasenta Previa

Penyebab terjadinya plasenta previa belum diketahui dengan pasti. Ibu perlu waspada terhadap hal-hal yang bisa meningkatkan faktor risiko terjadinya gangguan kehamilan ini. Apa saja?

  • Hamil ketika berusia lebih dari 35 tahun.

  • Pernah melakukan operasi pada bagian rahim.

  • Merokok dan konsumsi obat terlarang.

  • Pernah mengalami keguguran.

  • Pernah menjalani kelahiran caesar.

  • Memiliki riwayat plasenta previa.

  • Kehamilan kedua atau pernah melahirkan.

Perdarahan yang menjadi gejala utama plasenta previa perlu mendapatkan penanganan. Jika terlambat, ibu rentan mengalami komplikasi yang cenderung membahayakan keselamatan, salah satunya adalah syok hipovolemik. Ada juga komplikasi lainnya jika terkena plasenta previa, yaitu sebagai berikut:

  • Kelahiran prematur, yang biasa terjadi jika perdarahan ibu tidak terkontrol.

  • Cedera ketika bayi lahir.

  • Terjadinya asfiksia janin ketika masih berada dalam kandungan.

  • Tromboemboli vena, yang umum terjadi apabila ibu hamil menjalani prosedur rawat inap yang terbilang lama. Bisa juga terjadi sebagai dampak dari penggunaan obat antikoagulan jangka panjang.

Bagaimana Penanganannya?

Sebelum melakukan penanganan, dokter akan melihat gejalanya terlebih dahulu, juga seberapa parah perdarahan yang terjadi. Lalu, dokter menganjurkan ibu untuk beristirahat total dan tidak melakukan aktivitas yang berat. Selain itu, ibu tidak dianjurkan untuk berhubungan intim atau melakukan aktivitas yang melibatkan Miss V.

Ibu hamil yang mengidap plasenta previa tidak mungkin melakukan persalinan normal karena memiliki risiko terjadinya perdarahan hebat. Jika komplikasi yang ibu alami berada dalam tahapan parah atau akut, dokter menyarankan ibu untuk dirawat inap untuk memudahkan pengawasan.

Selama perawatan, dokter memberikan obat untuk mencegah ibu mengalami kontraksi. Selain itu, ibu dianjurkan untuk mengonsumsi obat yang berfungsi untuk mempercepat matangnya paru-paru sang janin, hanya ketika janin harus segera dilahirkan meski belum masuk waktunya (kelahiran prematur).

Selalu periksakan kondisi kehamilan ibu agar segala komplikasi yang mungkin terjadi bisa segera dideteksi dan mendapatkan penanganan. Jika ibu memiliki pertanyaan seputar kehamilan, ibu bisa langsung bertanya pada dokter ahli kandungan melalui layanan Tanya Dokter di aplikasi Halodoc. Aplikasi ini juga bisa ibu manfaatkan untuk membeli obat, vitamin, dan melakukan cek lab rutin di manapun dan kapanpun. Yuk, donwload dan pakai Halodoc!

Baca juga: