Ad Placeholder Image

Saat Diare Sebaiknya Makan Apa? Ini Panduannya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   07 April 2026

Diare? Ini Makanan Terbaik agar Cepat Pulih dan Nyaman

Saat Diare Sebaiknya Makan Apa? Ini Panduannya!Saat Diare Sebaiknya Makan Apa? Ini Panduannya!

Saat Diare Sebaiknya Makan Apa? Panduan Nutrisi untuk Pemulihan

Diare adalah kondisi umum yang ditandai dengan buang air besar (BAB) encer atau cair lebih sering dari biasanya. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit penting dari tubuh, sehingga memerlukan penanganan yang tepat, termasuk pengaturan pola makan. Pemilihan makanan yang tepat sangat krusial untuk membantu meredakan gejala, mempercepat pemulihan, dan mencegah dehidrasi.

Mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan menghindari pemicu diare adalah langkah awal yang efektif. Tujuan utamanya adalah memberikan nutrisi tanpa memperparah iritasi pada saluran pencernaan yang sedang bermasalah. Artikel ini akan membahas secara detail makanan dan minuman apa saja yang sebaiknya dikonsumsi serta yang perlu dihindari saat mengalami diare.

Pentingnya Mengatur Pola Makan Saat Diare

Ketika mengalami diare, saluran pencernaan menjadi lebih sensitif. Konsumsi makanan yang tidak tepat dapat memperburuk kondisi dan memperlambat proses penyembuhan. Sebaliknya, memilih asupan yang benar dapat membantu mengembalikan fungsi usus, mengganti nutrisi yang hilang, dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi.

Fokus utama adalah memilih makanan yang hambar, rendah serat, tidak berlemak, dan mudah dicerna. Makanan jenis ini tidak akan memberikan beban berlebihan pada usus yang sedang iritasi. Selain itu, menjaga asupan cairan dan elektrolit sangat vital untuk mencegah tubuh kekurangan cairan yang serius.

Makanan yang Dianjurkan Saat Diare

Saat diare, pemilihan makanan harus berfokus pada asupan yang tidak memicu iritasi dan membantu memadatkan feses. Berikut adalah beberapa jenis makanan yang direkomendasikan untuk dikonsumsi:

  • Diet BRAT
    • Pisang: Sumber kalium yang baik untuk mengganti elektrolit yang hilang. Pisang juga mudah dicerna dan membantu memadatkan feses.
    • Nasi Putih: Karbohidrat sederhana yang mudah dicerna dan rendah serat, cocok untuk mengisi energi.
    • Saus Apel (Applesauce): Mengandung pektin yang dapat membantu memadatkan feses. Pilih saus apel tanpa gula tambahan.
    • Roti Panggang (Toast): Roti tawar yang dipanggang tanpa mentega atau selai, menyediakan karbohidrat yang mudah dicerna.
  • Sumber Karbohidrat Lain
    • Bubur: Nasi yang dimasak dengan banyak air hingga lunak, sangat mudah dicerna.
    • Kentang Rebus atau Panggang: Sumber karbohidrat kompleks yang baik, pastikan tanpa kulit dan tanpa tambahan bumbu berlebihan.
    • Oatmeal: Pilih oatmeal polos yang dimasak dengan air, memberikan energi tanpa membebani pencernaan.
  • Sumber Protein
    • Daging Ayam Rebus tanpa Kulit: Protein tanpa lemak yang mudah dicerna, dapat diolah menjadi sup bening.
    • Ikan: Ikan yang dikukus atau direbus, seperti ikan tanpa lemak, merupakan sumber protein yang baik.
    • Tahu: Protein nabati yang lembut dan mudah dicerna.
    • Telur: Telur rebus atau orak-arik (tanpa minyak berlebihan) dapat menjadi pilihan protein.
  • Buah-buahan
    • Pisang: Seperti disebutkan dalam diet BRAT, sangat direkomendasikan.
    • Apel (Saus Apel): Pektinnya membantu meredakan diare.
    • Melon: Terutama dalam bentuk jus, dapat membantu mengganti elektrolit yang hilang.
    • Jambu Biji: Dikenal memiliki sifat antidiare dan kaya vitamin.
  • Sayuran
    • Wortel: Dapat direbus atau dibuat sup.
    • Kacang Hijau: Direbus hingga lunak.
    • Asparagus: Juga dapat diolah menjadi sup atau bubur.
    • Sayuran ini sebaiknya dimasak hingga sangat lunak untuk memudahkan pencernaan.
  • Probiotik
    • Yogurt (tanpa gula tambahan): Mengandung bakteri baik yang dapat membantu menyeimbangkan flora usus dan mempercepat pemulihan.

Pentingnya Hidrasi dan Penggantian Elektrolit

Dehidrasi adalah risiko terbesar saat diare. Kehilangan cairan dan garam mineral dari tubuh dapat menyebabkan kelemahan, pusing, hingga kondisi yang lebih serius. Oleh karena itu, memastikan asupan cairan yang cukup adalah prioritas utama.

  • Air Putih: Minumlah air putih secara berkala dalam jumlah sedikit tapi sering.
  • Oralit: Larutan rehidrasi oral sangat efektif untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Ini tersedia di apotek.
  • Jus Buah Tinggi Kalium: Jus melon atau pisang dapat membantu mengganti kalium yang hilang. Pastikan jus tanpa tambahan gula dan dibuat segar.
  • Sup Bening: Kaldu ayam atau sayuran bening dapat memberikan cairan dan sedikit garam mineral.

Makanan dan Minuman yang Harus Dihindari

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat memperburuk gejala diare dan memperlambat pemulihan. Hindarilah asupan berikut selama masa pemulihan:

  • Susu dan Produk Olahannya: Banyak orang menjadi lebih sensitif terhadap laktosa saat diare, yang dapat memperparah gejala.
  • Makanan Berserat Tinggi: Sayuran mentah, kol, brokoli, jagung, dan biji-bijian utuh dapat meningkatkan frekuensi BAB.
  • Makanan Pedas: Cabai dan rempah pedas lainnya dapat mengiritasi saluran pencernaan.
  • Makanan Berlemak dan Berminyak: Gorengan, makanan cepat saji, dan makanan tinggi lemak sulit dicerna dan dapat memicu kontraksi usus.
  • Minuman Bersoda: Mengandung gula tinggi dan gas yang dapat memperburuk kembung dan diare.
  • Minuman Berkafein: Kopi, teh hitam, dan minuman energi memiliki efek diuretik dan dapat meningkatkan motilitas usus.
  • Alkohol: Mengiritasi saluran pencernaan dan dapat menyebabkan dehidrasi.
  • Makanan dengan Pemanis Buatan: Dapat memiliki efek laksatif pada beberapa orang.
  • Bumbu Penyedap Berlebihan: Hindari bumbu yang terlalu kuat atau berlebihan dalam masakan.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Meskipun diare seringkali dapat diatasi dengan perubahan pola makan dan hidrasi, ada beberapa kondisi yang memerlukan perhatian medis segera. Penting untuk mencari bantuan profesional jika diare:

  • Parah dan tidak membaik dalam 2 hari.
  • Disertai demam tinggi.
  • Menyebabkan sakit perut hebat atau kram yang parah.
  • Disertai buang air besar berdarah atau berwarna hitam.
  • Menunjukkan tanda-tanda dehidrasi serius (seperti mulut kering, sedikit buang air kecil, mata cekung, kelemahan).

Terutama pada bayi, anak kecil, dan lansia, risiko dehidrasi lebih tinggi. Oleh karena itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika ada kekhawatiran.

Kesimpulan dan Rekomendasi Medis Halodoc

Mengelola diare dengan pola makan yang tepat adalah langkah penting untuk mempercepat pemulihan. Fokuslah pada makanan hambar, mudah dicerna, dan kaya elektrolit seperti pisang, nasi putih, saus apel, dan roti panggang (diet BRAT). Jangan lupakan pentingnya asupan cairan yang cukup, seperti air putih dan oralit, untuk mencegah dehidrasi. Hindari makanan tinggi serat, berlemak, pedas, serta minuman bersoda atau berkafein.

Jika diare berlangsung parah, tidak membaik, atau disertai gejala seperti demam tinggi, sakit perut hebat, atau BAB berdarah, segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Aplikasi Halodoc menyediakan layanan konsultasi dengan dokter umum atau spesialis gastroentrologi yang siap membantu memberikan diagnosis dan rekomendasi pengobatan yang sesuai dengan kondisi.

Pertanyaan Umum Seputar Diare dan Makanan

Apa itu oralit dan mengapa penting saat diare?

Oralit adalah larutan rehidrasi oral yang mengandung gula dan garam dalam proporsi tertentu. Larutan ini sangat penting saat diare karena membantu tubuh mengganti cairan dan elektrolit (seperti natrium, kalium) yang hilang akibat buang air besar yang sering.

Bolehkah makan pedas saat diare?

Tidak disarankan. Makanan pedas dapat mengiritasi saluran pencernaan yang sudah meradang akibat diare, sehingga berpotensi memperburuk gejala seperti sakit perut dan frekuensi BAB.

Apakah yogurt aman dikonsumsi saat diare?

Ya, yogurt tawar tanpa gula tambahan yang mengandung probiotik dapat membantu menyeimbangkan bakteri baik di usus. Bakteri baik ini dapat mendukung pemulihan saluran pencernaan. Namun, jika ada sensitivitas laktosa akut, sebaiknya konsultasi dengan dokter.