Sebelum Lakukan USG 3D, Ketahui Risiko yang Bisa Terjadi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sebelum Lakukan USG 3D, Ketahui Risiko yang Bisa Terjadi

Halodoc, Jakarta – Semua ibu hamil memiliki keinginan untuk melihat pertumbuhan bayi di dalam perutnya. USG 3D dan 4D memungkinkan ibu hamil melihat bayi yang belum lahir secara lebih mendalam dan detail daripada USG 2D standard.

Dengan ultrasound 3D, beberapa gambar dua dimensi diambil pada berbagai sudut dan kemudian disatukan untuk membentuk rendering tiga dimensi. Ibu hamil bisa melihat seluruh permukaan (lebih mirip foto biasa) dalam sonogram 3D.

Ultrasonografi 4D serupa, namun gambar menunjukkan gerakan yang artinya, seperti video. Sehingga, ibu bisa melihat bayi melakukan hal-hal secara langsung (misalnya, membuka dan menutup matanya dan mengisap jempolnya) dalam sonogram 4D.

Terkadang dokter menyarankan USG 3D dan 4D karena dapat menunjukkan cacat lahir tertentu, seperti langit-langit mulut sumbing, yang mungkin tidak muncul pada USG standard. Tapi, penelitian yang mengevaluasi keamanan teknologi ultrasound menunjukkan hasil yang beragam. The American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mengatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang dapat dipercaya yang menunjukkan bahwa USG berbahaya bagi janin yang sedang berkembang. Tapi, risiko potensial masih belum jelas.

Baca juga: Kapan Ibu Hamil Sebaiknya Melakukan USG?

Dan menurut Food and Drug Administration (FDA), ketika USG memasuki tubuh, maka ia sedikit memanaskan jaringan yang dalam beberapa kasus dapat membuat kantong kecil gas dalam cairan atau jaringan tubuh dengan efek jangka panjangnya tidak diketahui.

Selain itu, USG juga bisa menyebabkan pemanasan yang signifikan, terutama di otak bayi yang sedang berkembang. Sebuah studi dari University of Washington menemukan korelasi dengan anak laki-laki autis yang melakukan pemindaian ultrasound pada trimester pertama dan keparahan gejala mereka.

Ini diperkuat oleh studi dari Cina yang menunjukkan bahwa ultrasound membawa risiko, termasuk autisme, ADHD, kerusakan genetik, penyakit kuning, kanker pada anak-anak, dan alergi. Ini dikarenakan peningkatan suhu ibu dapat menyebabkan cacat lahir, masuk akal bahwa jika USG meningkatkan suhu tubuh ibu, bahkan secara lokal, mungkin bisa sampai menyebabkan bayi cacat lahir.

Karenanya, untuk menghindari risiko terburuk terjadi, ACOG dan FDA hanya merekomendasikan USG dilakukan oleh seorang profesional medis yang berkualifikasi. Saat ini, ACOG merekomendasikan total satu hingga dua USG 2D pada kehamilan berisiko rendah dan bebas komplikasi.

Baca juga: Pentingnya Tes USG Saat Hamil

Dan para ahli mencegah penggunaan segala jenis ultrasound (2D, Doppler, 3D dan 4D) untuk tujuan membuat kenang-kenangan. Itu karena, selain berpotensi membahayakan kesehatan bayi, teknisi yang melakukan USG komersial mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan ibu hamil dan kemungkinan tidak akan memiliki keahlian untuk dapat menemukan masalah dengan perkembangan bayi.

Terlebih lagi, beberapa sesi berlangsung selama 45 menit, lebih lama dari pemindaian medis  yang berarti lebih banyak paparan USG yang tidak perlu. Ditambah sesi panjang atau sesi berulang, dapat mengganggu dan mengganggu janin yang menggunakan waktu kandungan untuk tumbuh, berkembang, serta mendapatkan tidur yang dibutuhkannya. Jika ibu hamil mempertimbangkan untuk melakukan USG dengan menanyakan ke dokter.

Contohnya, dengan menanyakan ke dokter apakah ibu bisa melakukan pemindaian anatomi setelah kehamilan 22–23 minggu atau memang harus pada 18–20 minggu. Pada saat ukuran bayi lebih besar justru sonografi akan dapat melihat semua yang dibutuhkan.

Baca juga: Inilah Perbedaan antara USG 2D dan USG 3D

Mintalah sonografer untuk tidak menggunakan ultrasonografi doppler yang memberikan gelombang ultrasonografi yang terus menerus. Jangan juga membeli monitor janin atau doppler untuk digunakan di rumah.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai USG 3D dan risikonya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.