• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Berisiko Alami Penyakit Sirosis?

Siapa Saja yang Berisiko Alami Penyakit Sirosis?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Siapa Saja yang Berisiko Alami Penyakit Sirosis?

Halodoc, Jakarta – Tidak jauh berbeda dengan penyakit lain, sirosis juga bisa menyerang siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini. Sebelumnya perlu diketahui, sirosis merupakan kondisi yang muncul sebagai komplikasi dari berbagai penyakit pada organ hati. Dengan kata lain, kondisi ini merupakan stadium lanjutan dari penyakit hati. 

Sirosis memicu terjadinya kerusakan sel-sel hati yang kemudian membentuk jaringan parut alias fibrosis. Selain membentuk jaringan parut, kondisi ini juga menyebabkan fungsi hati menjadi tidak normal. Secara umum jaringan parut muncul karena sel-sel pada organ hati berusaha memperbaiki diri. Lantas, siapa saja yang berisiko mengalami penyakit ini? 

Baca juga: Apa yang Menyebabkan Seseorang Alami Sirosis?

Faktor Risiko Sirosis 

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya sirosis. Ada beberapa golongan orang yang rentan mengalami penyakit ini, di antaranya:  

  1. Kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. 
  2. Sering begadang atau kurang tidur.
  3. Terlalu banyak konsumsi makanan tertentu, seperti makanan berlemak, makanan manis, serta makanan yang diawetkan.

Hal-hal tersebut nyatanya berbahaya untuk kesehatan organ hati alias liver. Selain faktor tersebut, risiko sirosis juga menjadi lebih tinggi pada orang yang memiliki riwayat penyakit, seperti hepatitis B dan C, penyakit hati berlemak, hemokromatosis, penyakit wilson, serta infeksi seperti skistosomiasis atau sifilis.

Gangguan pada organ hati sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Sebab, hati memiliki banyak peran penting dalam tubuh. Fungsi utama dari organ ini adalah memproduksi zat-zat yang dibutuhkan tubuh, seperti protein. Zat ini penting untuk pembekuan darah dan membuang zat-zat beracun yang bisa berbahaya bagi tubuh. 

Baca juga: Keduanya Menyerang Hati, Ini Perbedaan Sirosis dan Kanker Hati

Sirosis menyebabkan organ hati tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik, bahkan menghilang. Hal tersebut disebabkan oleh berkurangnya sel-sel hati, sedangkan jaringan parut bertambah. Ada beberapa gejala yang bisa menjadi tanda penyakit ini, seperti mudah merasa lelah, mudah memar dan berdarah, kulit menjadi gatal, kulit menjadi kuning, serta asites atau terkumpulnya cairan pada rongga perut.

Kondisi ini juga ditandai dengan penurunan berat badan, mual, nafsu makan berkurang, tungkai membengkak, serta telapak tangan yang memerah. Pada laki-laki, kondisi ini juga bisa ditandai dengan mengecilnya buah zakar dan pembesaran payudara. 

Semakin lama, kondisi ini bisa meningkatkan risiko komplikasi. Sirosis bisa memicu komplikasi pada otak atau ensefalopati hepatik. Jika sudah menyerang otak, kondisi ini bisa ditandai dengan merasa kebingungan hingga penurunan kesadaran. 

Setelah mengetahui penyebab dan faktor risikonya, sirosis bisa dicegah. Cara terbaik mencegah penyakit ini adalah dengan menghindari faktor-faktor risiko atau penyebab penyakit yang mendasarinya. Mencegah sirosis bisa dilakukan dengan mengurangi atau berhenti konsumsi alkohol, menjaga pola makan sehat, serta menjaga berat badan tetap ideal. 

Baca juga: 2 Perbedaan Hepatitis dan Sirosis Hati

Agar upaya pencegahan menjadi lebih maksimal, kamu bisa meminta saran dan rekomendasi dari dokter di aplikasi Halodoc. Lebih mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips mencegah penyakit dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! 

Jika gejala menjadi lebih buruk, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat. Hal itu penting dilakukan untuk menurunkan risiko munculnya komplikasi yang bisa membahayakan. 

Referensi 
WebMD. Diakses pada 2020. Cirrhosis: Symptoms, Causes, Stages, Diagnosis, and Treatment. 
NHS UK. Diakses pada 2020. How you can help stop cirrhosis getting worse.