• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Lebih Berisiko Mengalami Nyeri Haid?

Siapa Saja yang Lebih Berisiko Mengalami Nyeri Haid?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Selama periode menstruasi, rahim berkontraksi untuk membantu mengeluarkan lapisannya. Zat mirip hormon (prostaglandin) memicu kontraksi otot rahim yang memicu nyeri dan peradangan. 

Nyeri haid adalah kondisi normal, hanya saja tingkat sakitnya berbeda-beda. Kamu berisiko mengalami nyeri haid lebih sakit jika lebih muda dari usia 30 tahun, memulai pubertas di rentang usia 11 tahun atau lebih muda, mengalami pendarahan hebat selama menstruasi (menorrhagia), menstruasi yang tidak teratur, punya riwayat keluarga dengan kram menstruasi, dan merokok.

Baca juga: Tanda Remaja Perempuan Mengalami Amenorrhea

Kenapa Nyeri Haid Lebih Sakit di Masa Pubertas?

Pengetatan otot rahim yang tidak normal (kontraksi) yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon menjadi pemicu nyeri haid. Hormon pada masa pubertas sedang pada tahap awal perkembangan, sehingga ketidakstabilan ini membuat nyeri haid lebih terasa di masa pubertas. Namun, tentu saja tidak semua anak remaja mengalami nyeri haid, karena ada banyak kondisi yang memicu sakit saat haid. 

Terkadang kondisi tertentu seperti endometriosis menyebabkan nyeri haid yang tak tertahankan saat menstruasi. Ketika kamu mengalami endometriosis, jaringan yang terlihat dan bertindak seperti lapisan rahim mulai tumbuh di tempat lain selain di dalam rahim. 

Area paling umum untuk pertumbuhan ini disebut implan endometrium, yang bisa jadi di permukaan luar rahim, ovarium, saluran tuba, ligamen yang menopang rahim, usus, kandung kemih, area internal antara vagina dan rektum, dan lapisan rongga panggul.

Endometriosis tampak seperti kondisi nyeri haid biasa tapi dengan rasa sakit intens. Tanda endometriosis yang paling umum adalah nyeri panggul (perut bagian bawah) yang parah. Ini dapat terjadi sesekali atau terus-menerus, sehingga bisa mengganggu aktivitas orang yang mengalami kondisi tersebut. 

Baca juga: Nutrisi yang Diperlukan untuk Mencegah Anemia pada Ibu Hamil

Gejala lain yang mungkin terjadi termasuk:

1. Nyeri panggul yang semakin parah setelah berhubungan intim atau setelah pemeriksaan panggul.

2. Periode yang sangat berat.

3. Nyeri punggung bawah.

4. Sembelit, diare, atau rasa sakit atau melihat darah saat pergi ke kamar mandi (implan endometrium dapat menekan beberapa organ yang terlibat dalam mengeluarkan kotoran dari tubuh, seperti kandung kemih, usus, dan rektum).

Namun, tidak selalu gejala-gejala ini merupakan tanda dari kondisi endometriosis. Banyak hal lain seperti infeksi dapat menyebabkan gejala serupa. Untuk memastikan kondisi tersebut, tanyakan saja langsung ke Halodoc. Kamu bisa menanyakan masalah kesehatan reproduksimu ke Halodoc dan dokter terbaik di bidangnya akan memberikan solusi. Caranya mudah, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bahkan bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Penanganan untuk Nyeri Haid

Bagaimana menangani nyeri haid? Sejatinya perubahan pola makan dapat membantu meredakan nyeri haid. Cobalah untuk mengurangi asupan telur, daging merah, dan produk susu atau beralih ke makanan olahan susu organik.

Susu yang mengandung hormon tambahan dan antibiotik dapat merangsang hormon wanita dengan cara yang tidak semestinya. Hal lain yang perlu dilakukan untuk penanganan nyeri haid adalah mengonsumsi asam lemak esensial, yang ditemukan dalam sarden kalengan, salmon, minyak biji rami, dan biji rami.

Baca juga: Begini Cara Mencegah Anemia Saat Menstruasi

Konsumsi magnesium ekstra dan suplemen multivitamin dan mineral, demikian juga vitamin E ekstra selama siklus menstruasi. Sebisa mungkin, hilangkan asam lemak trans dari makanan yang biasa ditemukan dalam makanan seperti kue yang disiapkan secara komersial yang mengandung margarin, sayuran padat, dan minyak terhidrogenasi parsial lainnya. Jangan lupa kurangi stres dan cobalah yoga atau pijat untuk relaksasi.

Referensi:
University of Rochester Medical Center NY. Diakses pada 2020. Menstrual Cramps (Dysmenorrhea) in Teens.
KidsHealth. Diakses pada 2020. Endometriosis.
Healthday.com. Diakses pada 2020. Menstrual Cramps (Dysmenorrhea).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Menstrual Cramps.