Ad Placeholder Image

Sindrom Down Terjadi karena Kromosom 21 Ekstra!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   06 Mei 2026

Sindrom Down Terjadi karena Salinan Kromosom 21 Ekstra

Sindrom Down Terjadi karena Kromosom 21 Ekstra!Sindrom Down Terjadi karena Kromosom 21 Ekstra!

Memahami Mengapa Sindrom Down Terjadi: Penyebab dan Jenisnya

Sindrom Down adalah kondisi genetik yang paling umum terjadi, mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif. Kondisi ini sering kali menimbulkan pertanyaan tentang penyebab dan bagaimana seseorang bisa mengalaminya. Memahami alasan di balik Sindrom Down sangat penting untuk memberikan dukungan yang tepat dan menghilangkan kesalahpahaman yang beredar.

Secara singkat, sindrom down terjadi karena adanya materi genetik ekstra. Kelebihan materi genetik ini mengubah jalannya perkembangan tubuh dan otak, menyebabkan karakteristik fisik dan tantangan perkembangan yang terkait dengan Sindrom Down.

Apa Itu Sindrom Down?

Sindrom Down adalah kondisi kromosom yang terjadi ketika ada salinan ekstra dari semua atau sebagian kromosom 21. Kromosom adalah struktur kecil di dalam sel yang membawa gen, yaitu cetak biru tubuh. Kondisi ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1866 oleh Dr. John Langdon Down.

Kehadiran kromosom ekstra ini menyebabkan serangkaian karakteristik fisik yang khas dan perbedaan dalam perkembangan intelektual. Meskipun ada kesamaan, setiap individu dengan Sindrom Down memiliki keunikan tersendiri dalam tingkat kemampuannya.

Sindrom Down Terjadi Karena Apa? Penyebab Utama

Penyebab utama sindrom down terjadi karena adanya salinan ekstra kromosom 21. Normalnya, setiap sel tubuh manusia memiliki 46 kromosom, tersusun dalam 23 pasang. Namun, pada individu dengan Sindrom Down, terdapat 47 kromosom karena ada tiga salinan kromosom 21, bukan dua.

Kelebihan kromosom ini bukan disebabkan oleh kesalahan orang tua atau faktor lingkungan tertentu. Ini adalah hasil dari pembelahan sel yang tidak sempurna yang terjadi secara acak. Pembelahan sel ini umumnya terjadi saat pembentukan sel telur atau sel sperma.

Meskipun ada faktor risiko, kondisi ini umumnya tidak diwariskan dari orang tua. Sebagian besar kasus Sindrom Down adalah kejadian acak yang tidak dapat diprediksi atau dicegah.

Tiga Jenis Utama Sindrom Down

Terdapat tiga jenis utama Sindrom Down, yang dibedakan berdasarkan bagaimana kromosom ekstra tersebut muncul:

  • Trisomi 21: Ini adalah jenis Sindrom Down yang paling umum, mencapai sekitar 95% dari semua kasus. Pada Trisomi 21, setiap sel dalam tubuh memiliki tiga salinan kromosom 21, bukan dua. Kondisi ini biasanya terjadi karena kesalahan acak selama pembelahan sel sebelum atau saat pembuahan.
  • Sindrom Down Mosaik: Jenis ini lebih jarang terjadi, mempengaruhi sekitar 2% kasus. Pada Sindrom Down Mosaik, seseorang memiliki dua jenis sel: beberapa sel memiliki 46 kromosom (jumlah normal), sementara sel lainnya memiliki 47 kromosom (dengan salinan ekstra kromosom 21). Kondisi mosaik ini terjadi akibat pembelahan sel yang tidak sempurna setelah pembuahan.
  • Sindrom Down Translokasi: Jenis ini menyumbang sekitar 3% dari semua kasus Sindrom Down. Pada Sindrom Down Translokasi, sebagian dari kromosom 21 menempel pada kromosom lain, biasanya kromosom 14, sebelum atau saat pembuahan. Meskipun jumlah kromosom total mungkin tetap 46, materi genetik ekstra dari kromosom 21 tetap ada, menyebabkan karakteristik Sindrom Down. Jenis ini adalah satu-satunya yang dapat diturunkan.

Faktor Risiko Sindrom Down

Meskipun sebagian besar kasus Sindrom Down terjadi secara acak, ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko. Faktor risiko utama adalah usia ibu saat hamil.

Wanita yang hamil di atas usia 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk memiliki bayi dengan Sindrom Down. Risiko ini terus meningkat seiring bertambahnya usia ibu. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa sebagian besar bayi dengan Sindrom Down lahir dari ibu yang berusia di bawah 35 tahun, karena kelompok usia ini memiliki tingkat kelahiran yang lebih tinggi secara keseluruhan.

Jika pernah memiliki satu anak dengan Sindrom Down, risiko memiliki anak kedua dengan kondisi yang sama mungkin sedikit meningkat. Untuk jenis translokasi, jika salah satu orang tua adalah pembawa gen translokasi seimbang, risiko memiliki anak dengan Sindrom Down translokasi akan lebih tinggi.

Karakteristik dan Gejala Sindrom Down

Individu dengan Sindrom Down memiliki beberapa karakteristik fisik dan perkembangan yang umum. Karakteristik fisik meliputi wajah yang rata, mata sipit dengan lipatan epikantus di sudut bagian dalam, telinga kecil, dan lidah yang tampak lebih besar.

Selain itu, anak-anak dengan Sindrom Down seringkali memiliki tangan yang lebar dengan jari-jari pendek dan satu garis melintang di telapak tangan. Mereka juga cenderung memiliki tonus otot yang rendah (hipotonia) saat lahir.

Dalam hal perkembangan, individu dengan Sindrom Down mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitif dan fisik. Tingkat keterlambatan bervariasi dari satu individu ke individu lainnya, mulai dari ringan hingga sedang. Mereka mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai tonggak perkembangan seperti berjalan dan berbicara.

Pengobatan dan Manajemen Sindrom Down

Tidak ada obat untuk Sindrom Down karena ini adalah kondisi genetik. Namun, ada berbagai terapi dan program dukungan yang dirancang untuk membantu individu dengan Sindrom Down mencapai potensi penuh mereka.

Intervensi dini sangat penting dan dapat mencakup terapi fisik, terapi wicara, terapi okupasi, dan pendidikan khusus. Terapi ini membantu dalam mengembangkan keterampilan motorik, kemampuan berbicara, dan kemandirian sehari-hari.

Perawatan kesehatan rutin juga krusial, karena individu dengan Sindrom Down mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk kondisi kesehatan tertentu. Ini termasuk masalah jantung bawaan, masalah pendengaran dan penglihatan, serta masalah tiroid.

Pencegahan dan Pemeriksaan Prenatal

Karena sindrom down terjadi karena kejadian genetik acak, kondisi ini sebagian besar tidak dapat dicegah. Namun, ada pemeriksaan prenatal yang tersedia untuk mendeteksi Sindrom Down selama kehamilan.

Pemeriksaan skrining seperti tes darah dan ultrasonografi dapat memberikan perkiraan risiko. Tes diagnostik seperti amniosentesis atau pengambilan sampel vili korionik (CVS) dapat memberikan diagnosis definitif.

Pilihan pemeriksaan prenatal adalah keputusan pribadi yang harus didiskusikan dengan penyedia layanan kesehatan. Informasi ini dapat membantu keluarga membuat keputusan yang tepat dan mempersiapkan diri.

Kesimpulan: Informasi dan Dukungan di Halodoc

Memahami bahwa sindrom down terjadi karena adanya materi genetik ekstra yang acak, bukan kesalahan orang tua, adalah langkah penting. Kondisi ini menyoroti kompleksitas genetika manusia dan pentingnya dukungan berkelanjutan.

Bagi keluarga yang menghadapi Sindrom Down, akses terhadap informasi yang akurat dan dukungan profesional sangat penting. Halodoc berkomitmen untuk menjadi sumber informasi medis terpercaya, menyediakan artikel edukatif dan akses mudah ke konsultasi dokter.

Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut atau membutuhkan konsultasi medis terkait Sindrom Down, jangan ragu untuk menghubungi dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Dapatkan informasi dan panduan medis praktis yang berbasis riset ilmiah terbaru.