Ad Placeholder Image

Skrofuloderma: TBC Kulit Langka, Gejala dan Obati

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   03 Maret 2026

Penyakit Skrofuloderma: TBC Kulit Langka, Ini Penjelasannya

Skrofuloderma: TBC Kulit Langka, Gejala dan ObatiSkrofuloderma: TBC Kulit Langka, Gejala dan Obati

Apa Itu Skrofuloderma? Memahami TBC Kulit yang Langka

Skrofuloderma adalah bentuk tuberkulosis (TBC) kulit yang langka, disebabkan oleh infeksi bakteri *Mycobacterium tuberculosis*. Kondisi ini ditandai dengan munculnya pembengkakan pada kelenjar getah bening di bawah kulit yang kemudian bisa pecah membentuk luka terbuka atau ulkus bernanah. Area tubuh yang sering terkena adalah leher dan ketiak. Penyakit ini lebih rentan menyerang individu dengan daya tahan tubuh yang lemah. Pengobatan skrofuloderma memerlukan kepatuhan minum Obat Antituberkulosis (OAT) selama minimal 6 bulan, sama seperti penanganan TBC paru.

Gejala Skrofuloderma yang Perlu Diwaspadai

Mengenali gejala awal skrofuloderma sangat penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Gejala yang muncul umumnya bersifat progresif, dimulai dari benjolan hingga menjadi luka yang sulit sembuh.

Berikut adalah gejala skrofuloderma:

  • Muncul benjolan lembek di bawah kulit. Benjolan ini paling sering ditemukan di area leher, ketiak, atau paha.
  • Benjolan tersebut secara bertahap akan membengkak dan berubah warna menjadi kemerahan.
  • Setelah membengkak, benjolan bisa pecah dan membentuk luka terbuka atau ulkus. Luka ini mengeluarkan nanah.
  • Luka atau ulkus memiliki karakteristik pinggir yang merah kebiruan dan dinding yang bergaung, artinya tepian luka terlihat terlepas dari dasar luka.
  • Pada beberapa kasus, skrofuloderma juga bisa disertai gejala umum TBC seperti demam ringan, batuk yang tidak kunjung sembuh, keringat malam tanpa sebab yang jelas, dan penurunan berat badan yang drastis.

Penyebab Skrofuloderma dan Faktor Risikonya

Skrofuloderma terjadi akibat infeksi bakteri *Mycobacterium tuberculosis*. Berbeda dengan TBC paru yang langsung menyerang paru-paru, skrofuloderma merupakan TBC yang menyebar ke kulit.

Penyebab utama skrofuloderma adalah:

  • Infeksi langsung bakteri *Mycobacterium tuberculosis* dari organ dalam tubuh, seperti kelenjar getah bening atau tulang, kemudian menyebar dan merusak jaringan kulit di atasnya. Bakteri ini tidak langsung menginfeksi kulit dari luar.
  • Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu dengan sistem imun yang lemah. Contohnya adalah penderita HIV/AIDS atau mereka yang sedang menjalani pengobatan imunosupresif. Daya tahan tubuh yang rendah membuat bakteri lebih mudah berkembang biak dan menyebar ke kulit.

Diagnosis dan Penanganan Skrofuloderma

Diagnosis skrofuloderma memerlukan pemeriksaan medis yang cermat untuk membedakannya dari kondisi kulit lainnya. Penanganan yang tepat akan membantu mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi.

Proses diagnosis dan penanganan skrofuloderma meliputi:

  • Diagnosis skrofuloderma ditegakkan oleh dokter spesialis kulit (dermatolog).
  • Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dengan melihat karakteristik luka dan benjolan yang muncul di kulit.
  • Untuk memastikan diagnosis, dokter mungkin akan melakukan biopsi kulit. Biopsi adalah prosedur pengambilan sampel jaringan kulit dari area yang terinfeksi untuk kemudian diperiksa di bawah mikroskop guna mengidentifikasi keberadaan bakteri *Mycobacterium tuberculosis*.
  • Setelah diagnosis pasti ditegakkan, penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk mendapatkan rencana penanganan yang paling sesuai dan efektif.

Pengobatan Skrofuloderma yang Efektif

Pengobatan skrofuloderma mirip dengan pengobatan TBC pada umumnya, yang berfokus pada eliminasi bakteri *Mycobacterium tuberculosis* dari tubuh. Kepatuhan pasien dalam minum obat sangat menentukan keberhasilan terapi.

Pengobatan standar untuk skrofuloderma meliputi:

  • Pengobatan standar TBC dengan menggunakan Obat Antituberkulosis (OAT).
  • Biasanya, pasien perlu mengonsumsi OAT selama minimal 6 bulan, atau bahkan lebih lama tergantung respons tubuh terhadap pengobatan dan rekomendasi dokter.
  • Jenis-jenis OAT yang umumnya digunakan dalam dosis kombinasi antara lain Rifampisin (R), Isoniazid (H), Pirazinamid (Z), dan Etambutol (E). Dokter akan menentukan kombinasi dan dosis yang tepat sesuai kondisi pasien.
  • Sangat penting bagi pasien untuk minum obat secara teratur sesuai resep dan jadwal yang diberikan dokter. Ketidakpatuhan dalam minum obat dapat menyebabkan resistensi bakteri terhadap OAT, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dan lama.

Pencegahan Skrofuloderma untuk Kesehatan Kulit

Meskipun skrofuloderma merupakan kondisi yang jarang terjadi, langkah-langkah pencegahan dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit ini. Pencegahan terutama berfokus pada penguatan sistem kekebalan tubuh.

Beberapa upaya pencegahan skrofuloderma antara lain:

  • Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) terbukti efektif dalam membantu mencegah berbagai bentuk TBC, termasuk TBC kulit. Pemberian vaksin ini umumnya dilakukan pada bayi baru lahir.
  • Menjaga daya tahan tubuh agar tetap kuat adalah kunci utama. Ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, cukup istirahat, dan mengelola stres dengan baik.
  • Bagi individu dengan kondisi medis yang melemahkan sistem imun, seperti penderita HIV/AIDS, penting untuk mengikuti pengobatan rutin dan anjuran dokter untuk menjaga kesehatan.

Kapan Harus ke Dokter dan Rekomendasi Halodoc

Skrofuloderma adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera. Jika ada benjolan di bawah kulit yang terus membesar, kemerahan, dan kemudian pecah menjadi luka bernanah, terutama disertai gejala umum TBC, sangat disarankan untuk segera mencari bantuan medis.

Jangan menunda pemeriksaan diri ke dokter spesialis kulit. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat akan membantu mencegah komplikasi lebih lanjut dan memastikan penyembuhan yang optimal. Untuk mendapatkan konsultasi medis yang akurat dan terpercaya, gunakan aplikasi Halodoc. Melalui Halodoc, bisa terhubung dengan dokter spesialis kulit berpengalaman untuk mendiskusikan gejala, mendapatkan diagnosis, serta rencana pengobatan yang personal dan efektif.