• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Stenosis Pilorus Bisa Didiagnosis Melalui 3 Pemeriksaan Ini

Stenosis Pilorus Bisa Didiagnosis Melalui 3 Pemeriksaan Ini

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Proses pencernaan melibatkan banyak organ, jaringan, hormon, dan enzim, membentuk suatu kesatuan sistem yang masing-masingnya harus berfungsi optimal. Namun, pada pengidap stenosis pilorus, katup otot yang menjaga makanan di lambung hingga siap diteruskan ke usus kecil mengalami penebalan, sehingga membuat makanan terhalang untuk memasuki tahap proses pencernaan selanjutnya. 

Stenosis pilorus umumnya terjadi pada bayi. Kondisi ini membuat bayi sering muntah setelah menyusu, karena susu yang masuk tidak bisa dialirkan ke usus kecil. Jika dibiarkan, muntah yang terjadi dapat membuat bayi dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh, berat badan menurun, dan membesarnya perut seperti ada benjolan, yang berasal dari otot pilorus yang membesar.

Baca juga: 4 Gangguan Perut yang Rentan Menyerang Anak

Pemeriksaan untuk Diagnosis Stenosis Pilorus

Waspadalah jika bayi sering muntah atau mengeluarkan lagi susu yang ditelannya, dalam jumlah yang banyak, atau bukan sekadar gumoh. Sebab, hal itu bisa jadi indikasi stenosis pilorus. Segera download aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit, agar pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis bisa dilakukan. 

Dalam memastikan diagnosis stenosis pilorus, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, dengan cara melihat tanda-tanda dehidrasi yang mungkin dialami. Misalnya kulit kering atau cekungnya mata dan ubun-ubun bayi. Selain itu, dokter juga akan memeriksa perut bayi, apakah ada benjolan akibat penebalan otot pilorus atau tidak. 

Selanjutnya, pemeriksaan penunjang juga akan dilakukan, berupa:

  1. Pemeriksaan USG perut, untuk memeriksa organ dan jaringan dalam perut bayi.
  2. Rontgen kerongkongan, lambung, dan duodenum, dengan memberikan zat kontras barium untuk melihat gambaran pilorus lebih jelas. 
  3. Tes darah, untuk mengetahui apakah ada gangguan elektrolit atau tidak.

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Alasan Stenosis Pilorus Lebih Rentan Menyerang Bayi Laki-laki

Pengobatan untuk Stenosis Pilorus

Umumnya, pengobatan untuk stenosis pilorus adalah tindakan operasi atau pembedahan bernama piloromiotomi. Dalam prosedurnya, otot pilorus yang menebal akan dipotong, lalu akan disuntikkan cairan lewat pembuluh darah hingga operasi selesai. 

Setelah prosedur operasi selesai, bayi biasanya baru dibolehkan makan atau disusui setelah 6-8 jam. Untuk meredakan nyeri, dokter biasanya memberikan obat pereda nyeri dengan dosis rendah. Lalu, bagaimana pengobatan stenosis pilorus pada orang dewasa? Sebenarnya sama saja. Stenosis pilorus pada orang dewasa pun akan diatasi dengan operasi dan pemberian obat-obatan.

Meski begitu, terkadang stenosis pilorus pada orang dewasa juga dapat diatasi tanpa operasi, yaitu dengan membuka otot pilorus menggunakan prosedur endoscopic balloon dilation. Prosedurnya dilakukan dengan menempatkan tabung khusus dengan balon di ujungnya, melalui mulut dan dimasukkan ke perut. Setelah sampai di perut, balon akan dikembangkan untuk membuat pilorus terbuka. 

Baca juga: Muncul di Usia 6 Bulan, Ini Gejala Stenosis Pilorus pada Bayi

Setelah dilakukan operasi, kondisi stenosis pilorus biasanya akan membaik dan jarang kambuh kembali. Sebagai perawatan rumahan, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menunjang penyembuhan stenosis pilorus:

  • Kompres air hangat area bekas sayatan operasi, jika bayi terlihat tidak nyaman.
  • Segera hubungi dokter jika bayi terus muntah, berat badan turun, lemas, atau tidak buang air besar selama 1-2 hari.
  • Bawa kembali bayi ke rumah sakit jika mengalami demam setelah operasi, atau muncul bengkak, merah, dan perdarahan pada luka bekas operasi.

Intinya, setelah prosedur operasi untuk pengobatan stenosis pilorus dilakukan, teruslah pantau kondisi bayi dan ikuti anjuran perawatan rumahan yang diberikan dokter. Jika ada tanda-tanda tidak biasa atau yang disebutkan tadi, segera diskusikan kembali dengan dokter. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Pyloric Stenosis.
Healthline. Diakses pada 2020. Everything You Have to Know About Pyloric Stenosis.
WebMD. Diakses pada 2020. What Is Pyloric Stenosis.