Stres dapat Memicu Munculnya Sindrom Gilbert

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Stres dapat Memicu Munculnya Sindrom Gilbert

Halodoc, Jakarta – Sindrom gilbert mungkin menjadi salah satu penyakit yang awam bagi sebagian orang. Sindrom gilbert merupakan penyakit yang memengaruhi gen seseorang. Gen abnormal yang diturunkan dari orang tua adalah penyebab paling utama munculnya sindrom gilbert. Sindrom gilbert bisa dibilang penyakit langka dan hanya berpeluang besar pada orang-orang pemilik riwayat sindrom gilbert di dalam garis keluarganya.

Baca Juga: Ini Hal yang Perlu Diketahui tentang Penyakit Kuning

Meski gen adalah penyebab utamanya, tetapi ternyata kondisi stres merupakan salah satu risiko memicu terjadinya gejala kuning pada sindrom gilbert. Lantas, apa hubungan antara stres dan sindrom gilbert? Berikut ini penjelasannya.

Alasan Stres Bisa Picu Sindrom Gilbert

Sindrom gilbert terjadi ketika gen yang biasanya bekerja mengontrol enzim untuk memecah bilirubin tidak bekerja semestinya. Oleh karena itu, bilirubin yang seharusnya dipecah masih tetap utuh akibat jumlah enzim yang tidak memadai. Akibatnya, jumlah bilirubin di dalam tubuh seseorang menjadi berlebihan.

Kondisi stres bisa meningkatkan kadar bilirubin dalam darah, sehingga berisiko memicu terjadinya sindrom gilbert. Bilirubin merupakan pigmen kekuningan yang dibuat ketika tubuh memecah sel darah merah yang sudah tua. Bilirubin berjalan melalui aliran darah untuk menuju ke hati. Setelah sampai ke hati, enzim akan mulai memecah bilirubin yang kemudian dikeluarkan dari aliran darah.

Bilirubin yang sudah terpecah kemudian dipindahkan ke kantong empedu untuk diekskresikan dalam tinja. Berikut ini tanda-tanda dari seseorang yang mengidap sindrom gilbert.

Gejala Sindrom Gilbert

Tingginya kadar bilirubin ditandai oleh perubahan warna bagian putih mata menjadi kekuningan. Selain mata, kulit juga bisa berubah warna kekuningan. Gejala lainnya dapat berupa mual, mudah lelah, nyeri perut, diare, serta penurunan nafsu makan. Menurut sebagian besar pengidap mereka tidak menyadari gejala pada awalnya. Pasalnya, gejala sindrom gilbert memang mirip dengan kondisi lain pada awalnya.

Namun, seiring bertambahnya kadar bilirubin, gejalanya pun semakin jelas, sehingga mudah diidentifikasi. Untuk menegakkan diagnosis, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik yang dikombinasikan dengan rangkaian tes penunjang. Jenis tes yang biasanya dilakukan adalah tes darah bilirubin, tes fungsi hati, dan tes genetik. Pemeriksaan tambahan mungkin dibutuhkan apabila ada kondisi lain yang memicu penambahan jumlah bilirubin.

Baca Juga: Inilah Bedanya Penyakit Kuning Pre-Hepatik, Post-Hepatik, dan Intra-Hepatik

Kalau kamu mengalami beberapa gejala diatas, coba bicarakan dengan dokter Halodoc untuk memastikan apakah kamu mengalami kondisi ini atau bukan. Lewat Talk To A Doctor, kamu bisa tanya dokter kapan saja. Download aplikasinya disini. Sindrom gilbert sebenarnya jenis penyakit yang masih tergolong ringan dan tidak membutuhkan penanganan medis khusus. Ini masih bisa ditangani dengan mengubah gaya hidup dan pengobatan rumahan. 

Gaya Hidup dan Pengobatan Rumahan untuk Atasi Sindrom Gilbert

Karena stres berisiko memicu sindrom gilbert, maka mencegah timbulnya stres sama saja dengan mencegah kondisi ini. Mulailah untuk belajar mengelola situasi-situasi tertentu untuk mencegah timbulnya stres maupin menjaga agar jumlah bilirubin tetap terkendali. Tips pencegahannya bisa berupa:

Baca Juga: Mitos atau Fakta, Penyakit Kuning Disebabkan oleh Penyakit Hati

  • Tanyakan ke keluarga apakah kamu memiliki riwayat keluarga yang pernah mengidap sindrom Gilbert. 

  • Periksakan ke dokter untuk bertanya perihal sindrom Gilbert serta memantau apakah kadar bilirubin di dalam tubuh kamu masih dalam batas normal.

  • Biasakan untuk mengonsumsi makanan sehat yang kaya nutrisi.

  • Hindari melakukan diet rendah kalori.

  • Hindari berpuasa atau melewatkan makan.

  • Temukan cara untuk mengatasi stres, seperti olahraga, meditasi, mendengarkan musik dan lain-lain.