26 March 2018

Sudah ASI Eksklusif, Kok Berat Bayi Masih Kurang?

Sudah ASI Eksklusif, Kok Berat Bayi Masih Kurang?

Halodoc, Jakarta – Kata ahli, enggak ada yang bisa menandingi manfaat air susu ibu (ASI) sebagai asupun gizi terbaik bagi bayi. Itulah sebabnya ASI eksklusif selama enam bulan penting diberikan pada bayi. Namun, meski begitu ada juga beberapa kondisi yang bikin ibu resah terhadap kesehatan anaknya walaupun sudah diberi ASI eksklusif. Misalnya, berat bayi kurang atau enggak mecapai batas ideal. Kira-kira apa ya alasannya?

Ibu perlu tahu ada juga banyak ahli yang  menyarankan untuk memberikan ASI pada bayi hingga usia dua tahun. Tentunya, dengan diberikan makanan pendamping asi setelah masa ASI eksklusif sudah terlewati. Pemberian ASI yang optimal bisa membuat anak tumbuh lebih cerdas dan sehat, lho.  Karena dua tahun atau 1000 hari pertama kehidupan merupakan usia emas anak, itulah sebabnya memperhatikan asupan yang bergizi bagi anak amat penting. Nah, asupan itu tidak lain adalah ASI dan makanan pendukung asi.

Pemberian ASI sampai anak berusia dua tahun ini punya banyak manfaat. Mulai dari membantu matangnya sistem kekebalan tubuh, sistem pencernaan, hingga membantu perkembangan otaknya. Kamu perlu harap-harap cemas kalau anak enggak mendaptakan asi yang optimal, sebab menurut ahli, anak yang tidak mendapatkan ASI akan lebih mudah terserang penyakit.

Lalu, mengapa berat bayi kurang meski sudah mendapatkan ASI eksklusif?

  1. Tidak Harus Satu Kilogram

Pastinya para ibu akan merasa senang bila bayinya tumbuh dengan barat badan ideal sesuai usianya. Namun, lagi-lagi ada saja bayi yang kekurangan berat badan meski telah diberi ASI eksklusif. Nah, ibu perlu jeli melihat kondisi ini. Pasalnya, banyak ibu yang menyimpulkan kalau kenaikan berat bayi berarti “naik satu kilogram tiap bulannya”. Padahal, menurut ahli cara menentukan kecukupan berat bayi enggak bisa dilakukan dengan “naik satu kilogram tiap bulannya”. Cara yang paling tepat bisa dilihat dari KMS (Kartu Menuju Sehat) Si Kecil.

Cara membacanya mudah, kok. Jika posisi perkembangan berat bayi berada di dalam garis hijau, ibu enggak perlu resah. Artinya, perkembangan berat badan bayi sudah ideal. Namun, ibu perlu waspada bila beratnya terbaca menurun ke garis kuning. Solusinya, ibu bisa memberikan makanan pendamping ASI yang berkualitas agar Si Kecil mendapatkan kecukupan gizi dan tumbuh dengan sehat.

Nah, omong-omong soal KMS, ibu amat dianjurkan untuk memperbarui datanya setiap bulan dengan membawa Si Kecil ke rumah sakit atau posyandu. Kartu ini bisa memantau pertumbuhan bayi sehingga doket dapat menentukan apakah bayi tumbuh normal atau mengalami gangguan pertumbuhan. Jika ada diangnosis tertentu, dokter pun bisa menangani lebih dini.  

  1. Jangan Buru-buru Diberikan Vitamin

Menurut ahli, pada tiga bulan pertama setelah bayi lahir, kenaikan berat badanya memang “ngebut”, minimal 700 gram sampai satu kilogram. Namun, pada tiga bulan berikutnya kenaikannya akan melandai, sekitar 400-600 gram. Jadi, ibu jangan terus berharap berat Si Kecil akan naik satu kilogram tiap bulannya. Umumnya, ketika bayi berusia lima bulan, beratnya sekitar dua kali berat badan saat lahir.

Nah, ketika bayi sudah diberi ASI eksklusif tapi beratnya masih kurang, coba amati bagaimana asupan ASI-nya. Cukup atau tidak? Sebab gangguan kenaikan berat badan biasanya disebabkan dua faktor umum, yaitu Si Kecil minum tidak banyak atau produksi ASI kurang. Selain itu, ada juga penyebab lainnya seperti bayi punya gangguan minum atau jumlah yang diminum sedikit.

Jadi, ibu jangan buru-buru memberi Si Kecil vitamin, apalagi menambahkan asupannya dengan susu formula. Sebab menurut ahli, pemberian makanan yang terlalu dini bisa meningkatkan risiko alergi, karena pencernaan bayi masih lemah.

Nah, agar pertumbuhan bayi ideal dan kesehatannya tetap terjaga, ibu bisa berdiskusi dengan dokter untuk mencari tahu penyebab berat bayi kurang meski sudah diberi ASI eksklusif. Ibu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah tersebut. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.