Terlalu Banyak Main Gadget Bisa Bikin Anak Kena Dyspraxia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Terlalu Banyak Main Gadget Bisa Bikin Anak Kena Dyspraxia

Halodoc, Jakarta – Setiap orangtua pasti menginginkan sang buah hati tumbuh dan berkembang secara sehat dan normal. Namun, kalau ternyata Si Kecil terlambat untuk melakukan hal yang berhubungan dengan koordinasi, bisa jadi ia mengalami masalah perkembangan. Developmental coordination disorder (DCD) atau dyspraxia adalah salah satu masalah perkembangan yang rentan diidap oleh anak-anak.

Baca Juga: Gadget atau Mainan, Hadiah Terbaik untuk Anak

Dyspraxia merupakan kondisi kurangnya koordinasi antara otak dengan kemampuan untuk melakukan berbagai koordinasi. Misalnya, Si Kecil ingin mengikat tali sepatunya sendiri. Ketika Ia berniat untuk mengikat tali sepatu, otak tidak mengirimkan instruksi untuk mengikat sepatu dengan baik kepada tangan meski otak sudah tahu cara mengikat sepatu. Akibatnya, tangan Si Kecil tidak bisa mengikuti instruksi otak, sehingga ia tidak mampu mengikat sepatu dengan benar. 

Mengenal Dyspraxia yang Rentan Dialami Si Kecil

Koordinasi dan pergerakan anggota tubuh adalah proses kompleks yang melibatkan berbagai saraf dan bagian otak. Jika terdapat gangguan pada salah satu saraf ataupun bagian otak, maka hal ini menyebabkan dyspraxia. Pengidap dyspraxia umumnya memiliki kecerdasan normal. 

Kondisi ini cenderung membuat orang lain berpikir bahwa anak dengan kondisi ini tidak layak atau tidak cerdas karena mereka tidak mampu melakukan tugas-tugas dasar. Kondisi ini dianggap sebagai gangguan masa kanak-kanak, tetapi tidak sedikit pula yang membawanya sampai dewasa.

Benarkah Keseringan Main Gadget Bikin Anak Terkena Dyspraxia?

Meski sampai saat ini masih belum jelas penyebab dyspraxia, tetapi terlalu sering main gadget tidak membuat anak-anak mengalami dyspraxia. Hampir sebagian besar pemicu dyspraxia berhubungan dengan masalah kehamilan atau faktor genetik. Berikut ini hal yang meningkatkan risiko seseorang terkena dyspraxia, yaitu:

  • Kelahiran prematur, sebelum mencapai usia kehamilan 37 minggu;
  • Lahir dengan berat badan kurang dari normal;
  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap dyspraxia;
  • Konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang saat hamil.

Baca Juga: Tips Bijak Mengatur Penggunaan Gadget pada Anak

Apabila ibu ingin bertanya lebih lanjut terkait kondisi dyspraxia pada anak, diskusikan saja dengan dokter anak Halodoc. Melalui aplikasi, ibu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Seperti Apa Gejala Dyspraxia?

Gejala dyspraxia bervariasi pada setiap orang serta kondisinya dapat berubah seiring waktu. Seorang anak mengalami dyspraxia mungkin mengalami kesulitan dengan hal-hal berikut ini:

  • Koordinasi, keseimbangan dan pergerakan;
  • Mempelajari keterampilan baru, berpikir, dan mengingat informasi di sekolah dan dalam kegiatan rekreasi;
  • Keterampilan hidup sehari-hari, seperti berpakaian atau mengikat tali sepatu;
  • Menulis, mengetik, menggambar dan menggenggam benda-benda kecil;
  • Situasi sosial;
  • Berkaitan dengan emosi;
  • Cara mengatur waktu, perencanaan dan organisasi pribadi.

Bagaimana Cara Mengatasi Kondisi Ini?

Meskipun tidak ada obat untuk dyspraxia, banyak terapi yang tersedia untuk membantu mengatasi hal-hal yang berkaitan dengan sekolah, pekerjaan rumah dan aktivitas sosial, seperti:

  • Terapi okupasi. Terapi ini membantu menemukan cara praktis untuk tetap mandiri dan mengelola tugas sehari-hari seperti menulis atau menyiapkan makanan.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi berbicara membantu mengelola masalah dengan mengubah cara berpikir dan berperilaku.

Baca Juga: Si Kecil Kecanduan Gadget, Ini Dampaknya pada Kesehatan

Jadi, terlalu sering bermain gadget tidak menjadikan Si Kecil dyspraxia. Meski begitu, orangtua perlu memberikan edukasi terkait kebiasaan main gadget yang terlalu sering, karena menyebabkan berbagai masalah kesehatan maupun perilaku sosial Si Kecil.

Referensi:
NHS. Diakses pada 2019. Dyspraxia (developmental co-ordination disorder) in adults.
Healthline. Diakses pada 2019. The Truth Behind Clumsy Child Syndrome: Developmental Coordination Disorder.