• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Terobsesi Makanan Sehat, Waspada Gejala Ortoreksia

Terobsesi Makanan Sehat, Waspada Gejala Ortoreksia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Untuk mendapatkan tubuh yang lebih sehat, kamu harus benar-benar memperhatikan makanan yang kamu asup. Dengan begitu, seluruh bagian tubuh kamu akan terawat dengan baik. Seperti pepatah mengatakan "Kamu adalah apa yang kamu makan", maka aplikasikanlah pada keseharianmu.

Walau begitu, terdapat gangguan yang terjadi disebabkan oleh pengidapnya sangat terobsesi pada makanan-makanan yang menurutnya sehat. Gangguan ini disebut dengan ortoreksia. Apa saja gejala ortoreksia yang dapat timbul ketika seseorang mengidap hal tersebut? Berikut pembahasan lengkapnya!

Baca juga: 8 Gangguan Makan yang Merugikan Kesehatan

Gejala dari Ortoreksia, Obsesi pada Makanan Sehat

Ortoreksia adalah gangguan yang terjadi karena obsesi pada kualitas makanan yang dikonsumsinya dan harus benar-benar sehat. Pengidap gangguan ini benar-benar membatasi asupan makanannya dari segi kualitas yang terkandung atau jenis makanannya. Umumnya, orang ini kebanyakan mengonsumsi sayur dan buah.

Seseorang yang mengalami ortoreksia mungkin saja mengalami malnutrisi. Pada kasus yang jarang, pengidap kondisi ini mengalami gangguan pada jantung dan kelainan yang berhubungan dengan gizi buruk. Selain itu, kamu mungkin juga mengalami masalah besar terhadap kehidupan sosial karena mengganggap orang lain lebih rendah karena asupan makanannya.

Gejala umum pada ortoreksia adalah dorongan yang kuat terhadap keinginan untuk mengonsumsi makanan yang murni dan sehat. Orang ini lebih terobsesi pada mempertahankan diet yang sempurna dibandingkan berat badan yang ideal. Berikut beberapa gejala ortoreksia lainnya yang dapat terjadi:

  • Selalu mempunyai pikiran obsesif terhadap efek makanan yang dikonsumsi secara medis, seperti alergi, gangguan pencernaan, hingga asma, serta kondisi yang belum terdiagnosis.

  • Benar-benar membatasi jenis makanan yang dikonsumsi karena beranggapan terlalu banyak makanan yang masuk pada diet yang dijalankan.

  • Mengonsumsi banyak produk-produk probiotik, obat herbal, dan suplemen lain yang dianggapnya berdampak sehat bagi tubuh.

  • Mempunyai keprihatinan yang tidak masuk akal tentang cara mempersiapkan makanan, teknik mencuci makanan, dan sterilisasi peralatan makan.

Gejala dari ortoreksia memang dapat banyak sekali jenisnya. Maka dari itu, untuk memastikannya,  kamu dapat bertanya pada dokter dari Halodoc. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan! Kamu juga dapat membeli obat tanpa perlu ke luar rumah dengan aplikasi tersebut.

Baca juga: Orthorexia, Obsesi Makanan Sehat yang Tak Menyehatkan

Pengidap ortoreksia juga mempunyai gejala yang sangat terlihat terhadap makanan, seperti:

  • Perasaan yang puas dan bahagia ketika mengonsumsi makanan yang bersih dan sehat.

  • Mengalami perasaan bersalah ketika mengonsumsi makanan yang dianggapnya tidak sehat dan bersih.

  • Perencanaan makan yang benar-benar terstruktur dan merasa bersalah jika tidak direncanakan sebelumnya.

  • Berpikir secara kritis dan menghakimi orang lain yang tidak mempunyai rencana makan yang sehat seperti dirinya.

  • Benar-benar menghindari makanan yang dibeli atau disiapkan oleh orang lain.

  • Menjaga jarak dengan orang-orang sekitar yang tidak melakukan diet sehat sama sepertinya.

Seseorang yang mengalami perilaku kompulsif dan gangguan mental yang berhubungan dengan mengonsumsi makanan sehat ini mulai memengaruhi kualitas hidup. Orang tersebut mungkin mengalami penurunan berat badan yang drastis, kekurangan gizi, hingga beberapa kondisi medis lainnya yang berhubungan dengan pembatasan konsumsi makanan.

Baca juga: Benarkah Metode Clean Eating Baik untuk Mengatasi Eating Disorder?

Cara Mengatasi Ortoreksia dan Gejala yang Timbul

Gangguan terhadap obsesi pada makanan yang sehat tersebut dapat dengan mudah diatasi apabila orang tersebut sudah tidak memiliki keyakinan jika makanan yang sehat adalah pola makan yang paling baik. Hal yang pertama harus dilakukan adalah mengatasi masalah psikologis tersebut, karena jika pola pikirnya masih sama akan sulit untuk diobati.

Orang-orang yang berada di dekatnya juga harus menanamkan pemahaman konsumsi makanan yang sehat itu bagus, tetapi memperhatikan nutrisi juga sama pentingnya. Dengan begitu, gangguan yang menyebabkan kelainan pada tubuh dapat diatasi dan menjadi lebih sehat.

Referensi:
Psycom. Diakses pada 2019. Orthorexia Nervosa
Walden Eating Disorders. Diakses pada 2019. 8 Warning Signs of Orthorexia