• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tes untuk Mendeteksi Syok Hipovolemik

Tes untuk Mendeteksi Syok Hipovolemik

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Ketika darah dan cairan hilang dari tubuh dalam jumlah besar, risiko syok hipovolemik akan menanti. Kondisi gawat darurat ini dapat membuat jantung tidak bisa memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh. Jika tidak segera ditangani, syok hipovolemik bisa menyebabkan kerusakan organ dan jaringan. 

Pada kebanyakan kasus, syok hipovolemik disebabkan oleh perdarahan dan dehidrasi berat. Lalu, bagaimana cara mengetahui gejala syok hipovolemik dan apa saja tes untuk mendeteksinya?

Baca juga: Enggak Banyak yang Tahu, Syok Hipovolemik Berbahaya Kalau Pingsan


Cara Mendeteksi Syok Hipovolemik

Syok hipovolemik dapat menimbulkan berbagai gejala. Kondisi ini terjadi karena jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup ke seluruh tubuh. Gejala yang terjadi mulai dari lemas, tekanan darah menurun, ujung jari tangan dan telapak kaki dingin, denyut nadi cepat tetapi lemah, jantung berdebar-debar, pucat, suhu tubuh menurun, hingga hilangnya kesadaran. 

Segera pergi ke instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat, jika kamu mengalami perdarahan, dehidrasi berat, diare dan muntah terus-menerus, atau kondisi lain yang bisa menyebabkan syok hipovolemik. Meski begitu, untuk memastikan diagnosis syok hipovolemik, dibutuhkan beberapa prosedur tes. 

Sebab, gejala syok hipovolemik bisa bervariasi. Jika pengidap datang dalam kondisi hilang kesadaran, dokter akan dilakukan pemeriksaan yang meliputi ada tidaknya halangan di saluran napas, tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh.

Baca juga: Ketahui Penanganan Sementara Ketika Mengalami Syok Hipovolemik

Sambil melakukan pemeriksaan, dokter juga akan melakukan tanya jawab dengan orang yang membawa pengidap ke rumah sakit. Setelah itu, dokter melakukan beberapa tes untuk memastikan kondisi syok hipovolemik, seperti cek tekanan darah (tensi), saturasi oksigen, atau kateter urine.

Selain akibat cedera atau perdarahan saluran cerna, kondisi pecah atau rupturnya kehamilan ektopik juga bisa menyebabkan perdarahan. Itulah sebabnya akan dilakukan tes kehamilan untuk memastikannya.


Pertolongan Pertama dan Lanjutan untuk Syok Hipovolemik

Syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat, sehingga perlu ditangani secara medis. Namun, sambil menunggu ambulans atau pertolongan medis, berikut ini hal yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama, jika melihat ada yang mengalami syok hipovolemik:


  • Posisikan tubuh pendidap di permukaan yang rata. Usahakan angkat kaki sedikit, agar posisi kepala lebih rendah daripada kaki.
  • Jangan mengubah posisi tubuh pengidap jika terdapat cedera di kepala, leher, punggung, atau kaki. Kecuali dalam kondisi bahaya, misalnya dekat dengan benda yang mudah meledak.
  • Jangan berikan cairan apa pun ke dalam mulut pengidap dan jangan mencabut benda apa pun yang menancap di tubuhnya.
  • Tekan titik perdarahan dengan menggunakan kain atau handuk bersih, untuk meminimalkan volume darah yang terbuang. 
  • Selimuti dan buat suhu tubuh pengidap tetap hangat untuk mencegah hipotermia.

Baca juga: Cara Pencegahan Syok Hipovolemik yang Perlu Diketahui

Setelah bantuan medis tiba atau sudah sampai di IGD, petugas medis melakukan pertolongan lanjutan yang meliputi:


  • Pemberian oksigen atau pemasangan alat bantu napas, untuk menangani gangguan pernapasan.
  • Pemberian cairan infus atau transfusi darah secara cepat, untuk mengembalikan volume cairan dan darah ke kadar normal.
  • Pembedahan, jika terdapat perdarahan yang terjadi di luar atau di dalam tubuh.
  • Pemberian obat-obatan, seperti dobutamin, dopamine, epinephrine, atau norepinephrine, untuk meningkatkan kemampuan jantung dalam memompa darah.

Itulah beberapa pertolongan pertama dan lanjutan untuk syok hipovolemik. Jika ada yang masih belum jelas soal syok hipovolemik, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya lebih lanjut pada dokter, kapan dan di mana saja.

Referensi:
National Institutes of Health. MedlinePlus. Diakses pada 2020. Hypovolemic Shock.
Healthline. Diakses pada 2020. Hypovolemic Shock.
WebMD. Diakses pada 2020. What Is Hypovolemic Shock?