26 February 2019

Tidak Dianjurkan, Ini Dampak Kekerasan Fisik pada Anak

Tidak Dianjurkan, Ini Dampak Kekerasan Fisik pada Anak

Halodoc, Jakarta – Hukuman fisik termasuk hal yang wajar dilakukan pada pola asuh zaman dahulu. Tujuannya bukan untuk menyakiti anak, tapi memberi efek jera dan mengajarkan kedisiplinan. Hal ini berbeda dengan pola asuh modern yang tidak lagi mengutamakan kekerasan fisik. Meski begitu, masih ada orangtua yang mendisiplinkan anak dengan kekerasan.

Bagaimana Dampak Kekerasan Fisik pada Anak?

Hal ini tidak boleh dibiarkan karena berdampak negatif pada tumbuh kembang dan kondisi psikologi anak. Pada kasus yang parah, kekerasan fisik bisa dianggap sebagai cara menyelesaikan masalah dan ditiru. Itu sebabnya anak yang dididik dengan kekerasan rentan menjadi pelaku bullying pada temannya di sekolah. Bullying bisa dalam bentuk fisik atau kata-kata, tergantung apa yang ia lihat dan tiru dari orangtuanya.

Bila Si Kecil menjadi pelaku bullying, hindari memarahi dan menghukumnya. Melawan kekerasan dengan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaiknya tanyakan tentang alasan ia melakukannya dan berdiskusi dengan pihak sekolah untuk mencari solusi bersama. Jangan lupa untuk koreksi diri karena bisa jadi, ia meniru apa yang ia lihat dari orangtua atau lingkungan terdekatnya.

Selain menjadi pelaku bullying, anak yang dididik dengan kekerasan cenderung tumbuh menjadi pemberontak. Di antaranya melawan guru atau orangtua, suka bertengkar, tingkat percaya diri berlebih, dan pendendam.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Menjadi Korban Bullying?

Menghadapi anak yang menjadi korban bullying bukan dengan melindunginya secara penuh, tapi membuatnya berdaya dan kuat menghadapi permasalahan hidupnya secara mandiri. Dengarkan pikiran dan perasaannya. Hindari menunjukkan emosi negatif, meski ini hal yang wajar saat mengetahui anaknya diperlakukan tidak baik.

Tanyakan pada anak tentang apa yang sekiranya bisa ibu bantu untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Apakah memberitahu guru, menemui orangtua pelaku bullying, memarahi anak pelaku bullying, atau memindahkan tempatnya bersekolah. Keterlibatan orangtua perlu mendapatkan persetujuan anak demi kenyamanannya. Namun sebagai orangtua, ibu dan pasangan bisa mengambil tindakan jika situasi tidak kunjung membaik. Ibu bisa menemui kepala sekolah atau pihak terkait bila bullying tetap berlanjut.

Perlukah Ajari Anak Cara Mencegah Bullying?

Mengapa tidak? Justru hal ini membantu anak mencegah perilaku negatif dari orang lain, salah satunya bullying. Pelaku bullying biasanya memilih anak yang secara emosional atau fisik dianggap lebih lemah darinya. Sehingga agar Si Kecil terhindar dari perilaku bullying, berikut hal yang bisa dilakukan.

  • Tumbuhkan rasa percaya diri. Bantu Si Kecil mengenal sifat dan karakteristiknya sejak dini. Libatkan Si Kecil dalam kegiatan positif yang sifatnya akademis maupun non-akademis. Kompetisi diri yang baik membantunya merasa berharga dan percaya diri sehingga lebih berani menghadapi lingkungannya.

  • Latih kemampuan sosial agar ia bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Caranya dengan memasukkannya ke kelompok bermain, mengajaknya berkunjung ke rumah saudara yang memiliki anak seusianya, serta mengadakan play date dengan teman-temannya.

  • Latih Si Kecil cara menyelesaikan masalah. Tujuannya agar ia belajar menghadapi konsekuensi dari setiap masalah yang dihadapi.

Itulah dampak kekerasan pada anak yang perlu diwaspadai. Kalau Si Kecil menjadi korban bully dan berdampak negatif pada kepribadiannya, jangan ragu berdiskusi pada psikolog atau psikiater Halodoc. Ibu bisa menghubungi psikolog atau psikiater Halodoc kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!

*artikel ini pernah tayang di SKATA