13 March 2019

Tidak Semua Infeksi Memerlukan Pengobatan Antibiotik

Tidak Semua Infeksi Memerlukan Pengobatan Antibiotik

Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) adalah salah satu kondisi yang menjadi alasan pasien mendatangi klinik dokter. Di Amerika Serikat, jumlah kunjungan ke dokter akibat ISPA ringan atau tanpa komplikasi, mencapai 25 juta kunjungan, dan menyebabkan 20-22 juta izin bolos kerja atau sekolah setiap tahun.1

Selain kasusnya cukup banyak, persoalan lainnya adalah sebagian besar ISPA diberikan pengobatan antibiotik.1 Sebuah penelitian pernah dilakukan pada pasien rawat jalan, dan dari 52.000 pasien ISPA, sebanyak 65% diberikan resep antibiotik. Penggunaan antibiotik yang berlebihan menyebabkan resistensi, menambah biaya pengobatan, dan menambah efek samping, termasuk risiko anafilaksis atau alergi obat yang berat.1

Gejala ISPA yang disebabkan bakteri maupun virus bisa hampir sama. Keduanya menyebabkan demam, ngilu di otot, batuk, dan radang tenggorokan. Tetapi, terapi yang dijalani akan berbeda.2 Dari berbagai jenis ISPA, infeksi bakteri umumnya menyebabkan infeksi di telinga, tenggorokan, sinus, bronkitis, pneumonia, dan batuk rejan.2 Virus lebih sering menyebabkan selesma (common cold), flu, bronkitis dan beberapa jenis pneumonia. Tetapi kebanyakan infeksi pada saluran pernapasan umumnya tidak serius dan disebabkan virus.2

Berikut ini sekilas penjelasan tentang jenis-jenis ISPA dan penyebabnya. Antibiotik hanya diberikan untuk ISPA yang disebabkan bakteri:1

1. Batuk pilek atau Common Cold

Common cold atau batuk pilek umumnya disebabkan virus dan dapat sembuh dengan sendirinya. Gejalanya hidung berair, radang tenggorokan, batuk, bersin, dan hidung tersumbat. Batuk pilek ini tidak akan membaik dengan terapi antibiotik.

2. Influenza

Influenza disebabkan virus influenza A atau B. Influenza dapat menyerang semua usia, tetapi sering terjadi pada anak-anak. Influenza dapat menyebabkan kematian pada pasien usia lanjut (di atas 65 tahun) atau anak-anak usia kurang dari 2 tahun.

3. Rhinosinusitis

Rhinosinusitis akut bisa disebabkan virus maupun bakteri sehingga penting untuk memastikannya ke dokter sehingga tidak salah pengobatan. Infeksi karena bakteri umumnya jika gejala tidak membaik setelah 10 hari dengan gejala ingus yang lebih kental, nyeri di rongga sinus.

4. Otitis Media

Infeksi telinga tengah ini bisa disebabkan virus maupun bakteri. Bakteri yang dapat menyebabkan otitis media adalah H. influenzaeS. pneumoniae, and M. catarrhalis.

5. Faringitis dan Tonsillitis

Lebih dari 90% orang dewasa dan 70% anak-anak yang mengalami radang tenggorokan disebabkan oleh virus. Namun, ada pula radang tenggorokan yang disebabkan bakteri, terutama beta-hemolytic streptococcus.

6. Bronkitis

Bronkitis akut yang ditandai batuk disertai dahak biasanya disebabkan virus dan dapat sembuh dengan sendirinya. Penting untuk membedakan bronkitis dengan pneumonia dan influenza, karena antibiotik hanya diberikan pada pasien pneumonia, sedangkan antivirus untuk pasien influenza. Hanya sebagian kecil bronkitis akut yang disebabkan bakteri.

Cara untuk memastikan penyebab ISPA adalah pasien disarankan mengunjungi dokter. Secara umum, ISPA dicurigai disebabkan bakteri jika gejala tidak membaik lebih dari 10 hari, demam berulang, muncul gejala sesak napas, dan dahak kental berwarna kuning atau kehijauan.2

Biasanya pasien usia lanjut, pengidap penyakit yang menyebabkan kekebalan tubuh rendah, pasien asma, lebih berisiko mengalami ISPA yang disebabkan bakteri.2 Jika gejala membaik dalam waktu paling lama 10 hari, infeksi umumnya disebabkan virus dan tidak membutuhkan pengobatan lebih lanjut dengan antibiotik.2

Pasien yang konsumsi antibiotik yang seharusnya tidak perlu, dapat menyebabkan resistensi antibiotik, yaitu antibiotik tidak lagi mampu membasmi infeksi bakteri.2 Antibiotik berpotensi menyebabkan efek samping. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention, 1 dari 3 peresepan antibiotik sebenarnya tidak perlu.2

Pengobatan sejak dini dan tuntas penting karena ISPA dapat menyebabkan komplikasi. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi di antaranya infeksi sekunder, yaitu ketika infeksi yang awalnya disebabkan virus kemudian mengundang infeksi bakteri sehingga gejala lebih berat. Radang tenggorokan karena bakteri menyebabkan demam rematik. Infeksi sinus dapat merembet ke otak, dan komplikasi lainnya.3

Pencegahan ISPA adalah menerapkan pola hidup sehat, jauhi asap rokok dan tidak merokok, kurangi stres, diet seimbang, dan rutin berolahraga meningkatkan kekebalan tubuh sehingga mengurangi risiko infeksi.

Bayi direkomendasikan mendapatkan ASI eksklusif untuk menguatkan kekebalan tubuhnya. Selalu lakukan perilaku hidup bersih dengan rajin cuci tangan terutama di musim flu atau batuk pilek, dan jauhi kontak langsung dengan pengidap ISPA.3

Referensi:

  1. Zoorob R, et al.Antibiotic Use in Acute Upper Respiratory Tract Infections. Am Fam Physician 2012; 86(9):817-22, [online] (https://www.aafp.org/afp/2012/1101/p817.html)
  2. Summit Medical Group, 2018, IS YOUR COLD A VIRUS OR BACTERIUM? HOW TO TELL THE DIFFERENCE, [0nline] (https://www.summitmedicalgroup.com/news/living-well/your-cold-virus-or-bacterium-how-tell-difference/)
  3. Jerry R. Balentine, 2018, Upper Respiratory Tract Infection, [online) (https://www.medicinenet.com/upper_respiratory_infection/article.htm#what_is_the_outlook_for_a_patient_suffering_from_an_upper_respiratory_infection)