26 March 2018

Timbang-menimbang Pola Asuh Untuk Anak

Timbang-menimbang Pola Asuh Untuk Anak

Halodoc, Jakarta – Masing-masing orangtua tentu berhak memutuskan pola asuh yang tepat untuk buah hati mereka. Baik itu pola asuh yang permisif, otoriter, atau autoritatif, bisa dipilih untuk mendidik dan membesarkan Si Kecil. Yang perlu diingat, pola asuh akan memengaruhi kepribadian dan karakter anak di masa mendatang. Nah, enggak ada salahnya kan untuk berkenalan dengan pola asuh anak sebelum memilihnya. Yuk, simak penjelasannya menurut para ahli berikut ini:

  1. Pola Asuh Permisif

Menurut ahli, pola asuh anak jenis ini memberikan kebebasan pada anak untuk menyatakan dorongan atau keinginannya. Pola asuh ini enggak memberikan batasan yang tegas pada anak. Biasanya orangtua akan mengikuti apapun yang anak inginkan sehingga ia cenderung enggak memiliki keteraturan dan kemampuan untuk meregulasi diri. Enggak cuma itu, orangtua biasanya memberikan tuntutan yang minim kontrol pada perilaku anak. Jika anak melakukan kesalahan, orangtua dengan pola asuh ini jarang, bahkan tidak pernah memberikan hukuman.

Menurut ahli, dampak pola asuh permisif akan membawa pengaruh atas sifat-sifat anak, seperti:

  • Suka memberontak.
  • Prestasinya rendah.
  • Suka mendominasi.
  • Kurang memiliki rasa kepercayaan diri.
  • Kurang bisa mengendalikan diri.
  • Tidak jelas arah hidupnya.
  1. Pola Asuh Otoriter

Dalam buku  Raising Children In Digital Era, dikatakan bahwa tipe orang tua otoriter biasanya lahir dari pola asuh serupa yang diterimanya ketika kecil. Pola asuh anak jenis ini enggak memberikan ruang diskusi pada anak. Sederhananya, peraturan dibuat untuk mengontrol anak. Enggak cuma itu, orangtua yang menerapkan pola asuh ini sering kali terbilang keras dengan alasan mendidik. Mereka cenderung memberikan kontrol yang sangat kuat pada perilaku anak. Singkatnya, anak harus patuh, dan kalau melanggar maka enggak jarang konsekuensinya adalah hukuman, bahkan hukuman fisik.   

Menurut ahli, efek negatif dari hukuman fisik ini bisa berakibat buruk pada fisik dan mental anak. Bagi mental, bisa membuat anak  berprilaku agresif, tak percaya diri, dan pemalu. Agresivitas ini akan terbentuk dari kemarahan atau perasaan negatif yang tertumpuk. Jadi, ketika anak sering mendapatkan hukuman fisik, maka mungkin saja ia menjadi marah dengan keadaan, lalu menyalurkannya dalam bentuk agresivitas pada orang lain.

Menurut studi dari University College London, anak yang sejak kecil selalu dikontrol kehidupannya, ternyata tidak bahagia dan memiliki kesehatan mental yang rendah. Bahkan, efek jangka panjangnya  mirip dengan kondisi mental orang yang pernah ditinggal meninggal oleh seorang yang dekat dengannya.

Pola asuh otoriter memang sah-sah saja diterapkan. Kata ahli, pola asuh anak jenis ini mungkin tepat diterapkan pada anak yang memiliki masalah perilau. Misalnya, berkaitan dengan aturan jam malam. Nah, di luar masalah jam malam, orangtua bisa menerapkan pola asuh yang dinilai baik untuk anak, alias mengombinasikan pola asuh.

Menurut ahli, dampak pola asuh otoriter akan membawa pengaruh atas sifat-sifat anak, seperti:

  • Tidak mempunyai kekuatan memilih.
  • Tidak bisa mengambil keputusan sendiri.
  • Takut salah.
  • Tidak mempunyai kekuatan untuk mengatakan tidak.
  • Takut mengemukakan pendapat.
  • Kurangnya motivasi internal.
  1. Pola Asuh Autoritatif

Inilah pola asuh yang paling disarankan ahli untuk orangtua terapkan. Pola asuh ini memberikan batasan perilaku yang jelas dan konsisten. Selain itu, pola asuh autoritatif enggak menggunakan kekerasan dalam mengasuh anak. Di sini, orangtua akan mendorong adanya diskusi dengan anak. Contohnya, seperti menjelaskan pada Si Kecil mengapa diberikan aturan tertntu. Sederhananya, orangtua enggak membebaskan dan menerima begitu saja perilaku anak, tapi juga enggak memberikan kontrol yang berlebihan. Menariknya, anak akan diberikan kesempatan untuk mencoba dan bertanggun jawab pada pilihannya.

Nah, berikut dampak pola asuh autoritatif pada anak:

  • Memiliki keterampilan sosial yang baik.
  • Terampil menyelesaikan permasalahan.
  • Mudah bekerjasama dengan orang lain-lain.
  • Lebih peracaya diri.
  • Tampak lebih kreatif.

Punya masalah kesehatan dan ingin bertanya pada ahlinya? Orangtua bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah ini. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.