Transplantasi Sumsum Tulang Belakang untuk Kanker Darah Sulit?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Transplantasi Sumsum Tulang Belakang untuk Kanker Darah Sulit?

Halodoc, Jakarta –  Transplantasi sumsum tulang belakang dapat digunakan untuk mengobati kanker. Transplantasi ini adalah prosedur yang menanamkan sel-sel induk darah yang sehat ke dalam tubuh untuk menggantikan sumsum tulang yang rusak atau sakit. 

Transplantasi sumsum tulang juga disebut transplantasi sel induk. Transplantasi sumsum tulang mungkin diperlukan jika sumsum tulang kamu berhenti bekerja dan tidak menghasilkan cukup sel darah sehat. Apakah transplantasi sumsum tulang darah sulit dilakukan? Yuk, ketahui penjelasannya di sini

Prosedur Transplantasi Sumsum Tulang Belakang

Transplantasi sumsum tulang dapat bermanfaat bagi orang-orang dengan berbagai penyakit kanker (ganas) dan non-kanker (jinak), termasuk kanker darah. Transplantasi sumsum tulang menimbulkan banyak risiko komplikasi di mana beberapa berpotensi fatal.

Risiko dapat tergantung pada banyak faktor, termasuk jenis penyakit atau kondisi, jenis transplantasi, dan usia dan kesehatan orang yang menerima transplantasi. Meskipun beberapa orang mengalami masalah minimal dengan transplantasi sumsum tulang, tetapi yang lain mungkin mengalami komplikasi yang mungkin memerlukan perawatan atau rawat inap. 

Baca juga: Leukimia Langka Ini Butuh Sumsum Tulang Belakang

Beberapa komplikasi, bahkan bisa mengancam jiwa. Komplikasi yang dapat timbul dengan transplantasi sumsum tulang meliputi:

  1. Penyakit graft-versus-host (hanya transplantasi alogenik).

  2. Gagal sel induk (graft).

  3. Kerusakan organ.

  4. Infeksi.

  5. Katarak.

  6. Infertilitas.

  7. Kanker baru.

  8. Kematian.

Dokter dapat menjelaskan risiko komplikasi dari transplantasi sumsum tulang. Bersama-sama, kamu dapat menimbang risiko dan manfaat untuk memutuskan apakah transplantasi sumsum tulang cocok untuk pengobatanmu atau tidak.

Jika kamu menerima transplantasi yang menggunakan sel induk dari donor (transplantasi alogenik), kamu mungkin berisiko terkena penyakit graft-versus-host (GVHD). Kondisi ini terjadi ketika donor sel induk yang membentuk sistem kekebalan baru, sehingga tubuh melihat jaringan dan organ tubuh sebagai sesuatu yang asing dan menyerang mereka.

Banyak orang yang memiliki transplantasi alogenik mendapatkan GVHD di beberapa titik. Risiko GVHD sedikit lebih besar jika sel-sel induk berasal dari donor yang tidak terkait, tetapi bisa terjadi pada siapa saja yang mendapat transplantasi sumsum tulang dari donor.

Baca juga: Jenis Terapi Untuk Mengobati Kanker Darah

GVHD dapat terjadi kapan saja setelah transplantasi dilakukan. Namun, hal itu lebih umum setelah sumsum tulang mulai membuat sel-sel sehat.

Tanda dan gejala GVHD kronis meliputi:

  1. Nyeri sendi atau otot.

  2. Sesak napas.

  3. Batuk terus-menerus.

  4. Pandangan mata berubah, seperti mata kering.

  5. Perubahan kulit, termasuk jaringan parut di bawah kulit atau kekakuan kulit.

  6. Ruam.

  7. Rona kuning pada kulit atau bagian putih mata (jaundice).

  8. Mulut kering.

  9. Luka mulut.

  10. Sakit perut.

  11. Diare.

  12. Mual.

  13. Muntah.

Kamu akan menjalani serangkaian tes dan prosedur untuk menilai kesehatan umum dan status kondisi serta untuk memastikan bahwa kamu siap secara fisik untuk transplantasi. Evaluasi dapat berlangsung beberapa hari atau lebih.

Selain itu, ahli bedah atau ahli radiologi akan menanamkan tabung tipis panjang (kateter intravena) ke dalam vena besar di dada atau leher. Kateter, sering disebut garis sentral, biasanya tetap di tempat selama perawatan. 

Tim transplantasi akan menggunakan jalur sentral untuk menanamkan sel-sel induk yang ditransplantasikan dan obat-obatan lainnya serta produk darah ke dalam tubuh. Ingin tahu lebih lanjut mengenai pemeriksaan ini, tanyakan langsung ke Halodoc.  Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Bone Marrow Transplant.
American Cancer Society. Diakses pada 2019. Stem Cell Transplant for Cancer.