• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Update Virus Corona: 227 Positif, 11 Orang Sembuh

Update Virus Corona: 227 Positif, 11 Orang Sembuh

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pada Rabu (18/3) jumlah pasien positif virus corona di Indonesia lagi-lagi bertambah. Sejak dari awal bulan Maret, kemarin tercatat sebagai penambahan kasus COVID-19 terbanyak. Sampai saat ini, sebanyak 227 kasus positif COVID-19 yang berhasil dideteksi. 

Kasus pertama virus corona di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020. Saat itu jumlahnya 2 orang. Pada Jumat (6/3), pasiennya bertambah lagi menjadi 2, dan Minggu (8/3), muncul lagi 2 kasus baru. 

Laju peningkatan virus corona di Indonesia pun makin bertambah pada hari-hari berikutnya.

  • Senin (9/3) : 13 kasus.

  • Selasa (10/3) 8 kasus.

  • Rabu (11/3): 7 kasus.

  • Jumat (13/3): 35 kasus.

  • Sabtu (14/3): 27 kasus.

  • Minggu (15/3): 21 kasus.

  • Senin (16/3): 17 kasus

  • Selasa (17/3): 38 kasus.

  • Rabu (18/3): 55 kasus.

Baca juga: WHO: Gejala Ringan Corona Bisa Dirawat di Rumah

“Sehingga pada 17 hingga 18 Maret ada penambahan kasus sebanyak 55 kasus positif. Total keseluruhan 227 kasus positif,”ujar Jubir Pemerintah untuk COVID-19 Achmad Yurianto dalam rilis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI - Sehat Negeriku! 

Lantas, di wilayah mana penambahan kasus positif COVID-19 tersebut? Menurut Yuri, sebarannya terdapat di 9 provinsi, yaitu Banten 4 kasus, Yogyakarta 1 kasus, Jakarta 30 kasus, Jawa Barat 12 kasus, Jawa Tengah 2 kasus, Sumatera Utara 1 kasus, Lampung 1 kasus, Riau 1 kasus, dan Kalimantan Timur 1 kasus. Selain itu, ada 2 kasus positif yang ditemukan dari hasil penyelidikan epidemiologi.

Perbanyak Lab untuk Mendeteksi

Selama ini tes untuk mendeteksi virus corona hanya dilakukan oleh Badan Litbangkes - Kementerian Kesehatan. Namun, kini pemerintah memperbanyak laboratorium yang mampu untuk melakukan tes virus corona. Tercatat sejauh ini terdapat 12 laboratorium tambahan. 

Pengecekan virus corona kini diperluas dengan merangkul Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP). Total ada 10 tempat di Indonesia. Di mana saja?

BBTKLPP itu terdapat di kota Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Banjarbaru, Medan, Palembang, Batam, Makassar, Manado, dan Ambon. Selain itu, ada juga laboratorium di Universitas Airlangga dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang ditunjuk pemerintah. 

Hal yang perlu dicatat, prosedur tes tak bisa dilakukan masyarakat dengan serta-merta datang ke laboratorium tersebut. Singkat kata, bukan untuk permintaan sendiri. Tesnya dilakukan atas permintaan dokter atau petugas kesehatan yang berwenang.

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Pertimbangkan Pemeriksaan Spesimen Darah

Tes yang dilakukan pemerintah untuk mendeteksi COVID-19 selama ini menggunakan apusan tenggorokan atau apusan kerongkongan. Namun, kini pemerintah mulai mengkaji metode baru, namanya rapid test atau pemeriksaan melalui spesimen darah. 

“Kami tadi rapat bersama Menteri Kesehatan dan seluruh jajarannya untuk mulai melakukan kajian terkait dengan Rapid Test,” ujar Yuri pada Konferensi Pers di Gedung BNPB, Rabu Sore (18/3).

Menurut Yuri, keuntungan metode baru ini adalah tidak perlu dilakukan di Lab Biosafety Level 2. Dengan kata lain, rapid test bisa dilaksanakan hampir di semua Lab. Kesehatan yang ada di RS di Indonesia. 

Namun, rapid test juga memiliki kekurangan. Tes ini memeriksa imunoglobulin, maka dibutuhkan reaksi imunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi corona paling tidak satu minggu.

“Karena kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu kemungkinan pembacaan imunoglobulinnya akan memberikan gambaran negatif,” jelas yuri.

Baca juga: Cara Hadapi Ancaman Virus Corona di Rumah

Imbauan Baru dari WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan imbauan baru mengenai pengobatan pasien virus corona. WHO merekomendasikan untuk tak menggunakan ibuprofen dalam penanganan orang-orang yang menunjukkan gejala COVID-19. 

Imbauan ini dikeluarkan setelah Pemerintah Prancis resmi memperingatkan, obat-obatan antiinflamasi justru dapat memperburuk efek virus pada tubuh. 

Sampai kini pakar kesehatan PBB masih mencari tahu untuk bisa memberi panduan lebih lanjut. Saat ini WHO merekomendasikan untuk menggunakan parasetamol untuk mengatasi gejala COVID-19. 

Selain itu, ada kabar baru dari negara Jepang menyoal obat virus corona. Sebuah obat yang digunakan untuk mengobati flu tampaknya efektif untuk mengobati pasien virus corona. Antivirus bernama Favipiravir atau Avigan ini menunjukkan hasil positif dalam uji klinis. Kala itu pengujuannya melibatkan 340 orang di Wuhan dan Shenzhen, Tiongkok.  

Menurut penelitian, setelah diberikan obat tersebut, pasien yang positif mengidap COVID-19, dites kembali dan hasil tes virus menunjukkan negatif. Namun, setengah pasien yang dites menunjukkan hasil negatif lebih awal, dan setengahnya lagi lebih dari empat hari. Meski begitu, obat ini kurang efektif jika diberikan pada pasien yang memiliki gejala berat. 

Yuk, pastikan sakitmu bukan karena virus corona. Bila dirimu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit.

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI - Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. Kemenkes Mulai Kaji Metode Pemeriksaan Spesimen Darah untuk Corona. 
Kementerian Kesehatan RI - Sehat Negeriku! Diakses pada 2020. Kasus Positif Covid-19 Bertambah 55, yang Sembuh 11.
The Straits Times. Diakses pada 2020. Coronavirus: Avoid taking ibuprofen for Covid-19 symptoms, says WHO.
Kompas.com. Diakses pada 2020. WHO: Hindari Konsumsi Ibuprofen untuk Obati Gejala Infeksi Virus Corona.
Kompas.com. Diakses pada 2020. Tes Virus Corona di Indonesia Bisa Dilakukan di 10 Laboratorium, Mana Saja? 
Kompas.com. Diakses pada 2020. Obat Flu Avigan Buatan Fujifilm Jepang Efektif Atasi Corona, tapi...