Waspada 5 Komplikasi dari Penyakit Peritonitis

Waspada 5 Komplikasi dari Penyakit Peritonitis

Halodoc, Jakarta – Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum, yaitu lapisan tipis dinding dalam perut yang berfungsi melindungi organ dalam rongga perut. Penyebabnya adalah infeksi bakteri atau jamur, ditandai dengan nyeri perut, perut kembung, demam, mual, muntah, penurunan nafsu makan, diare, penurunan jumlah urine, sering haus, mudah lelah, serta sulit buang air besar dan buang gas. Jika tidak segera ditangani, peritonitis menyebabkan infeksi berat pada seluruh tubuh yang bisa mengancam jiwa.

Komplikasi Peritonitis Bisa Membahayakan Nyawa

1. Dehidrasi

Gejala umum peritonitis adalah perut membengkak. Jika kondisi tersebut semakin parah dan menyebabkan perut pecah, cairan di dalamnya mengisi rongga perut dan usus. Hal ini berdampak pada hilangnya cairan dari seluruh tubuh, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi. Pada kasus yang parah, dehidrasi menyebabkan otot berkontraksi, tekanan darah menurun, napas cepat, kejang hingga hilangnya kesadaran.

2. Sepsis

Peritonitis bisa menyebar ke darah dan menyebabkan sepsis (keracunan darah) yang berpotensi mengancam nyawa. Kondisi ini terjadi saat zat kimia masuk ke dalam pembuluh darah dan memicu respons peradangan. Akibatnya, sejumlah perubahan bisa merusak berbagai sistem organ, termasuk menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

3. Ensefalopati Hepatik

Kondisi ini merujuk pada perubahan psikologis, kepribadian, dan sistem saraf pada organ yang mengalami gagal hati. Pemicu ensefalopati hepatik adalah tingginya kadar amonia dalam darah dan otak yang rentan terjadi pada pengidap peritonitis bakteri spontan (spontaneous bacterial peritonitis).

4. Sindrom Hepatorenal Progresif

Peritonitis bakterial spontan bisa memicu hepatorenal progresif, yaitu sindrom berbahaya akibat penurunan fungsi ginjal yang diinduksi oleh penyakit hati. Studi menyebut sindrom ini lebih mungkin terjadi pada seseorang yang sudah memiliki derajat insufisiensi ginjal. Sebab cedera ginjal akut bisa memperparah peritonitis yang dialami dan meningkatkan risiko terjadinya hepatorenal progresif.

5. Komplikasi Lainnya

Komplikasi lain yang perlu diwaspadai adalah terbentuknya abses atau kumpulan nanah pada rongga perut, serta perlengketan usus yang bisa menyumbat usus.

Cegah Peritonitis dengan Menjaga Kebersihan Diri

Pengobatan peritonitis bergantung dari gejala yang dialami. Namun secara umum, peritonitis ditangani dengan pemberian antibiotik, obat anti nyeri, cairan intravena melalui pembuluh darah vena, oksigen tambahan, transfusi darah hingga pembedahan. Meski bisa sembuh, peritonitis perlu dicegah menyadari bahaya komplikasi yang ditimbulkannya. Berikut upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah peritonitis:

  • Rutin membersihkan kulit di sekitar kateter dengan antiseptik kateter (bagi pengidap gagal ginjal yang sedang mendapat perawatan di rumah sakit).

  • Simpan alat-alat Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) di tempat bersih dan pelajari teknik menggunakannya dengan benar.

  • Rutin cuci tangan pakai sabun, termasuk di area bawah kuku dan sela-sela jari. Cuci tangan perlu dilakukan pada beberapa waktu penting, seperti sebelum makan, saat menyiapkan dan menyajikan makanan, setelah dari toilet, menyentuh hewan peliharaan, serta sebelum menyentuh.

Itulah komplikasi penyakit peritonitis yang perlu diwaspadai. Kalau kamu mengalami gejala peritonitis di atas, segera bicara pada dokter Halodoc untuk mencari tahu penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang!

Baca Juga: