Arti dari Tuna Rungu: Kenali Lebih Jelas

Apa Itu Tunarungu? Memahami Arti dan Penyebabnya
Tunarungu adalah kondisi medis yang merujuk pada gangguan pendengaran, baik sebagian maupun seluruhnya. Individu dengan tunarungu mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk menangkap suara atau bunyi di lingkungan sekitar. Kondisi ini seringkali memerlukan adaptasi dalam berkomunikasi, seperti penggunaan bahasa isyarat.
Istilah “tunarungu” berasal dari gabungan kata “tuna” yang berarti kurang, dan “rungu” yang merujuk pada pendengaran. Penggunaan istilah ini sering dianggap lebih formal dan sensitif dibandingkan kata “tuli” untuk menggambarkan gangguan pendengaran.
Gejala Tunarungu yang Perlu Diperhatikan
Gejala tunarungu bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan usia saat gangguan pendengaran mulai terjadi. Pada bayi, gejala dapat berupa tidak merespon suara keras atau tidak bergumam pada usia yang seharusnya. Orang dewasa mungkin kesulitan memahami percakapan di lingkungan bising, sering meminta orang lain mengulang perkataan, atau mendengarkan televisi dengan volume tinggi.
Tanda-tanda lain yang dapat mengindikasikan adanya tunarungu meliputi kesulitan membedakan nada tinggi, menarik diri dari percakapan sosial, atau merasa telinga berdenging (tinnitus). Penting untuk mengenali gejala-gejala ini agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Penyebab Umum Tunarungu
Gangguan pendengaran atau tunarungu dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yang dapat dikategorikan menjadi bawaan lahir atau didapat setelah lahir. Memahami penyebab ini penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Tunarungu Bawaan Lahir
Kondisi ini sudah ada sejak individu dilahirkan. Beberapa penyebab umum tunarungu bawaan lahir meliputi:
- Faktor Genetik: Mutasi gen tertentu dapat memengaruhi perkembangan organ pendengaran.
- Infeksi Selama Kehamilan: Paparan penyakit seperti rubella, toksoplasmosis, atau cytomegalovirus (CMV) pada ibu hamil dapat memengaruhi pendengaran janin.
- Komplikasi Saat Lahir: Lahir prematur, kekurangan oksigen saat lahir, atau berat badan lahir rendah.
- Penggunaan Obat Tertentu: Konsumsi obat-obatan ototoksik oleh ibu hamil dapat berdampak pada pendengaran bayi.
Tunarungu Setelah Lahir (Didapat)
Gangguan pendengaran jenis ini berkembang setelah kelahiran atau di kemudian hari. Beberapa penyebabnya adalah:
- Paparan Suara Keras: Pekerjaan di lingkungan bising, penggunaan headphone dengan volume tinggi, atau ledakan suara.
- Proses Penuaan: Presbikusis adalah penurunan pendengaran alami seiring bertambahnya usia, biasanya memengaruhi kedua telinga secara simetris.
- Cedera Kepala: Trauma pada kepala dapat merusak struktur telinga bagian dalam.
- Infeksi Telinga: Otitis media kronis atau infeksi serius lainnya dapat menyebabkan kerusakan permanen.
- Penyakit Tertentu: Kondisi seperti meningitis, gondok, atau penyakit autoimun.
- Obat-obatan Ototoksik: Beberapa jenis antibiotik atau obat kemoterapi dapat merusak koklea.
Diagnosis dan Penanganan Tunarungu
Diagnosis tunarungu melibatkan serangkaian tes pendengaran yang dilakukan oleh audiolog atau dokter THT. Untuk bayi, tes skrining pendengaran biasanya dilakukan tak lama setelah lahir. Pada anak-anak dan orang dewasa, tes audiometri dapat mengukur tingkat dan jenis gangguan pendengaran.
Penanganan tunarungu sangat bervariasi, tergantung pada penyebab, jenis, dan tingkat keparahan kondisi. Beberapa pilihan penanganan meliputi penggunaan alat bantu dengar, implan koklea, terapi wicara dan bahasa, serta pembelajaran bahasa isyarat.
Pencegahan Tunarungu
Meskipun beberapa jenis tunarungu tidak dapat dicegah, langkah-langkah tertentu dapat mengurangi risiko gangguan pendengaran yang didapat. Melindungi telinga dari suara keras adalah salah satu cara paling efektif.
- Hindari Paparan Suara Keras: Gunakan pelindung telinga di lingkungan bising atau saat mendengarkan musik.
- Vaksinasi Lengkap: Mencegah penyakit menular seperti campak atau gondok yang dapat menyebabkan tunarungu.
- Pemeriksaan Rutin: Skrining pendengaran secara berkala, terutama bagi individu dengan risiko tinggi.
- Kelola Penyakit Kronis: Mengontrol kondisi seperti diabetes atau tekanan darah tinggi yang dapat memengaruhi pendengaran.
Kapan Harus Ke Dokter untuk Tunarungu?
Jika merasakan adanya penurunan kualitas pendengaran, kesulitan mengikuti percakapan, atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter. Deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan kualitas hidup. Tim medis profesional di Halodoc siap membantu memberikan informasi akurat dan rekomendasi penanganan yang tepat berdasarkan kondisi kesehatan.



