11 Faktor Risiko yang Bisa Tingkatkan Terjadinya Mioma Uteri

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
11 Faktor Risiko yang Bisa Tingkatkan Terjadinya Mioma Uteri

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar keluhan kesehatan bernama mioma uteri atau fibroid rahim? Dalam dunia medis, masalah ini digambarkan dengan pertumbuhan tumor jinak di dalam atau luar rahim yang tak bersifat ganas atau kanker. Kondisi ini juga bisa disebut sebagai sel otot rahim yang tumbuh secara abnormal.

Mioma ini berasal dari sel otot polos rahim dan pada beberapa kasus juga berasal dari otot polos pembuluh darah rahim. Jumlah dan ukuran mioma bervariasi. Namun, umumnya seorang wanita yang mengidap miom memiliki lebih dari satu buah tumor di dalam rahimnya. 

Dalam kebanyakan kasus, mioma  sering ditemukan pada dinding rahim. Bentuknya menonjol ke rongga endometrium atau permukaan rahim. Yang perlu digaris bawahi, sebagian besar mioma tidak bergejala ditemukan pada wanita usia 35 tahun.

Sementara itu, sebagian kecil ditemukan secara tidak sengaja sewaktu pemeriksaan rutin pada wanita usia reproduksi atau usia subur. Mioma dapat menyebabkan keguguran dan menjadi salah satu alasan tindakan pengangkatan rahim (histerektomi). 

Baca juga: Kenali 7 Gejala yang Ditunjukkan oleh Mioma Uteri

Gegara Hormonal dan Faktor Risiko Lainnya

Faktanya, masih banyak penyakit yang sampai saat ini penyebabnya belum diketahui pasti, termasuk mioma uteri. Akan tetapi, penyakit yang satu ini cukup berkaitan dengan hormon estrogen. Hormon yang dihasilkan oleh ovarium ini bisa menyebabkan penebalan dinding rahim dalam siklus menstruasi. Nah, penebalan inilah yang bisa berkembang menjadi miom. 

Di samping itu, mioma menunjukkan pertumbuhan maksimal selama masa reproduksi, yaitu saat pengeluaran estrogen tinggi. Nah, sehingga cenderung membesar saat sedang hamil dan mengecil saat wanita memasuki masa menopause.

Selain masalah hormonal, riwayat penyakit dalam keluarga juga bisa memicu terjadinya mioma uteri. Sebab, seseorang yang memiliki anggota keluarga yang pernah mengidap mioma, berisiko lebih besar untuk mengalami penyakit ini. 

Penyebab mioma uteri tak hanya kedua hal di atas saja, sebab masih ada beberapa faktor risiko lainnya yang bisa memicu mioma. Misalnya: 

  1. Usia pengidap yang umumnya mengidap mioma pada usia 40 tahun.

  2. Keturunan, bila orangtua memiliki kondisi miom di rahim, kemungkinan kita juga bisa berisiko terserang penyakit ini.

  3. Ras Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan 2,9 kali lebih tinggi dibandingkan ras Kaukasia.

  4. Kebiasaan merokok. 

  5. Diet tinggi konsumsi daging merah, tetapi rendah sayuran hijau.

  6. Kebiasaan konsumsi minuman beralkohol.

  7. memiliki anak cenderung lebih jarang mengalami mioma).

  8. Berat badan berlebih atau obesitas.

  9. Menstruasi pertama sebelum usia 10 tahun.

  10. Belum pernah hamil sebelumnya (wanita yang sudah pernah)

  11. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal yang tinggi estrogen.

Baca juga: Alami Mioma Uteri, Inilah 6 Pilihan Pengobatannya

Kenali Gejala Mioma Uteri

Dalam kebanyakan kasus, mioma uteri biasanya tak menimbulkan gejala pada pengidapnya. Akan tetapi, terdapat beberapa gejala yang bisa dialami oleh pengidapnya. Misalnya: 

  • Menstruasi dalam jumlah banyak atau lebih lama.

  • Perut terasa penuh dan membesar.

  • Gangguan berkemih akibat ukuran miom yang menekan saluran kemih.

  • Keluarnya miom melalui leher rahim yang umumnya disertai nyeri hebat, sehingga menyebabkan luka dan terjadinya infeksi sekunder.

  • Konstipasi akibat miom menekan bagian bawah usus besar.

  • Nyeri panggul berkepanjangan dan tak kunjung sembuh, yang dapat dirasakan saat menstruasi, setelah berhubungan intim, atau saat terjadi penekanan pada panggul.

  • Penimbunan cairan di rongga perut. 

Nah, bila merasakan gejala-gejala di atas, segeralah temui dokter untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat. Ingat, jangan sepelekan penyakit ini. Dalam kasus yang jarang terjadi, mioma uteri bisa menimbulkan komplikasi. Misalnya, anemia, gangguan kesuburan, kelahiran prematur, bahkan keguguran. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!