• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 2 Jenis Vaksin Rabies yang Perlu Diketahui
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • 2 Jenis Vaksin Rabies yang Perlu Diketahui

2 Jenis Vaksin Rabies yang Perlu Diketahui

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 14 Oktober 2022

“Di Indonesia, dua jenis vaksin rabies yang bisa diberikan pada manusia, yaitu Profilaksis Pra-Pajanan (PrPP) dan Profilaksis Pasca Pajanan (PEP). PrPP diberikan sebelum terpapar virus dan untuk orang-orang yang berisiko tinggi, sedangkan PEP diberikan setelah terpapar virus.”

2 Jenis Vaksin Rabies yang Perlu Diketahui2 Jenis Vaksin Rabies yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta – Rabies merupakan penyakit virus berbahaya yang hampir selalu berakibat fatal setelah tanda-tanda atau gejala klinis muncul. Namun, penyakit ini bisa dicegah dengan mendapatkan vaksin rabies.

Vaksin rabies sebenarnya perlu diberikan baik pada hewan peliharaan maupun pada orang-orang yang berisiko tinggi terkena penyakit tersebut. Vaksin ini bisa memberikan perlindungan terhadap dampak serius yang bisa terjadi akibat rabies. Ada dua jenis vaksin rabies yang bisa diberikan untuk manusia. Yuk, ketahui pilihan vaksin tersebut di sini.

Dua Jenis Vaksin Rabies untuk Manusia

Rabies adalah penyakit virus zoonosis, yang artinya penyakit tersebut bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Di Amerika Serikat, rabies banyak ditemukan pada hewan liar, seperti kelelawar, rakun rubah, sigung, dan lain-lain. Namun, di kebanyakan negara, anjinglah hewan yang paling sering membawa virus mematikan tersebut. Rabies bisa menular ke manusia atau hewan melalui gigitan atau cakaran oleh hewan yang terinfeksi.

Virus rabies menyerang sistem saraf pusat. Bila seseorang tidak segera menerima perawatan medis yang tepat setelah terpapar rabies, virus bisa menyebabkan penyakit di otak, yang pada akhirnya mengakibatkan kematian. Itulah mengapa penting untuk mencari perawatan medis segera setelah paparan potensial, meskipun gejalanya belum muncul.

Vaksinasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah rabies. Vaksin bekerja dengan menyebabkan tubuh memproduksi perlindungannya sendiri (antibodi) terhadap virus rabies. 

Ada dua jenis vaksin rabies untuk manusia, yaitu jaringan saraf dan vaksin kultur sel. Namun, World Health Organization (WHO) sudah merekomendasikan vaksin jaringan saraf untuk diganti dengan vaksin kultur sel yang lebih manjur dan aman.

Di Amerika Serikat, ada dua vaksin rabies kultur sel yang umum digunakan, yaitu:

1. Vaksin HDCV (Imovax), yang diproduksi dalam kultur sel diploid manusia.

2. Vaksin PCECV (RabAvert), yang diproduksi dalam kultur sel embrio ayam. 

Nah, kedua jenis ini dinilai aman dan efektif.

Sedangkan di Indonesia sendiri, lebih sering menggunakan dua pilihan vaksin berikut:

1. Vaksin rabies PrPP

Ini adalah vaksinasi pencegahan sebelum paparan virus rabies. PrPP biasanya diberikan kepada orang yang dianggap berisiko tinggi terpapar, misalnya petugas pengawas hewan, dokter hewan, atau orang yang tinggal di atau bepergian ke daerah endemis rabies. 

Vaksin PrPP booster secara berkala juga direkomendasikan untuk pencegahan ekstra, untuk orang-orang yang pekerjaannya menempatkan mereka pada risiko tinggi terpapar rabies.

2. Vaksin rabies PEP

Ini adalah vaksinasi untuk menghentikan timbulnya rabies setelah terpapar virus. Pemberian vaksin ini bertujuan untuk melindungi tubuh setelah terkena gigitan binatang. PEP terdiri dari suntikan antibodi terhadap virus rabies (human rabies immune globulin atau HRIG), ke dalam luka dan vaksin rabies yang diberikan pada hari terpapar virus, kemudian dosis vaksin lanjutan diberikan lagi pada hari ke 3, 7, dan 14. 

Namun, rekomendasi untuk pemberian vaksin PEP juga tergantung pada jenis kontak dengan hewan yang dicurigai terinfeksi rabies:

  • Kategori I : menyentuh atau memberi makan hewan dan menjilati kulit yang tidak terluka. Ini tidak diperlukan tindakan pencegahan.
  • Kategori II: kulit yang tergigit mengakibatkan goresan kecil atau lecet tanpa perdarahan. Ketika inti terjadi vaksinasi perlu diberikan segera serta perawatan luka lokal.
  • Kategori III: gigitan yang disertai dengan jilatan pada kulit yang terluka. Besar kemungkinan ketika ini terjadi adanya kontaminasi selaput lendir dengan air liur dari jilatan. Untuk itu vaksinasi, pemberian imunoglobulin rabies dan perawatan luka lokal perlu dilakukan.

Itulah jenis-jenis vaksin rabies untuk manusia. Perlu diketahui juga bahwa masa inkubasi penyakit tersebut biasanya 2-3 bulan, tapi juga bisa bervariasi dari 1 minggu hingga 1 tahun. Bila kamu pernah digigit atau dicakar oleh hewan yang dicurigai terinfeksi rabies, waspadalah dengan gejala seperti demam dengan rasa sakit dan kesemutan yang tidak biasa, menusuk, atau sensasi terbakar di lokasi luka. Sebaiknya segera periksakan diri ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secepatnya. 

Kamu bisa memeriksakan kesehatanmu ke dokter dengan buat janji di rumah sakit pilihan kamu di aplikasi Halodoc. Kamu juga bisa memilih dokter dan waktu kunjungan sesuai kebutuhan. Download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Referensi: 
World Health Organization. Diakses pada 2022. Rabies Vaccine.
Immunize.org. Diakses pada 2022. Immunization Action Coalition.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Rabies Postexposure Prophylaxis (PEP)